Malam semakin sunyi, jangkrik-jangkrik udah mulai berisik, tapi suara TV dilantai bawah masih terdengar, syukurlah karena nggak akan ada yang mendengar bahwa saat ini aku sedang menangis. Bukan lagi galau karena pacar (Toh saya nggak punya pacar), lalu karena apa?
Hum, karena seseorang. Seorang Ibu yang pernah mengajarkan ku tentang banyak hal. Apalagi tentang Matematika. Dulu, sekitar 10 tahun yang lalu, wanita yang terlihat ganas, pemarah, masuk ke kelas ku. Membawa beberapa buku yang bersampul "Matematika" lengkap dengan alat tulis dan tak lupa pula membawa rol panjang. Akupun mulai menerka-nerka tentang rol panjang itu? Kira-kira utk apa? Menggaris? Loh, bukannya papan tulis kita digaris permanen? Penggaris buku? Kok panjang sekali. Belajar mengenai bangun datar? Kan kita belum belajar itu. Eh ternyata rol panjang itu adalah hukuman untuk kami. "Jika dikasih latihan, kami salahnya satu, maka dapat pukulan satu kali dari rol panjang itu. Enaklah yang dapat 1, kalo dapat 10? Kita bisa bayangkan sendiri gimana rasanya." Kami didik dengan cara yang otoriter. Keras, tegas, cepat, ligat dan tidak ada kata terlambat.
Waktu itu, umurku masih 8 tahun. Rambutku masih dikepang dua, seragamnya masih putih merah. Roknya masih pendek selutut, sepatunya hitam, pake kaus kaki panjang, ranselnya lucu, lucu sekali. Buku-bukunya masih bersampul barbie, princess, doraemon, dan kawan kawan. Uang jajannya masih selembar si Pattimura (Seribu rupiah) cukuplah sampe jam 12 siang. Tau tidak, umur segitu aku dan yang lainnya telah diajar dengan satu prinsip "Cepat, ligat, tepat" tidak ada istilah "Biar lambat asal selamat, tidak lari gunung dikejar." Katanya, "Bukan gunung yang harus lari, tapi kita yang harus lari menuju gunung itu." Waktu itu, aku masih belum paham dengan pribahasa itu, tapi setelah aku remaja, aku baru menyadari apa maksud dari pribahasa tersebut.
Aku menyukai matematika karena Ibuk (Guru SD ku), suka sekali. Pelajaran yang paling aku sukai waktu SD adalah belajar pecahan, KPK, FPB, bangun ruang, pembagian cepat, perkalian cepat. Aku masih ingat sekali dengan rumus ini "Ka Ba Ta Ku", waktu aku kecil ada Film Robot Jepang, nama robotnya "Kabataku." Katanya "Kalo kita melakukan perhitungan (Apa saja, bisa penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian) yang didahului adalah "Ka(Kali) Ba(Bagi) Ta(Tambah) Ku(Kurang)." Aku selalu memakai rumus itu hingga sekarang.
Ibuk juga mengajarkan banyak hal. Misalnya, bagaimana cara bersopan santun, bagaimana cara berinteraksi dengan hal-hal yang baru, bagaiman berfikir kreatif, bagaimana untuk selalu menjadi lebih baik. Aku masih ingat sekali, waktu itu ada Olimpiade di SD percontohan. Aku lupa bahwa hari itu kami harus berangkat. Bahkan, aku terlambat datang kesekolah. Kancing baju ku hilang satu (Mungkin copot karena tergesa-gesa), Ibuk yang menjahit kembali kancing baju itu, menyisir rambut ku kemudian dikepang dua, mengoleskan sedikit bedak diwajah ku, menyemir sepatu ku, entah kenapa aku berantakan sekali hari itu, mungkin semalam aku keasyikan nonton sinetron "Bidadari", sinetron favorit ku waktu kecil, pemeran utamanya Marshanda dan akhirnya kesiangan.
Mungkin diantara murid yang lain, akulah yang sering datang kerumah Ibuk. "Buk, ini gimana? Dijumlahkan dulu kan? Kalo ini gimana Buk? Bisa nggak pake cara ini? atau pake cara yg itu aja?" hahaha aku sangat kepo sekali waktu kecil. Suka bertanya, sering penasaran. Ibuk hanya senyum-senyum aja sambil mengelus kepalaku. Trus duduk disamping ku, meminjam pensil yang sedang ku pegang dan mulai menjelaskan. Aku suka, karena cara penyelesaiannya cepat.
Anak-anak ibuk, semuanya merantau. Suami Ibuk udah lama meninggal. Dirumah, Ibuk hanya sendiri. Pas pulang sekolah, kami selalu diajak main kerumah. Memanjat pohon belimbing yang berada dibelakang rumah. Memanjat pohon jambu air yang berada digerbang depan. Trus disuruh makan, "Jangan lupa nyuci piring ya Nak" kami semua tertawa. Main kejar-kejaran, main petak umpet dirumah ibuk (Karena rumah ibuk luas, kamarnya banyak yang kosong, tempat untuk bersembunyi pun banyak sekali).Hahahha terlalu indah masa kecil itu.
Ketika aku SMA, pas pergi sekolah, selalu menyapa Ibuk dipintu pagar rumah Ibuk. Wajah ibuk udah semakin keriput, punggung Ibuk udah nggak seperti 10 tahun yang lalu lagi. Mungkin jika disuruh memukul pake rol panjang pun nggak kuat lagi. Tapi, senyum tulusnya, wajah tulusnya, masih sama seperti 10 tahun yang lalu. Ibuk yang paling sering bertanya "Semester ini dapat peringkat berapa? Kalo semester kemaren peringkat berapa? Berapa nilai Matematika mu? Masih suka kan dengan Matematika?" pertanyaan itu yang selalu membuat ku bersemangat. "Masih ingat kan cara berhitung cepat? Masih pake prinsip "Cepat, Ligat, Tepat" kan?" Aku hanya tersenyum kemudian tertawa karena Ibuk terlalu bersemangat.
Ketika aku kuliyah, pertanyaan yang bersemangat itu pun kembali muncul. "Berapa nilai NEM mu? Nilai matematikamu berapa? Kuliyahnya dimana? Jurusan apa?" Pas aku bilang, aku kuliyah dibengkulu jurusanku Pendidikan Kimia. "Loh kenapa nggak ambil Matematika? Bukannya waktu SD, anak Ibuk yang satu ini pecinta Matematika?" Iya Buk, kan Kimia itu ada matematikanya juga Buk, jadi matematikanya nggak hilang kok, "Cepat, Ligat, Tepat" masih ada disini (Sambil menunjuk kepala).
Terakhir ketemu pas aku mau berangkat, meninggalkan kampung halaman, Kerinci tercinta. Ibuk memelukku, erat sekali. Bukan seperti pelukan guru terhadap muridnya, tapi seperti pelukan Ibu dengan anaknya. Pesannya "Tetap
selalu seperti ini, tetap selalu jadi anak ibuk seperti 10 tahun yang
lalu, yang selalu rajin bikin PR, yg selalu senang ketika disuruh mengerjakan soal matematika yang rumit, yang cerdas, baik, patuh sama
orang tua. Jangan nakal, jangan mudah trpengaruh dg keadaan yg negatif
yg disana. Kuliyah yg bener, ingat sama
orang tua di Kerinci." Setelah itu, mencium kedua pipi ku, seperti cucu
sendiri. Kemudian suaranya sedikit serak (Mungkin pengen nangis).
Menepuk-nepuk bahu kanan ku. Trus mengusap kepala ku. Trus menggepalkan
kedua tangannya sambil berkata "Semangat Anak Ibuk." Trus mengeluarkan
dompetnya dan memberikan 20 ribu rupiah untukku. Katanya untuk jajan.
Ternyata itu pesan terakhir dari Ibuk. Buk, moga tenang disana. Nanti, anak ibuk yang pecinta matematika ini akan membuat ibuk bangga disurga. Kelak, anak Ibuk ini akan membuktikan bahwa apa yang Ibuk ajar selama ini, bisa bermanfaat untuk orang lain.
Dwi selalu mendoakan Ibuk.
Sepuluh tahun yang lalu. Ibuk pernah mengajarkan anak ini tentang banyak hal. Apalgi tentang matematika, banyak. Yang sering ibuk cubit hidungnya, yang sering Ibuk elus rambutnya, yang sering Ibuk betulin ikat rambutnya. Buk, anak Ibuk ini udah besar sekarang. Udah dewasa, nggak seperti dulu lagi. Yang selalu nangis karena dpat nilai 8, yang ngotot untuk selalu dapat 10 plus, yang akan ngambek karena cuma dapat 10. Tapi, sekarang masih seperti itu Buk. Akan sedih karena nilai ulangan jelek.
Makasih Buk atas jasa-jasanya. You are my best teacher. You like My Mom, You like My parent. See you good bye, may ALLAH bless you. I will pray for you.



