Haulia Dwi Putri

Goresan Pena Kehidupan

Bunda Dengarlah...



Bunda, Dengarlah...


            Aku enggan untuk berbicara, enggan untuk mengucapkan beberapa kata, enggan. Bahkan aku enggan hanya untuk bilang “Iya” atau pun “Tidak”. Bahkan untuk menggeleng atau mengangguk saja aku enggan. Bahkan bintang pun enggan untuk mencoret dinding langit yang hitam pekat diatas sana. Entah kenapa? Aku pun tak tau kenapa bintang bisa senada dengan ku pada malam ini. Entah lah, mungkin saja kode alam. Mungkin.

            Tapi, tak akan ku tunjukkan ke engganan ku itu pada si Dia, tak pernah dan tak akan pernah.  Sedikit pun tak akan pernah, tak akan pernah, Bunda. Aku hanya bisa merunduk  sambil melihat taplak meja yang disulam Bunda ketika umur ku lima tahun. Bunga yang merah menghias indah ditaplak meja berwarna kuning muda. Benang wol yang hijau juga ikut mewarnai indahnya dedaunan di taplak meja itu. Tapi, tak seindah sesuatu yang sedang menghias dilubuk hati ku yang paling dalam. Diujung yang sempit, dicelah yang paling dalam, disudut yang terasa ingin bergemuruh, entah bagaimana bentuknya didalam hati ku, hanya bisa ku rasakan bahwa disudut itu, diujung itu, dicelah itu, ada sesuatu yang terasa mengganjal. Sesak.

            Malam semakin larut (Bukan larut sih, hanya saja aku ingin segera tertidur), tapi suasananya masih terasa pagi untuk Bunda, Ayah dan si Dia. Oh Bunda sungguh aku tak ingin duduk mematung disini. Tersenyum manis ketika ditanya, mengangguk sedikit dan terlihat anggun ketika “mengiyakan,” , duduk manis bak Putri Cinderella yang sering ku tonton ketika masih SD. Oh Bunda, ingin sekali ku mengatakan seperti ini “Bunda, boleh kah anak mu pergi ke kamar? Istirahat sebentar saja. Ingin segera bermimpi bahwa malam ini, diruang tamu ini, tentang si Dia, dan semua ini hanya mimpi.”  Bunda, apakah kau mendengar ku atau bisakah kau melihat dari raut wajah ku bahwa aku tak ingin berada disini? Bunda.

            Aku ingin menguap, tapi ku tahan saja. Aku ingin menutup mata ku (Karena ngantuk) tapi ku tahan saja demi Bunda. Duhai taplak meja, aku ingin menjadi dirimu, berteman dengan meja, selalu. Tak pernah marah ataupun kesal jika meja lama diganti dengan meja baru. Kau akan beradaptasi dengan meja yang baru, kau akan terlihat cantik dengan bunga-bunga indah yang menghiasi mu. Kau juga tidak akan protes jika suatu hari nanti kau akan dipindahkan ke meja yang lain. Dan kau juga tak akan pernah protes jika kau disimpan digudang tua (Alias tidak dipakaikan lagi).

            Aku ingin menjadi mu, menjadi “Benda”, benda apa saja. Tapi bukan benda yang hidup. Aku ingin tuli, aku ingin bisu, aku ingin buta, hanya malam ini saja, hanya saat ini saja, hanya beberapa jam saja, hanya sampai si Dia pergi meninggalkan rumah ini. Agar aku tak mendengar kata-kata itu, agar aku tak bisa melihat wajah tulus itu, agar aku tak bisa berkata “Iya” atau pun “Tidak”. Tuhan, ku mohon.


            Ceritanya semakin seru (tapi tidak bagiku). Semakin hangat (sama sekali tidak). Aku hanya berusaha bersikap manis dan sopan. Mata ku terpaku pada bunga merah yang menghias ditaplak meja. Merah yang berbeda dengan bunga-bunga yang lain.Lucu sekali. Aku masih ingat, dulu aku bersikeras ingin menyulam bunga-bunga itu seperti yang Bunda lakukan. Tapi, Bunda malah lebih keras dari ku. Hanya saja caranya yang diperhalus. Bunda tak ingin menyuruh ku menyulam. “Jangan, tangan mu masih kecil sayang. Nanti, kalo tertusuk jarum, kan sakit.” Ketika Bunda pergi ke dapur sebentar, aku malah melanggar pesan Bunda. Aku mencoba menyulam seperti yang Bunda lakukan. Satu bunga merah yang cantik dan lucu telah menghiasi taplak meja. Dua, tiga, empat, lima, lama-lama semakin seru. Hingga aku lupa karena keasyikan. “Aduh,” bunga ke enam menjadi penutupannya. “Tu kan, Bunda bilang apa.” Karena itulah kenapa salah satu bunga ditaplak meja itu berwarna seperti darah.

            Kali ini aku juga tak ingin melakukan kesalahan yang sama. Aku juga tak ingin melanggar perintah Bunda. Aku takut, aku takut terluka lagi seperti tujuh belas tahun yang silam. Saat menyulam bunga. Aku tak ingin, Bunda. Tapi, Bunda... sulit untuk ku jelaskan. Sulit, Bunda.
***
            Pembicaraan malam itu berlanjut. Malam ini si Dia datang lagi. Malam ini terlihat berbeda sekali, lebih rapi, lebih ganteng, lebih wibawa dan lebih membuat ku merasa takut. Lebih lagi, kali ini si Dia tidak datang sendiri tapi dengan pasukan yang ditambah. Wanita yang sebaya dengan Bunda, dan laki-laki tua yang lebih tua dua-tiga tahun dari Ayah juga hadir dan itu membuat ku lebih merasa takut. “Bunda, aku semakin takut.” Mobil mengkilap keluaran terbaru memarkir digerbang depan yang sempit. “Bunda dengarlah, Aku langit dan Dia bumi,” Bunda lihat aku, tatap mata ku, aku tak ingin dengannya, tak ingin, Bunda.



            Bunda mengedip ku, seolah-olah berkata “Cepat ambikan minum.” Aku segera kedapur, membuatkan teh panas sebanyak enam gelas. Aku menguping sedikit saat memasuki ruang tamu. Topiknya masih sama, tentang “Pesta”, tentang kebahagiaan, tentang masa depan, tentang... Ah aku malas memikirkannya.



            “Braaaaak.” Hati ku bergemuruh seperti halilintar, pecah seperti gelas yang jatuh dari lantai gedung paling tinggi, hancur seperti kapal Titanic dibekuan lautan es yang dingin. “Bunda, tidakkah kau tanya dulu, apakah aku mau ataupun tidak?” Secepat itukah, Bunda. Umurku 21 tahun, aku masih ingin menonton kartun sebelum berangkat kuliah, membacakan komik jepang, merengek manja pada Bunda, menangis sambil mengadu pada Ayah jika Bunda memarahi ku. Bunda, kuliah ku 2 bulan lagi, 22 januari aku akan ulang tahun ke 22. Belum siap, Bunda. Belum. Telur dadar, nasi goreng, aku akan merindukan itu setiap hari, tanpa Bunda, tanpa Ayah. Apa Bunda tega? Dengarlah Bunda.


***


            Minggu, 20 januari. Status ku berubah. Menikah.
Aku menuruti segala permintaan Bunda. Karena aku anak semata wayang yang Bunda punya. Aku tak ingin mebuat Ayah dan Bunda kecewa. “Bunda, aku tau, ini yang terbaik.” Sebelum ijab kabul dimulai, hanya aku dan Bunda yang berada dikamar pengantin, indah sekali. Aku berbicara empat mata dengan Bunda. Menjelaskan segala isi hati ku.
“Bunda, dengarlah. Aku sayang Bunda dan Ayah. Sayang tak ada duanya. Bunda, mau kah Bunda mendengarku? Beberapa menit saja.”
“Tapi, acaranya udah mau dimulai sayang.”
“Hanya sebentar Bunda.”
“Bunda, Bunda tau tidak. Dulu ada laki-laki, dia teman SD ku. Enam tahun kami tidak bertemu. Tapi, Tuhan membuat segala menjadi indah. Ketika aku menjadi mahasiswi, ternyata dia kakak senior satu tahun diatas ku. Aku pun penasaran, kenapa dia bisa menjadi kakak senior ku, padahal kami sekelas waktu SD. Dan hal itu terbongkar hanya beberapa hari saja, dia anak yang pintar, waktu SMP dia loncat kelas satu tahun. Dia sangat tampan, sangat pintar, sangat baik. Dia menyukai ku, Bunda. Tapi, setelah lama kemudian dia menghilang lagi. Aku kehilangannya, Bunda. Sebelum dia menghilang dari hidupku, dia pernah berkata suatu hal “Dia akan datang lagi ketika umur ku 22 tahun. Tepat pada tanggal 22 januari. Aku rasa itu tak akan terjadi, Bunda. Karena hari ini aku akan menikah dengan laki-laki yang tak ku inginkan. Tapi demi Bunda, aku menurutinya. Aku akan berusaha mencintainya, meskipun wajahnya bagai monster.”

            Bunda memelukku sambil menangis. Air mata ku, ku tahan saja. Karena takut, bedakku akan berantakan di acara pernikahan ku.

            Ijab kabul dimulai.
Aku duduk disamping laki-laki yang wajahnya sangat menyeramkan. Bunda bilang, wajahnya hancur ketika kecelekaan. Untung saja, Tuhan masih menyayanginya hingga dia bisa hidup sampai saat ini.



***
Hari ini, 22 januari. Ulang tahun ke 22 ku.
Suamiku, membangunkan ku pada jam 00.00 WIB. Membawakan kue ulang tahun dan kartu ucapan. Ada sebuah kado ditangan kirinya yang disembunyikan dibelakang punggungnya.
“Selamat ulang tahun istriku,” ucapnya. Aku hanya tersenyum sedikit sambil mengusap kedua mataku karena masih ngantuk. Juga, aku tidak ingin menikmati ulang tahun bersamanya. Aku ingin menikmati umur 22 ku dengan teman SD ku, dulu. Huh, aku meniup lilinnya. Sebelum meniup lilin, aku harus mengucapkan do’a tapi harus dengan suara yang keras, itu permintaan suami ku. Berat memang, mengucapkan suatu permintaan didepan suami dan permintaan itu mungkin akan membuatnya merasa sakit. Dengan berat hati dan rasa takut, aku mengucapkan permintaan ku “Aku ingin bertemu teman SD ku, memeluknya, menciumnya, dan bercerita panjang dengannya.”  Suami ku hanya tersenyum kemudian memberikan kado ulang tahun pada ku.  Aku membukakan kadonya tanpa rasa penasaran atau bahagia sedikit pun. Oh Tuhan, betapa kagetnya aku. “Foto itu,” kenapa dia memberikan foto teman SD ku, kenapa foto saat masih SD pun dia tau?. Aku bingung sendiri sambil menggelengkan kepala.

            Akhirnya, dia menjelaskan semuanya.
Oh Tuhan, orang yang ku cari selama ini adalah suami ku sendiri. Kenapa Dia menghilang? Karena dia takut membuat ku sedih. Kenapa dia tak pernah memberikan kabar? Karena takut, aku akan bertemu dengannya dan melihat wajah monsternya. Kenapa dia hadir lagi? Karena dia ingin mengobati rindu ku.



“Bunda, dengarlah. Terimakasih telah memilih orang yang tepat untuk ku. Terimakasih telah mempertemukan aku dengan dia yang ku cari-cari selama ini. Bunda, dengarlah, aku akan mencintainya. Meskipun dia tak setampan dulu, tak segagah aktor yang ada dikomik jepang, tak sesempurna dulu tapi aku akan tetap mencintainya, meskipun wajahnya sekarang seperti monster. Bunda, dengarlah...”

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Hallo... Perkenalkan, saya Haulia Dwi Putri, konsultan JAFRA Bengkulu. Aku akan membantu kamu menemukan solusi atas permasalahan kulitmu. Silahkan konsultasi dulu sebelum mebeli produk JAFRA yah? Konsultasinya GRATIS. More info : BBM : 7F7EA6CB WA : 087745074419

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates