Haulia Dwi Putri

Goresan Pena Kehidupan

Mengagumi Seseorang

   Hujan membasahi kota Bengkulu, dingin. Rintiknya seakan bernyanyi. "Tik tik ti..k" membentuk sebuah nada, nada yang tak asing lagi. Semakin jelas terdengar, suara riaknya, suara rintiknya, suara gemerciknya, mengusik telinga. Lalu beberapa saat, berhenti. Lama, lama sekali.

   Aku pun seakan dibuat penasaran olehnya. "Dimanakah rintik itu? Apa cuma mampir sebentar?" Hum beberapa menit kemudian, tak sengaja kupandangi kaca jendela yang belum ku tutup. Jadi ingat beberapa tahun yang lalu. Tepatnya tiga tahun yang lalu. Ketika umur ku 15 tahun, ketika rambutku sering dikepang dua, ketika masih lugu, polos, polos sekali.

   Waktu itu, aku sangat suka sekali dengan yang namanya "Hujan." Duduk dikaca jendela sambil memandangi rintik-rintiknya yang jatuh. Akupun sering bermain dengannya, menagkapnya (Meskipun aku tak pernah bisa), menggenggamnya (Meskipun tak bisa ku genggam). Bahkan aku sempat menangis, entah apa yang ku tangisi (Aku orang yang mudah terharu, jadi gampang sekali untuk menangis). Lalu segera menghapusnya agar tidak ada yang tau.

  " Pernahkah kalian merasakan masa-masa tersulit dalam hidup?"
Mungkin banyak yang akan menjawab "Pernah." Gadis belia, masih remaja, merasakan hal tersulit dalam hidupnya. "Mengagumi seseorang dan Jatuh Cinta." Mungkin karena "Dia" juga, aku bahkan "Enggan" untuk jatuh cinta pada siapa saja, bahkan takkan pernah lagi aku merasakan hal itu, takkan pernah. Sampai akan ada seseorang yang bersedia menjadi "Imam" Ku (Janji ku).

   "Pernahkah kalian berharap?"
Tentu saja pernah. "Tapi berharap yang tidak mungkin, tidak akan mungkin dan takkan mungkin terjadi."
Hahaha mungkin waktu itu aku terlalu muda, umurku baru 15 tahun, rambut ku masih dikepang dua, masih terlalu kecil baginya.

   "Pernahkah kalian melakukan hal bodoh?"
Hahha mungkin banyak yang menjawab "Tidak." Tapi aku "Selalu."

Berjalan sambil membawa payung, hujan-hujanan, hanya demi ingin melihat seseorang yang barangkali akan lewat dijalan itu, berharap "Dia" melihat ku lalu tersenyum. Setidaknya bisa menyapa "Hai." Bodoh kan?

Berjam-jam dikomputer, berjam-jam didepan Hp, bahkan seharian. Hanya ingin melihat status "Dia" di salah satu jejaring sosial, menyukai statusnya, hanya itu. Nggak berani memberi komentar (Penakut). Trus, update status tentangnya, entah dia baca ataupun tidak, yang penting Update, berkali-kali dalam sehari, nggak jelas.

Mengirimkan pesan singkat sebelum tidur "Good Night, n have a nice dream", "Selamat tidur ya? Moga mimpi indah," "Indahkan mimpi mu," dan bla-bla-bla. Berharap "Dia" akan membalasnya, menunggu balasannya, meskipun lamaaaa sekali. Tidak akan tidur sebelum Hp berdering.

Berharap bertemu dengannya. Melihat senyumnya, matanya, wajahnya, meskipun harus menunggu sekian lamanya dan meskipun "Dia" nggak akan datang. "Bodoh, bodohnya aku."

    Tiga tahun lamanya aku seperti itu. Tak pernah berubah, tak pernah berhenti berharap. Sampai suatu saat "Hujan" itu turun lagi. Deras, sangat deras. Membasahi sekujur tubuhku, beku, membekukan segenap rasa. Hampa, aku hampa.

    Aku berharap "Semuanya akan baik-baik saja" sama seperti yang dikatakannya. Ku berharap tidak akan ada lagi "Hujan", meskipun ada, ku harap akan tumbuh pelangi yang indah setelah itu. Tapi apa? Yang ada hanya badai, badai. Badai itu menghancurkan semuanya, hancur, berantakan, musnah.

    Ah, aku malas sekali bercerita panjang tentang itu, terlalu menyakitkan. Aku memang tidak secantik itu, bahkan takkan pernah dan takkan pernah. Tapi, apakah selama ini aku kurang baik? Apkah aku pernah jahat? Menyakitimu? Membuat mu terluka? dan lain sebagainya? Tak pernah, kurasa tak pernah.

   Tapi, aku sangat berterimakasih karena telah hadir dalam cerita ku. Sehingga kau membuat ku Fhobia dengan kata "Love", fhobia, sangat. Aku benci dengan kata-kata itu, benci sekali. Bahkan aku juga ingin berterimakasih, kau telah membuat ku "Berubah." Berubah untuk tidak mengingat mu lagi (Aku mencobanya selama 1 tahun, serius. Bahkan aku menghapus semua tentang mu, semuanya). Berubah untuk menjadi pribadi yang kuat, sabar, dan bertahan. Berubah untuk selalu memperbaiki diri. Berubah untuk selalu menjadi lebih baik.

   Untuk mu yang pernah ku kagumi. "Berbahagialah dimanapun engkau berada. Entah dengan siapa dan dimana. Yakinlah, aku selalu berdoa untuk mu."

  "Kau telah ku hapus, telah ku buang jauh, jauuuh sekali."
Selamat tinggal segenap rasa.




One thoughts on “Mengagumi Seseorang

  1. waaaah cik, aku baru tau kalau cik suko ngeblog jugo :D aku juga pernah ngerasaaaa cik, tapi dulu :D

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Hallo... Perkenalkan, saya Haulia Dwi Putri, konsultan JAFRA Bengkulu. Aku akan membantu kamu menemukan solusi atas permasalahan kulitmu. Silahkan konsultasi dulu sebelum mebeli produk JAFRA yah? Konsultasinya GRATIS. More info : BBM : 7F7EA6CB WA : 087745074419

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates