Kemaren, saya ke Gramedia. Trus, deretan yang pertama saya kunjungi adalah deretan novelnya Om Tere. Saya bingung mau beli yang mana?
Saya pun bingung. "Moga Bunda disayang ALLAH atau Sepotong hati yang baru?" saya pun bertanya dalam hati. Setelah lama memilih, pegang ini-pegang itu. Liat ini-liat itu. Akhirnya bertemulah saya dengan seorang wanita berjilbab, namanya Mbak Yuni, dia anak MIPA Kimia di UNIB. "Eh kebetulan Mbak, saya juga Kuliah di UNIB, salam kenal mbak," ucap ku. Akhirnya kami pun berkenalan, setelah itu saya minta pendapat sama Mbak Yuni ini, yg kebetulan juga penggemar Darwis Tere Liye. "Yang ini aja Dek" ucap Mbak Yuni.
Akhirnya saya memilih buku ini. Taraaa....
Saya suka sekali dengan covernya "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin", kata-kata itu dalam banget bagi saya. Setelah membacanya, saya sempat nangis beberapa kali. Buang ingus beberapa kali. Hahaha saya kalo baca novel emang begitu, terlalu menghayati. Kata-kata yang paling saya sukai dalam novel ini adalah "Ketika kau kehilangan semangat, ingatlah kata-kata ku dulu. Kehidupan ini seperti daun yang jatuh... Biarkan angin yang menerbangkannya..."
Hum, saya ingin seperti Om Tere, menulis dan menjadi penulis terkenal. Aku sih suka banget dengan yang namanya "Menulis". Aku punya beberapa tulisan, pengennya diantara "Beberapa tulisan yang kusam" itu ada penerbit yang menyukainya. Dan akhirnya, saya bisa cari duit sendiri (Ya jadi penulis). Hahha rasanya terlalu tinggi khayala ku. Toh bukannya "Impian itu berawal dari mimpi?". Apa salahnya jika aku menghayal sekian tingginya, berharap jadi penulis dan bisa menghajikan Mak dan Abak. "Came one Dwi, You can do it. Bravo... Bravo Dwi."
Sekarang saya sedang senang-senangnya menggeluguti hobby yang satu ini (Menulis). Kadang tulisannya nggak jelas, kadang nggak berbobot, kadang nggak tau banget alurnya gimana (Yang bacakan cuma saya saja, jadi yang memberi komentar pun saya juga, hehehe).
Yang penting harus optimis, bahwa suatu saat nanti "Saya akan menjadi penulis, meskipun nggak bisa terkenal, setidaknya saya bisa menulis untuk diri saya sendiri dan setidaknya juga saya bisa membuat cerita Fable ataupun Farrytale untuk anak saya suatu saat nanti."
Ingat pepatah lama "Where there's a will, ther's a way." Optimis :)






Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus