Haulia Dwi Putri

Goresan Pena Kehidupan

Aku Bukan Tokoh Figuran


MENUNGGU
Mataku terpaku pada warna senja yang berwarna jingga. Burung-burung kembali ke tempat peristirahatannya. Burung-burung pun ikut menghiasi indahnya langit disore ini. Langit telah mengubah warnanya, lukisan alam terhias dikaki langit. Senja mulai menghiasi, sang surya pun telah siap untuk menyembunyikan diri sejenak dari hamparan langit. Sang surya telah beralih posisi dari ufuk yang jauh di timur menuju ufuk yang jauh di barat. Ufuk barat dan ufuk timur tak pernah lelah menunggu sang surya hadir kembali menghampirinya. Ufuk-ufuk itu selalu setia menunggu sampai pagi dan malam menjemputnya. Sama halnya dengan diriku, telah sejam ku duduk didepan teras rumah ku untuk menunggu orang yang sangat ku cintai yang mungkin sedang asyik dengan seribu tumpukan kertas di meja kerjanya. Mereka adalah Mama dan Papa ku. Orang tua yang super sibuk, yang kurasa tak pernah mau peduli dengan ku. Aku sengaja menunggu Mama dan Papa pulang dari kantor yang ditemani sama Pak Jon. Pak Jon adalah supir pribadi keluarga ku, beliau telah lama bekerja disini. Aku lebih sering ditemani sama Pak Jon daripada sama Papa dan Mama, saking seringnya ada yang bilang kalo aku adalah anak supir. Uhh menyebalkan.
                Azan magrib telah berkumandang diseluruh penjuru kota Jakarta, Mama dan Papa juga belum pulang. Udara dingin yang menusuk kulit ari ku seolah-olah ingin membawa ku pergi dari tempat itu. Akhirnya aku kalah dari angin dan suara azan yang terdengar seirama. Aku dan Pak Jon masuk kedalam kemudian langsung berwudu’ dan mengerjakan ibadah yang sangat wajib bagi agama ku. Aku banyak belajar dari Pak Jon dan aku sangat berterima kasih sama Pak Jon. Karena Pak Jon telah mengajarkan ku tentang banyak hal. Pak Jon juga yang mengajarkan ku berwudu’, solat, ngaji,  Pak Jon juga yang telah mengajarkan ku untuk bersabar dan menjadi anak yang kuat. Pak Jon juga yang setia menemani ku jika Mama dan Papa nggak ada dirumah.
                Setelah magrib usai aku berdiri diambang pintu sambil memegang buku yang sangat membuat ku bangga. Buku yang penuh dengan jerih payah ku. Ku buka lagi buku itu yang telah ku baca berkali-kali dari tadi. Jari telunjuk ku mulai mengikuti huruf demi huruf, angka demi angka, ku lihat angka-angka yang sedang tersenyum lebar pada ku, seolah-olah angka-angka tersebut menyatakan kebanggaannya pada ku. Inilah raport pertama ku. Ingin ku tunjukkan pada                 Mama dan Papa bahwa hari ini aku telah membawa nama mereka setinggi bintang diangkasa raya. Tapi , dihari yang bahagia ini aku hanya menikmati kebanggaan itu sendiri tanpa Mama dan Papa. Ada rasa sedikit sedih ketika melihat teman-teman ku bergandengan dengan kedua orang tua mereka disekolah. Aku iri pada mereka, kenapa Mama dan Papa nggak datang ke sekolah, padahal ini adalah raport pertama ku di Sekolah Dasar. Aku nggak berani protes dan juga nggak berani untuk membentak.
                   Pak Jon yang datang menghampiri ku secara tiba-tiba mengagetkan ku dari lamunan tentang kejadian disekolah tadi.
                   “Tuan.. kok tuan ada disini, diluar dingin tuan, nanti tuan sakit, masuk yuk.”
                   Pak Jon berusaha membujuk ku, ku perhatikan wajahnya yang mulai kelihatan keriput, rambut putih mulai menghiasi disetiap sisi kepalanya mengingatkan ku pada kakek ku di Padang, dia sungguh sosok yang sangat berhati mulia.
                    “Habib mau nungguin Mama dan Papa pulang dulu, Pak Jon,” Jawab ku polos.
                   “Kita tunggu didalam saja ya, sebentar lagi ibuk dan bapak akan pulang,” Pak Jon membujuk ku.
                   Aku menuruti perintah Pak Jon. Aku duduk diruang keluarga yang jarang sekali bisa ku nikmati bersama Mama dan Papa. Ku coba untuk menghibur diri, menonton tokoh kartun kesayangan ku dan memainkan robot super hero yang dibelikan Papa seminggu yang lalu. Namun tak ada yang bisa melukis senyum dihari ini. Ku lihat jam telah menunjuk pukul 21.00 wib, mata ku mulai terasa berat  tapi aku lawan semua rasa ngantuk itu. Karena aku nggak mau melewati momen bahagia ini sendirian tanpa Mama dan Papa.
                   Akhirnya aku kalah dalam peperangan melawan rasa ngantuk ini, aku tertidur disofa ruang keluarga. Aku mulai bermimpi, menghayal tentang Mama, tentang Papa, aku bermimpi bersama mereka. Tapi tiga puluh  menit setelah itu ku dengar suara klakson mobil dipintu gerbang, aku masih belum ingin beranjak dari sofa ini. Sangat sayang untuk ku lewati momen terindah bersama Mama dan Papa meskipun hanya dalam mimpi ku. Aku mendengar suara hentakan sepatu, aku mengenali suara itu, itu suara sepatu hak tinggi punya Mama. Perlahan aku terbangun dari mimpi indah ku, ku usapkan kedua tangan dikedua mata ku. Segera ku ambilkan raport ku, kemudiaan langsung berlari menuju Mama. Penantian yang telah ku lewati selama kurang lebih enam jam tiga puluh menit, akhirnya datang juga.
                   “Ma,” ucap ku dengan manja sambil memberikan buku raport ku pada Mama.
                   “Ini apa sayang,” Jawab Mama dengan nada yang benar-benar tidak tahu.
                   “Ini buku raport Habib, Mama lihat deh, nilainya bagus-bagus loh Ma, Habib dapat peringkat kelas, Mama senangkan.” Ucap ku dengan penuh harap bahwa Mama akan senang dengan nilai raport ku.
                   “Jagoan Mama pinter ya, ntar Mama kasih hadiah oke.”Sambil mencubit pipi ku.
                   “Oke Ma, hmm Papa mana Ma..?”
                    “Papa lagi kerja sayang.”
                   “Emangnya kerja itu nggak pake istirahat ya Ma,” tanya ku dengan nada polos.
                   “Bukan gitu sayang, cuman Papa lagi ada urusan yang nggak boleh ditinggalkan, Habib ngerti kan maksud Mama.”
                   “Hum oiya Ma temenin Habib makan malam yuk Ma, Mama pasti lapar, please Ma.” Sekarang nada ku sedikit memohon.
                   Mama hanya tersenyum kecil dan segera membawa ku ke dapur. Ku coba untuk menikmati setiap menu yang ada dimeja makan. Namun rasanya hambar, nggak enak karena nggak ada Papa. Ku hanya memainkan butiran-butiran nasi putih itu yang kini telah berubah warna menjadi merah kekuningan karena telah ku campurkan dengan menu makanan yang lain, ku coba untuk menyuapkan sedikit sesuatu yang ada dipiring kedalam mulut ku. Ku coba lagi untuk mengunyahnya, namun rasanya tetap hambar, nggak enak sama sekali. Aku lebih memilih bermain dengan sendok dan garpu yang ku mainkan bersama piring. Membosankan, sungguh membosankan. Ku pandangi wajah Mama yang terlihat sangat cantik malam ini, tubuhnya mulai sedikit terlihat kurus, matanya sayu tak bersinar. Mungkin Mama terlalu capek dengan pekerjaannya. Ku lihat Mama juga tidak menikmati makan malamnya bersama ku. Yang ada hanya suasana hening tanpa suara, sesekali Mama melemparkan senyumnya pada ku. Aku pun begitu, berusaha untuk membuat Mama tersenyum.
                Tak lama setelah makan malam dengan Mama usai, terdengar suara klakson mobil Papa di pintu gerbang. Segera ku berlari sambil membawa buku raport ku pada Papa. Mama hanya geleng-geleng kepala melihat ku. Dengan mata yang berbinar ku pandangi  sosok yang sangat ku rindukan kedatangannya, tubuh tinggi kekar yang tingginya sekitar 175 cm, dengan jas hitam dan kameja putih yang sedikit terlihat rapi dan dasi biru tua yang melekat di kerah bajunya serta sepatu kulit yang mengkilap dikedua kakinya. Senyum yang selalu ku rindukan dari bibirnya.
 “Pa.. ini buku raport Habib, Papa liat deh, Habib peringkat kelas loh,” ucap ku.
“Wah anak Papa hebat, Papa bangga sama Habib”. Ucapnya sambil mengelus-elus rambut ku.
 Papa menggendong ku sampai ke kamar, sungguh aku tidak ingin langsung ke kamar, sungguh aku masih ingin menikmati momen seperti ini bersama Mama dan Papa. Tapi, mata ku terlanjur membawa ku ke kamar. Sayup-sayup mata ku terlihat letih karena aku merasakan ngantuk yang sungguh luar biasa hebatnya. Mama dan Papa mengecup kening ku, sungguh itu adalah kecupan termanis dari Mama dan Papa.
“Selamat malam sayang, mimpi indah.” Suara Mama berlalu dalam ruang gelap dikamar ku.

***
                Pagi yang dingin membuat ku menarik kembali selimut ke sekujur tubuh ku. Sang surya belum hadir untuk apel pagi ini, suasana gelap masih belum berlalu. Suara azan subuh juga belum terdengar. Aku bangun lebih awal, ku lihat jam di meja belajar ku yang baru menunjukkan jam tepat pukul lima pagi. Segera ku ke kamar mandi mengusapkan air ke wajah ku. Ku bersihkan sekujur tubuh ku, setelah itu ku berwudu’. Ku ganti baju tidur ku dengan baju seragam sekolah, segera ku ambilkan kopiah dan sejadah dilemari. Ku tinggalkan kamar yang telah ku huni selama kurang lebih enam tahun ini. Ku beranjak dari kamar ku ke kamar Mama dan Papa yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kamar ku. Ku coba untuk mengetuk pintu kamarnya, berkali-kali ku ketuk dan ku ketuk, namun hanya kebisuan yang ada. Ku rasa Mama dan Papa masih ngantuk dikamar. Terus aku langsung ke belakang, berjalan  ke kamar Pak Jon dan Mbok Siti. Ku lihat mereka habis berwudu’. Azan subuh telah dikumandangkan, pagi ini aku solat sama Pak Jon dan Mbok Siti. Dalam sujud ku aku selalu berdoa pada sang pencipta.
“Ya ALLAH ya robbi, kembalikan Mama dan Papa pada ku. Jangan matikan rasa sayang dan cintanya pada ku, aku sayang Mama dan Papa. Berikan waktu mereka pada ku, meskipun hanya dalam beberapa menit saja. Ya ALLAH ya robbi, tolong jaga Mama dan Papa, berikan mereka kesehatan. RABBANA ATINA FIDDUNIYA HASANAH WAFIL AHIRATIHASANAH WAKINA ‘AZA BANNAR, AMIN”
                Ingin rasanya menangis, tapi aku terlalu gengsi untuk mengeluarkan air mata itu dari kelopak mata ku. Ku pandangi dua sosok yang begitu tulus, wajah mereka terlihat sedikit tua. Ku pandangi lagi doa-doa yang disanjungkannya pada Tuhan, ku lihat mereka begitu tulus. Setelah selesai berdoa segera ku salami tangan Pak Jon dan Mbok Siti.
“Pak Jon, Mama dan Papa mana pak.”
“Udah pergi tuan.”
Sungguh membuat ku kecewa, pengorbanan untuk bangun pagi-pagi hanya untuk melihat senyum Mama dan Papa di pagi ini terasa sirna.
 “ini kan masih terlalu pagi Pak. Masih jam enam kurang lima belas menit kok udah berangkat kerja,” Ucap ku sedikit protes.
”Jakarta kan macet, jadi untuk menghindari macet harus ke kantor pagi-pagi tuan”.
 “Kok Mama dan Papa gitu sih Pak Jon.”
“Ya nggak apa-apa lah tuan, itu kan demi kebaikan tuan juga, ibuk dan bapak bekerja kan demi tuan, agar tuan bisa sekolah, beli mainan, beli kue, dan yang lainnya.”
“Pak Jon, Habib merasa nggak seperti anaknya. Sangat jarang Habib mendapatkan perhatian yang khusus dari Mama dan Papa,” Ucap ku dengan nada yang polos.
Pak Jon hanya diam dan membisu seolah-olah ingin berkata tapi kosa katanya tak bisa terangkai dengan indah hingga membentuk suatu kalimat yang mungkin ingin disampaikannnya pada ku. Pak Jon hanya mengelus-elus rambut ku. Ku tatap wajahnya dengan penuh tanda tanya. Aku pun tidak tau apa yang ingin ia ungkapkan pada ku, ada sesuatu yang ingin Pak Jon ungkapkan tapi ada keraguan dimatanya yang membuat Pak Jon menutup rapat-rapat mulutnya.
Pak Jon pergi dari tempat, dia langsung ke gerbang untuk mencuci mobil. Aku pun beranjak dari tempat, ku langsung ke kamar, mengambil tas dan buku yang harus ku bawa ke sekolah. Kemudian aku langsung ke dapur, duduk termenung dimeja makan  membayangkan bahwa Mama dan Papa sedang berada didepan ku sambil tersenyum, menyuapkan beberapa menu makanan sambil sedikit bercerita tentang apa yang telah kita mimpikan semalam, tertawa dan sedikit bercanda ria. Aku merindukan sarapan bareng Mama dan Papa sebelum berangkat sekolah. Merindukan kecup manis ketika Mama dan Papa berangkat kerja. Kadang aku ingin marah, tapi marah pada siapa. Apakah aku harus marah pada waktu ? Pada Tuhan?  Pada Mama dan Papa? Aku terlalu kecil untuk memberontak, usia ku hanya seperempat dari usia Mama dan Papa. Aku hanya anak kecil yang berusia tujuh tahun, belum pantas untuk memeberontak. Aku tak bisa hidup dalam dunia kesibukan orang tua ku. Materi tak selamanya bisa membahagiakan ku. Aku butuh nonmateri, aku butuh waktu, aku butuh cinta, dan aku butuh Mama dan Papa.
Pagi ini wajah ku terlihat lebih kusut dari biasanya. Didalam mobil aku hanya termenung di balik kaca jendela mobil, ku coba untuk menghibur diri. Ku coba untuk menghitung mobil dan motor yang berderet sangat panjang yang sedang terjebak dalam kemacetan. Satu.. sepuluh.. seratus sebelas.. seratus tiga puluh enam.. ahh capek. Namun aku tak mampu menghitung berapa jumlahnya, sangat banyak. Macet , itu lah yang selalu ku rasakan di Jakarta, bukan Jakarta namanya jika tanpa macet. Tapi aku berusaha untuk tetap menikmati suasana itu setiap pagi ke sekolah. Pak Jon juga sama seperti ku, mencoba menikmati suasana macet dengan musik dangdutnya. Ku lihat Pak Jon sangat menyukai musiknya. Setelah melewati macet yang sangat panjang, akhirnya ku sampai di sekolah ku, gerbang yang dicat berwarna hijau itu menyambut ku dengan tersenyum. Tapi aku hanya tersenyum kecut dipagi ini. Ku coba untuk menghela nafas panjang, menghilangkan sedikit kemarahan yang berkobar dalam dada ku. Ingin rasanya ku sampaikan kekesalan ku pada tembok bisu itu, batu-batu kecil yang tersenyum pada ku, ku tendang begitu saja.
Ku lihat keceriaan pada teman-teman ku. Mereka terlihat sangat bahagia. Ku coba untuk tersenyum pada mereka. Ku memasuki ruang belajar dengan murid sekitar tiga puluh lima orang. Tubuh yang berukuran rata-rata sekitar 110 meter, lengkap dengan seragam merah putih dan sepatu hitam yang mengkilap, nampak menikmati suasana pagi ini. Ku coba untuk berkonsentrasi pada pelajaran ku, menghilangkan rasa marah di dada ku. Tapi, bayang-bayang Mama dan Papa selalu mengganggu ku. Konsentrasi ku pudar. Aku memilih untuk keluar kelas sejenak. Sungguh hari ini, aku tidak bersemangat. Jam pelajaran pun usai. Aku menunggu Pak Jon menjemput ku di gerbang sekolah. Ku lihat teman-teman ku juga melakukan hal yang sama dengan ku. Tapi mereka sedikit berbeda dengan ku. Kebanyakan dari teman-teman ku diantar jemput oleh mamanya, sedangkan aku setiap hari hanya ditemani sama supir pribadi ku. Ada rasa yang sedikit aneh yang sedang bergejolak dalam dada ku. Ingin rasanya ku berteriak pada mereka. “Aku iriiiiiii... aku iri, kenapa Tuhan menciptakan suasana yang seperti ini”. Aku tersentak dari lamunan ku karena suara klakson mobil Pak Jon telah mengagetkan ku. Suasana seperti itu terus berlanjut. Aku yang setiap hari sarapan sendiri, makan malam sendiri, mengerjakan tugas-tugas ku sendiri, bermain sendiri, hingga aku tumbuh menjadi anak yang mandiri.
Aku mengambil sisi positif dari kesibukan orang tua ku, ku coba untuk mengerti dari semua kesibukan mereka.

# Tunggu cerita selanjutnya :)

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Hallo... Perkenalkan, saya Haulia Dwi Putri, konsultan JAFRA Bengkulu. Aku akan membantu kamu menemukan solusi atas permasalahan kulitmu. Silahkan konsultasi dulu sebelum mebeli produk JAFRA yah? Konsultasinya GRATIS. More info : BBM : 7F7EA6CB WA : 087745074419

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates