Haulia Dwi Putri

Goresan Pena Kehidupan

Ingin Seperti Kak Azla



INGIN SEPERTI KAK AZLA

“Umi, Azwa nggak mau masuk pesantren. Azwa nggak mau pisah dengan Umi, Abi, Kak Azla, Bang Azam, dan si adik kembar Aina dan Aini. Azwa nggak mau Umi,” ucap ku sambil terisak.
            Berkali-kali ku memohon pada Umi tapi tetap saja Umi bersikeras agar aku masuk pesantren. Katanya agar aku bisa menjadi anak yang baik, solehah, taat beragama, ini, itu dan bla bla bla. Aku sadar selama ini aku lah yang paling bandel diantara keempat saudara ku. Akulah yang sering melanggar perintah Umi. Aku sering sekali bolos mengaji. Setiap pagi aku yang selalu kesiangan untuk solat subuh. Aku sering sekali membohongi Umi ketika disuruh solat. “Wa, jangan lupa solat,” teriak Umi dari lantai bawah pada suatu hari. “Udah Mi,” jawab ku dengan berbohong. Diantara keempat saudara ku, aku juga yang paling pemalas. Malas mandi, malas bangun pagi, malas nyuci, apalagi nyuci sepatu dan kaus kaki, malas bikin PR dan lain-lain.
Aku di didik secara otoriter. Harus Bangun jam lima pagi, harus tidur siang, harus sarapan tepat waktu, harus ini, harus itu, nggak boleh ini, nggak boleh itu, dan masih banyak lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, kami harus mematuhi perintah Abi dan Umi. Tapi aku sama sekali tak pernah mematuhi segala perintah mereka.  Jika disuruh tidur siang, aku malah main game dikamar ku. Jika disuruh ngaji, aku pura-pura aja sakit perut.  “Umi, dari kecil aku belajar ngaji. Aku udah berkali-kali khattam Al-quran, aku tau surah Al-fatihah dan artinya, aku tau baca surah yasin, aku tau baca ayat kursi, aku tau semua Umi,  apalagi sih Umi. Aku bosan ngaji terus. Masa udah kelas tiga SMP masih ngaji juga. Aku nggak Umi, aku maunya ngaji dirumah aja, privat. Kalo ditempat pengajian banyak anak kecil, aku nggak mau,” aku protes pada Umi waktu itu. “Kamu hanya tau saja Nak, tapi belum bisa mengaplikasikannya dalam hidup mu, makanya Umi menyuruh mu untuk selalu belajar Al-Quran,” ucap Umi. Itu alasan yang selalu Umi katakan pada ku.
Aku mempunyai karakter yang berbeda dengan ke empat saudara ku. Bang Azam adalah anak sulung. Tahukah? Indeks Prestasi Komulatifnya 4,00 dan selalu menjadi kebanggaan Abi dan Umi. Lain lagi dengan Kak Azla, selalu menjadi idola Abi dan Umi, “Anak gadis itu harus seperti Kak Azla, pintar, rajin, pintar masak, patuh dengan Abi dan Umi” Ah terlalu sering aku mendengar kalimat itu dirumah ini. Adik kembar ku, Aina dan Aini  juga ikut-ikutan membuat Abi dan Umi terbang tinggi. Umurnya baru 7 tahun, tapi prestasinya membuat ku sangat iri. Aina pernah menjadi juara pertama di Olimpiade Matematika tingkat nasional, padahal Aina baru kelas tiga Sekolah Dasar. Lain lagi dengan Aini, adik kembar ku yang satu ini memang pintar sekali baca Al-Qur’an. Pernah menjadi juara pertama Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat Nasional. Lalu bagaimana dengan ku? Tropi dan penghargaan menghiasi lemari diruang tamu. Hanya aku yang tidak pernah mendapatkan tropi ataupun penghargaan. Tidak ada tropi ataupun penghargaan yang berataskan nama ku dilemari itu.
Aku duduk diteras depan sambil menikmati senja yang indah. Burung-burung kembali ke sarangnya. Langit nan biru telah berganti warna menjadi orange. Suara azan berkumandang dipenjuru kota. Tiba-tiba suara Umi mengagetkan ku.
“Azwa, masuk. Solat magrib dulu.”
“Iya Mi,” jawab ku.
Aku hanya mengiyakan tapi tidak melakukannya. Angan-angan ku melayang tentang pesantren, tentang kehidupan dipesantren, tentang berita-berita aneh di TV mengenai pesantren. Akhir-akhir ini banyak sekali berita heboh yang mengatakan bahwa kehidupan dipesantren itu seperti mendidik para teroris. Karena banyak anak pesantren yang terlibat aksi terorisme. Apalagi tentang jadwal makan, katanya hanya makan tempe dan tahu saja setiap hari. Apalagi tempat tidurnya, sekamar bisa lima atau enam orang dan itu sungguh sumpek sekali. Belum lagi tentang hiburan, tidak ada yang namanya Televisi, Handphone, Android, dan gadget-gadget yang lainnya. Oh bisa dibayangkan betapa kuno dan katronya sekolah ku nanti. Oh aku mulai pusing memikirkan hal itu. “Berarti harus pake jilbab dong, kayak Ibu-ibu majelis taklim saja, ah nggak mau,” ucap ku sambil menggeleng-gelengkan kepaa.
“Hei Peri Manja (Peri Manja adalah nama kesayangan ku dari Bang Azam) kenapa wajah mu kusut seribu seperti itu?” Bang Azam datang mengagetkan ku.
Aku hanya diam seribu bahasa.
Nggak mau cerita?” Bang Azam bertanya lagi.
Aku kembali terdiam.
“Tentang pesantren?”
Aku diam untuk kesekian kalinya.
“Peri Manja ku, tahukah bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana terbaik dari setiap rencana_Nya. Mungkin rencana Abi dan Umi tak sesuai dengan rencana mu, tapi ingatlah bahwa rencana Allah adalah rencana terbaik dari setiap rencana.”
“Tapi, aku nggak mau hidup dipesantren. Aku belum siap untuk berhijab. Aku ingin melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas, bisa pakai rok pendek, gonta-ganti model rambut, ngikut trendy masa kini. Aku nggak mau tampil seperti Ibu-ibu majelis taklim. Aku nggak mau berhijab seperti Kak Azla. Jelek.”
“Bukankah menutup aurat itu wajib dalam islam. Tahukah hukum wajib itu apa? Peri Manja ku, umur mu 15 tahun. Nilai amal baik dan amal buruk mu selalu dicatat oleh dua malaikat yang selalu setia disamping kanan dan samping kiri mu. Jika kau memakai rok pendek, malaikat yang mana yang akan mencatat amal mu. Rakib atau Atid?”
Aku terdiam.
***
Ternyata Umi dan Abi benar-benar ingin menyekolahkan ku dipesantren. Abi telah mengurus semuanya. Umi bilang, besok aku akan berangkat. Tiket kereta apinya telah dipesan. Secepat itukah? Bukankah masa liburan masih dua minggu lagi. Aku belum bertemu Yuna, Nayla, Anya, dan Putri. Setidaknya Umi kasih waktu sehari atau dua hari untuk bertemu dengan teman-teman ku. Setidaknya Umi kasih waktu sehari untuk mengelilingi kota ini dengan Vespa kesayanganku.
Malam ini adalah makan malam terburuk yang pernah ada. Meskipun Abi dan Bang Azam ada disini namun tetap saja terasa membosankan. Temanya itu-itu saja. Tentang masakan Kak Azla yang enaknya luar biasa, tentang Kak Azla yang kelihatan tambah cantik dan semakin mirip dengan Umi, tentang Kak Azla yang selalu dapat nilai terbaik dalam setiap lembaran buku raportnya, tentang Kak Azla yang ini dan itu. Sesekali menyinggung sedikit tentang Bang Azam. Tentang Bang Azam yang sebentar lagi akan mendapat gelar sarjana S1 kedokteranya. Sesekali berubah topik ke adik kembarku, Aina dan Aini. Hanya pujian.
“Kapan kau berubah, rambut mu dipanjangkan dikit lah, udah 15 tahun begitu terus gaya rambut mu. Biar kelihatan ayunya. Kata Umi, kau masih suka baca komik jepang ya?  Kapan sih waktu mu belajar? Belum lagi dengan Vespa buntut itu, berisik. Mulai sekarang kau harus berubah. Besok kita akan ke pesantren, Abi yang akan mengantarkan mu ke...”
Aku membanting tangan ku dimeja makan. Yang spontan menghentikan pembicaraan Abi. Semua mata tertuju pada ku. Suasana dimeja makan langsung berubah. Ku tinggalkan sayur bening dan ikan asin kesukaan ku dimeja itu. Aku langsung tak berselera menyantapnya. Aku meninggalkan meja makan dan langsung kekamar. Menaiki anak tangga dengan rasa kesal yang sungguh luar biasa. Membuka pintu kamar kemudian membantingnya agar tertutup kembali.  Suara bantingan pintu itu terdengar sampai lantai bawah. Yang lantas membuat Abi sempat berteriak. “Azwaaa...” aku tidak peduli. Aku benci, aku kesal, aku.. ah terlalu sulit untuk ku katakan.
Aku membaringkan tubuh ku diranjang sambil terisak. Ku pandangi foto keluarga ku yang berada dimeja belajar. Saat ini aku ingin tersenyum manis seperti yang ada difoto itu. Tapi berkali-kali ku coba tersenyum namun tetap saja ingin menangis. Udah lama sekali aku tidak menangis. Tiba-tiba saja Umi datang, lalu segera ku hapuskan air mata ku. Umi mendekat. Suara langkahnya membuat jantung ku berdegup kencang. “Umi akan marah” pikir ku.
“Azwa marah dengan Umi?”
Aku menggeleng.
“Azwa benci  Umi?”
Aku menggleng lagi.
“Lalu kenapa akhir-akhir ini Azwa memasang wajah tidak suka pada Umi?”
Nggak kok. Azwa nggak benci sama Umi.”
“Jangan bohong sama Umi. Kamu itu anak Umi. Jadi Umi tau semuanya. Hentakan kaki mu tadi sudah meyakinkan Umi bahwa Azwa marah sama Umi. Apalagi suara bantingan pintu itu (Umi tersenyum) Iya kan?,” ucap Umi.
“Umi, Azwa nggak mau masuk pesantren,” ucap ku singkat.
“Hanya karena itu sehingga anak gadis Umi yang satu ini membenci Umi?”
“Kenapa sih Azwa nggak boleh mendapatkan apa yang Azwa inginkan? Dulu, Abi menyuruh Bang Azam untuk masuk disekolah militer, tapi Bang Azam nggak mau karena Bang Azam ingin sekali menjadi seorang dokter seperti Umi. Umi dan Abi setuju-setuju saja dengan keputusan Bang Azam. Kak Azla ingin liburan akhir tahun bersama teman-temannya, Umi setuju juga. Aina dan Aini ingin liburan ke rumah nenek di Medan, Umi setuju juga. Terus ketika aku minta dibelikan sepatu roda, Umi dan Abi nggak setuju. Aku nggak mau masuk pesantren, Umi dan Abi juga nggak setuju. Umi dan Abi nggak adil.  Kak Azla selalu dipuji, meskipun masakannya nggak seenak masakan Umi tetapi Umi selalu bilang bahwa masakan Kak Azla lebih enak dari masakan Umi. Tapi aku? Ketika aku mencetak tiga gol saat bermain dengan Bang Azam dan teman-temannya, aku tidak pernah mendapatkan pujian dari Abi dan Umi. Malahan Umi marah-marah pada ku saat itu,” ucap ku sambil terisak.
“Maafkan Umi jika Umi selalu membuat mu marah. Kamu belum mengerti Nak. Abi dan Umi tidak ingin membuat anak-anaknya menjadi buruk. Ketika kamu minta dibelikan sepatu roda, Abi dan Umi tidak membelikannya untuk mu karena Abi dan Umi takut kamu terjatuh, Abi dan Umi takut kamu terluka, terpeleset, terkilir dan bisa jadi patah tulang. Ketika kamu menceritakan pengalaman mu bahwa kamu telah mencetak tiga gol saat bermain bola kaki bersama Bang Azam dan teman-temannya, Umi dan Abi sangat khawatir, Nak. Apa kata orang ketika melihat anak gadis Umi bermain dengan laki-laki. Kamu bukan anak kecil lagi Azwa. Umurmu bukan lima tahun lagi, umurmu lima belas tahun, Nak. Jangan menganggap bahwa dirimu masih kecil. Belajarlah untuk bersikap manis seperti Kak Azla,” ucap Umi.
“Umi selalu membandingkan ku dengan Kak Azla.” Ucap ku kesal
***
Matahari terlukis indah dilangit yang berwarna biru tua.  Tapi suasana hati ku sedang tak secerah matahari disana. Ini adalah hari pertama ku dipesantren. Hari pertama yang membuat ku ingin pulang. Tiba-tiba ada gadis sebaya dengan ku yang datang ke kamar ku. Ternyata dia juga anak baru, sama halnya dengan ku.  Namanya Aisyah. Dia mengajak ku untuk ikut acara kerohanian di masjid yang ada dipesantren ini. Sebenarnya aku enggan untuk datang kesana.
Terik matahari membuat kaki ku semakin enggan untuk kesana. Teman baru ku ini sangat bersemangat mengajak ku kesana. Sebenarnya aku malas bertemu dengan para wanita berjilbab panjang dan para laki-laki yang tidak terlihat keren sama sekali. Oh Tuhan, tempat apakah ini?
"Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapak mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya." (Surah An-Nur, ayat 31)
Aku tertegun ketika seseorang menjelaskan tentang ayat Al-Qur’an tersebut. Ternyata disinilah Allah menjawab segala pertanyaan ku. Tempat apakah ini? Ya, disinilah tempat orang-orang keren dan hebat. Ternyata selama ini aku salah, keren itu bukan yang jago main basket, bukan yang punya motor gede, bukan yang gantengnya seperti sinetron FTV. Tapi keren itu adalah keren dimata Allah. Mematuhi dan menjalankan segala perintah_Nya. Termasuk menutup aurat. Akan ku cabut kembali semua kata-kata ku yang mengatakan bahwa wanita berjilbab itu tidak keren, tidak gaul, kuno dan sebagainya. Ternyata Bang Azam benar, Tuhan selalu mempunyai rencana terbaik.
Sejak saat itulah, aku mulai berubah. Menjadi pribadi yang lebih baik. Mulai saat itulah aku mulai benar-benar ingin menutup aurat ku.
Kehidupan dipesantren semakin membuat ku betah. Disini aku mendapatkan pelajaran yang belum pernah ku dapatkan sebelumnya. Aku diajarkan banyak hal, tentang agama, sosial, akademik, dan masih banyak lagi. Ternyata pesantren itu bukanlah dunia para teroris. Bukan seperti yang ku bayangkan.
***
“Kenapa harus besok, Umi?” ucap ku protes.
“Kak Azla ingin bertemu dengan mu, udah setengah tahun Kak Azla tidak bertemu dengan mu” jawab Umi.
“Tapi kenapa harus besok. Disaat libur semester kan bisa, Umi. Seminggu lagi kan libur semester,” ucap ku lagi.
“Tapi, Kak Azla ingin bertemu dengan mu.”
“Umi, besok ada ujian matematika.”
“Apa artinya matematika, sayang. Satu ditambah satu samadengan dua. Dua dikurang dua sama dengan nol. Apa artinya angka, sayang. Kakak mu ingin bertemu dengan mu. Hanya itu yang dia inginkan.”
“Sejak kapan Kak Azla rindu pada ku, bukankah dari dulu kami tidak pernah akur. Ah, semakin membuat ku bingung saja.” ucap ku dalam hati.

***
Aku memilih untuk mengikuti ujian matematika. Kenapa aku harus pulang. Seharusnya Kak Azla mengerti dengan kondisi ku saat ini. Sejak kapan Kak Azla merindukan ku? Kan Kak Azla bisa menunggu seminggu lagi untuk bertemu dengan ku. Yang terpenting saat ini aku harus menyelesaikan ujian matematika ku dengan sempurna.
Telpon genggam ku berdering setelah ujian matematika ku selesai. Ternyata dari Umi.
“Azwa,” suara Umi tidak seperti biasanya.
“Iya Mi, ada apa?” jawab ku dengan nada sedikit penasaran.
“Kak Azla...”
“Ada apa dengan Kak Azla,” aku semakin penasaran.
“Tadi pagi, Kakak mu tertidur untuk selamanya.”
Oh Tuhan, apa artinya matematika jika kejadiannya seperti ini. Seharusnya aku pulang untuk bertemu dengan Kak Azla untuk yang terakhir kalinya. Betapa bodohnya aku.
***
Bunga-bunga segar telah menghiasi tanah basah dipemakaman Kak Azla. Oh Tuhan, terasa ada yang hilang. Terasa ada yang berbeda.
Setelah acara pemakaman selesai, aku langsung ke kamar Kak Azla, untuk melepas rindu ku padanya. Oh Tuhan semua kenangan bersama Kak Azla seolah-olah ada dihadapan ku.
“Azwa, bukan begitu cara membacanya. Itu izhar bukan ikhfa,” ucap Kak Azla waktu itu.
“Dik, rencana Tuhan itu seperti izhar, jelas. Dan rencana kita itu seperti ikhfa, samar-samar. Jadi, Tuhan itu selalu mempunyai rencana terbaik,” ucap Kak Azla ketika aku hijrah ke pesantren.
Dimeja belajar Kak Azla, ku temukan kotak berwarna merah muda. Jilbab merah muda menghiasi isi kotak tersebut. Ada kertas berwarna merah muda yang membuat ku penasaran.
“Adik ku tercinta, saat ini kita telah berada didunia yang berbeda. Tahukah Dik? Kakak rindu masa kecil kita. Kamu bukan adiknya kakak yang seperti berumur lima tahun. Kakak ingin melihat mu seperti dulu, pintar, rajin, patuh dengan Abi dan Umi. Kakak ingin melihat mu kembali seperti dulu lagi. Buatlah Abi dan Umi bangga pada mu, Dik. Kakak juga senang melihat mu menutup aurat. Adikku, kakak akan selalu merindukan mu.”
Sejak saat itu aku ingin seperti Kak Azla. Agar Kak Azla terasa hadir kembali diantara keluarga kecil ku ini.

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Hallo... Perkenalkan, saya Haulia Dwi Putri, konsultan JAFRA Bengkulu. Aku akan membantu kamu menemukan solusi atas permasalahan kulitmu. Silahkan konsultasi dulu sebelum mebeli produk JAFRA yah? Konsultasinya GRATIS. More info : BBM : 7F7EA6CB WA : 087745074419

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates