DONT MEAN
I’M ALONE
Dingin
mengusikku dibalik selimut lusuh dikamar biru ku. Subuh telah datang
mengundangkan kedamaian dan ketentraman dibalik suara azan subuh yang sedang
berkumandang dengan merdunya. Huh... ku hela nafasku, ku buka mata ku, ku
tingalkan selimut lusuh ini. Ada yang berbeda dengan hari itu, ada yang hilang,
ada yang pergi. “Ah, mungkin hanya perasaan ku saja,” ucap ku.
Sendiri,
ya hanya sendiri dikamar biru ku ini. Hanya bertemankan angin yang datang
mengusik dibalik jendela kamar ku.
Terdengar
azan yang masih berkumandang didaun telinga ku. Dalam sujud ku, dalam do’a ku,
ku titipkan sejuta harapan dan impian akan masa depan ku, untuk orang tua ku, untuk
keluarga ku, dan untuk kerabat-kerabat ku.
Hingga
ujung waktu, aku tak akan jenuh dengan semua ini. Tak akan ku inginkan rasa
jenuh singgah menyelinap dikehidupan ku yang baru ini. Tak akan dan tak akan
pernah.
Waktu
itu aku benar-benar merasa sendiri, memang sendiri. Hidup sendiri dan jauh dari
orang tua. Tapi entah kenapa, aku merasa bahagia sekali. Bahagia yang tak
tertandingi, seperti seekor burung yang baru lepas dari sangkar emasnya. Ya Rabbi,
terimakasih atas nikmat bahagia itu, terimakasih atas pagi yang indah itu,
terimakasih Ya Rabb.
“Seperti membuang seekor kucing yang dekil dan
kotor.” Sedih, ya memang sedih. Hahaha, biarkan aku tertawa sebentar, biarkan
aku melepaskan semua kegundahan ini. Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya “AKU
INI BUKAN TEBU, HABIS MANIS SEPAH DIBUANG.”
Aku
berusaha melupakan apa yang telah terjadi disangkar emas itu. Yang lalu biarlah
berlalu. Memaafkan itu indah. Seperti pesan Ibu ku “Nak, sebesar apapun
kesalahan yang telah orang lain lakukan pada mu, maka maafkanlah. Sesungguhnya ALLAH
itu tidak pernah tidur, Nak. ALLAH tau, siapa yang benar dan siapa yang salah.
Bersabarlah.”
“Sendiri?
Kenapa aku harus takut dengan kesendirian? Buktinya, matahari saja sendiri.” Oh
ternyata aku salah, salah besar. Sesungguhnya kita tak pernah sendiri, karena
ALLAH selalu ada untuk kita. Buktinya, matahari tak pernah sendiri, karena ALLAH
telah menciptakan bunga matahari yang selalu setia mengikuti cahayanya, karena
ada bunga matahari yang selalu mengikuti arah matahari. Dan dunia tidak akan
seindah ini jika tanpa matahari.
Waktu
itu, aku pernah berkata pada sahabat ku, namanya Susi.
“Si, aku
benar-benar sendiri disini. Orang tua ku jauh disana, keluarga ku jauh disana,
siapa lagi saudara ku disini?”
“Jangan
sedih Wi, masih ada aku. Aku ini saudara mu, kamu itu saudara ku. Kita
sama-sama merantau disini. Kita sama-sama mengejar cita-cita disini,” ucapnya
sambil menggenggm erat tangan ku.
Terimakasih
Ya Allah atas nikmat bahagia ini. Terimakasih untuk kedua orang tua ku dan
keluarga ku, yang telah menyayangi ku sepenuh hati. Terimakasih sahabat ku
tercinta, Uni, Ita, Susi, Nia, Aisyah, Julia, dan sahabat HIMAMIA yang lainnya. Makasih
Ayuk tetangga dikosan ku, Ayuk Tin, Ayuk Desi, Ayuk Debol, dll. Makasi kawan
sekosan ku, Nina, Dodo, Yupa, dan Enik.
Ya ALLAH,
ternyata masih banyak orang yang mencintai dan menyayangi ku. Ya ALLAh,
terimakasih. “AND I’M NOT ALONE IN THE HERE, THANKS GOD”


