Haulia Dwi Putri

Goresan Pena Kehidupan

Jodoh Pasti Bertemu

Lagu yang sering saya putarkan dikamar, setiap hari, hehehe. Lagunya so sweet  banget. Cocok untuk siapa saja yang percaya dengan kata-kata ini "Jodoh Pasti Bertemu." Meskipun tanpa pacaran, tanpa pedekate, tanpa apa lah namanya, yang namanya jodoh pasti bertemu (Saya percaya 100%). Tak perlu kisah cinta yang romantis seperti Romeo dan Juliet yang rela mati demi jodohnya. Juga nggak perlu repot-repot nyari pacar sana-sini, kan kalo jodoh pasti bertemu, hehehe. Loh kok aku malah ngomongin jodoh? Hum kek mau married aja, hahhaha.

Lirik Lagu Afgan – Jodoh Pasti Bertemu

Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Jika aku (jika aku) bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
(jika aku bukan jalanmu)
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu

Pesan Terakhir

  Malam semakin sunyi, jangkrik-jangkrik udah mulai berisik, tapi suara TV dilantai bawah masih terdengar, syukurlah karena nggak akan ada yang mendengar bahwa saat ini aku sedang menangis. Bukan lagi galau karena pacar (Toh saya nggak punya pacar), lalu karena apa?

  Hum, karena seseorang. Seorang Ibu yang pernah mengajarkan ku tentang banyak hal. Apalagi tentang Matematika. Dulu, sekitar 10 tahun yang lalu, wanita yang terlihat ganas, pemarah, masuk ke kelas ku. Membawa beberapa buku yang bersampul "Matematika" lengkap dengan alat tulis dan tak lupa pula membawa rol panjang. Akupun mulai menerka-nerka tentang rol panjang itu? Kira-kira utk apa? Menggaris? Loh, bukannya papan tulis kita digaris permanen? Penggaris buku? Kok panjang sekali. Belajar mengenai bangun datar? Kan kita belum belajar itu. Eh ternyata rol panjang itu adalah hukuman untuk kami. "Jika dikasih latihan, kami salahnya satu, maka dapat pukulan satu kali dari rol panjang itu. Enaklah yang dapat 1, kalo dapat 10? Kita bisa bayangkan sendiri gimana rasanya." Kami didik dengan cara yang otoriter. Keras, tegas, cepat, ligat dan tidak ada kata terlambat.

  Waktu itu, umurku masih 8 tahun. Rambutku masih dikepang dua, seragamnya masih putih merah. Roknya masih pendek selutut, sepatunya hitam, pake kaus kaki panjang, ranselnya lucu, lucu sekali. Buku-bukunya masih bersampul barbie, princess, doraemon, dan kawan kawan. Uang jajannya masih selembar si Pattimura (Seribu rupiah) cukuplah sampe jam 12 siang. Tau tidak, umur segitu aku dan yang lainnya telah diajar dengan satu prinsip "Cepat, ligat, tepat" tidak ada istilah "Biar lambat asal selamat, tidak lari gunung dikejar." Katanya, "Bukan gunung yang harus lari, tapi kita yang harus lari menuju gunung itu." Waktu itu, aku masih belum paham dengan pribahasa itu, tapi setelah aku remaja, aku baru menyadari apa maksud dari pribahasa tersebut.

  Aku menyukai matematika karena Ibuk (Guru SD ku), suka sekali. Pelajaran yang paling aku sukai waktu SD adalah belajar pecahan, KPK, FPB, bangun ruang, pembagian cepat, perkalian cepat. Aku masih ingat sekali dengan rumus ini "Ka Ba Ta Ku", waktu aku kecil ada Film Robot Jepang, nama robotnya "Kabataku." Katanya "Kalo kita melakukan perhitungan (Apa saja, bisa penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian) yang didahului adalah "Ka(Kali) Ba(Bagi) Ta(Tambah) Ku(Kurang)." Aku selalu memakai rumus itu hingga sekarang.

  Ibuk juga mengajarkan banyak hal. Misalnya, bagaimana cara bersopan santun, bagaimana cara berinteraksi dengan hal-hal yang baru, bagaiman berfikir kreatif, bagaimana untuk selalu menjadi lebih baik. Aku masih ingat sekali, waktu itu ada Olimpiade di SD percontohan. Aku lupa bahwa hari itu kami harus berangkat. Bahkan, aku terlambat datang kesekolah. Kancing baju ku hilang satu (Mungkin copot karena tergesa-gesa), Ibuk yang menjahit kembali kancing baju itu, menyisir rambut ku kemudian dikepang dua, mengoleskan sedikit bedak diwajah ku, menyemir sepatu ku, entah kenapa aku berantakan sekali hari itu, mungkin semalam aku keasyikan nonton sinetron "Bidadari", sinetron favorit ku waktu kecil, pemeran utamanya Marshanda dan akhirnya kesiangan.

   Mungkin diantara murid yang lain, akulah yang sering datang kerumah Ibuk. "Buk, ini gimana? Dijumlahkan dulu kan? Kalo ini gimana Buk? Bisa nggak pake cara ini? atau pake cara yg itu aja?" hahaha aku sangat kepo sekali waktu kecil. Suka bertanya, sering penasaran. Ibuk hanya senyum-senyum aja sambil mengelus kepalaku. Trus duduk disamping ku, meminjam pensil yang sedang ku pegang dan mulai menjelaskan. Aku suka, karena cara penyelesaiannya cepat.

   Anak-anak ibuk, semuanya merantau. Suami Ibuk udah lama meninggal. Dirumah, Ibuk hanya sendiri. Pas pulang sekolah, kami selalu diajak main kerumah. Memanjat pohon belimbing yang berada dibelakang rumah. Memanjat pohon jambu air yang berada digerbang depan. Trus disuruh makan, "Jangan lupa nyuci piring ya Nak" kami semua tertawa. Main kejar-kejaran, main petak umpet dirumah ibuk (Karena rumah ibuk luas, kamarnya banyak yang kosong, tempat untuk bersembunyi pun banyak sekali).Hahahha terlalu indah masa kecil itu.

    Ketika aku SMA, pas pergi sekolah, selalu menyapa Ibuk dipintu pagar rumah Ibuk. Wajah ibuk udah semakin keriput, punggung Ibuk udah nggak seperti 10 tahun yang lalu lagi. Mungkin jika disuruh memukul pake rol panjang pun nggak kuat lagi. Tapi, senyum tulusnya, wajah tulusnya, masih sama seperti 10 tahun yang lalu. Ibuk yang paling sering bertanya "Semester ini dapat peringkat berapa? Kalo semester kemaren peringkat berapa? Berapa nilai Matematika mu? Masih suka kan dengan Matematika?" pertanyaan itu yang selalu membuat ku bersemangat. "Masih ingat kan cara berhitung cepat? Masih pake prinsip "Cepat, Ligat, Tepat" kan?" Aku hanya tersenyum kemudian tertawa karena Ibuk terlalu bersemangat.

  Ketika aku kuliyah, pertanyaan yang bersemangat itu pun kembali muncul. "Berapa nilai NEM mu? Nilai matematikamu berapa? Kuliyahnya dimana? Jurusan apa?" Pas aku bilang, aku kuliyah dibengkulu jurusanku Pendidikan Kimia. "Loh kenapa nggak ambil Matematika? Bukannya waktu SD, anak Ibuk yang satu ini pecinta Matematika?" Iya Buk, kan Kimia itu ada matematikanya juga Buk, jadi matematikanya nggak hilang kok, "Cepat, Ligat, Tepat" masih ada disini (Sambil menunjuk kepala).

  Terakhir ketemu pas aku mau berangkat, meninggalkan kampung halaman, Kerinci tercinta. Ibuk memelukku, erat sekali. Bukan seperti pelukan guru terhadap muridnya, tapi seperti pelukan Ibu dengan anaknya. Pesannya "Tetap selalu seperti ini, tetap selalu jadi anak ibuk seperti 10 tahun yang lalu, yang selalu rajin bikin PR, yg selalu senang ketika disuruh mengerjakan soal matematika yang rumit, yang cerdas, baik, patuh sama orang tua. Jangan nakal, jangan mudah trpengaruh dg keadaan yg negatif yg disana. Kuliyah yg bener, ingat sama orang tua di Kerinci." Setelah itu, mencium kedua pipi ku, seperti cucu sendiri. Kemudian suaranya sedikit serak (Mungkin pengen nangis). Menepuk-nepuk bahu kanan ku. Trus mengusap kepala ku. Trus menggepalkan kedua tangannya sambil berkata "Semangat Anak Ibuk." Trus mengeluarkan dompetnya dan memberikan 20 ribu rupiah untukku. Katanya untuk jajan.

  Ternyata itu pesan terakhir dari Ibuk. Buk, moga tenang disana. Nanti, anak ibuk yang pecinta matematika ini akan membuat ibuk bangga disurga. Kelak, anak Ibuk ini akan membuktikan bahwa apa yang Ibuk ajar selama ini, bisa bermanfaat untuk orang lain.

  Dwi selalu mendoakan Ibuk.

 
Sepuluh tahun yang lalu. Ibuk pernah mengajarkan anak ini tentang banyak hal. Apalgi tentang matematika, banyak. Yang sering ibuk cubit hidungnya, yang sering Ibuk elus rambutnya, yang sering Ibuk betulin ikat rambutnya. Buk, anak Ibuk ini udah besar sekarang. Udah dewasa, nggak seperti dulu lagi. Yang selalu nangis karena dpat nilai 8, yang ngotot untuk selalu dapat 10 plus, yang akan ngambek karena cuma dapat 10. Tapi, sekarang masih seperti itu Buk. Akan sedih karena nilai ulangan jelek.

Makasih Buk atas jasa-jasanya. You are my best teacher. You like My Mom, You like My parent. See you good bye, may ALLAH bless you. I will  pray for you.
 

Cerita masa SMA Ku

 

   Putih abu-abu ku telah berlalu. Sedih, sedih memang. Banyak hal yang terlukis indah dikampas kenangan yang tak mungkin bisa terhapus.

  Tiga tahun yang lalu, aku dan kalian semua melangkahkan kaki digerbang yang terasa asing. Ya, itulah hari pertama kita menginjak kaki disana. Topi kerucut, tas plastik, dasi pete, ikat pinggang sampah, ikat rambut yang super banyak, sepatu warna-warni, kaus kaki warna-warni, hahaha kita lucu, lucu sekali. Mirip orang gila, mirip sekali. Tapi, anehnya, kita bahkan tidak tertawa dan tidak ingin menertawakan yang lainnya, kita tampil biasa-biasa saja.

  Hum, kita tidak saling kenal. Aku bahkan lupa, bagaimana awalnya kita berkenalan. Semuanya mengalir.
Dua tahun yang lalu, kita bertemu dalam sebuah ruang yang sangat aku rindukan hingga detik ini. Pintunya berwarna hijau tua, dindingnya berwarna merah bata dan kuning, tiang-tiangnya seakan-akan memagar, tertulis sebuah tulisan diatas pintu berwarna hijau tua itu "Kelas XI IA 2". Ya, disinilah awal cerita kita.

  Tas baru, buku baru, teman baru, kelas baru, suasana baru, semuanya baru. Hum bahkan baru saja terasa, bahwa kemaren kita ulangan Matematika. Rasanya baru kemaren kita jajan dikantin. Rasanya baru kemaren kita ngumpul-ngumpul didepan kelas. Rasanya baru kemaren kita melakukan hal yang gila dalam ruangan itu. Rasanya baru kemaren kita bertemu diruangan ini.
 


   Masih ingat tidak, ada banyak hal yang selalu ku ingat. Pas ulangan, banyak sekali yang super sibuk. Membuat catatan kecil yang disimpan didalam dasi, laci meja, dan tempat-tempat yang tidak seorang pun tau. Hal yang paling kita sukai adalah ketika ulangan dibatalkan. Sekelas serentak berkata "Horeee." Apalagi jika ada pelajaran Matematika, Fisika, dan Biologi (Hari kamis kita belajar itu) pas jam 10, lonceng udah berbunyi (Ada acara, mungkin rapat guru dan lain sebagainya), kita senang sekali, bahkan sampai loncat-loncat karena kegirangan.

  Trus, pelajaran yang palin kita benci adalah SBK. Kita belajar jadi arsitek. Bikin meja, bikin kursi, bikin sketsa ini-itu dan masih banyak lagi. Tau tidak, kita paling takut jika tidak mebawa "Rol siku-siku", karena bisa diskor beberapa minggu. Saat itu, rol siku-siku adalah harta yang paling berharga.

  Hahaha apalagi waktu belajar sore. Udah pada laper, udah bau keringat, tapi kita tetap belajar padahal tidak belajar. Cuma duduk, diam, catat, dengar, itu lebih baik dari pada diusir dari kelas. Ada yang mulai ngantuk, ada yang nguap, ada yang chatting, ada yang main game, ada yang ngobrol, ada banyak hal lainhya yang tidak bisa ku sebutkan. Tapi, hebatnya, guru kita nggak tau kalo kita tidak memperhatikan "Si Papan Tulis."

   Kalo guru kita permisi sebentar  (Mungkin ke toilet, mengangakat telpon, makan, dan lain sebagainya). Kita malah memanfaatkan hal itu. Berpose dikelas dengan gaya-gaya alay. Main kejar-kejaran pake sapu. Hahha aku kangen masa-masa ini.

Habibi dan Ainun ala Anak Garuda (Gerakan anak ipa dua)










Saat belajar sore. Sebelum Pak Guru dan Buk Guru masuk ke kelas.











Soal cinta. Ada yang terjebak cinta lokasi. "Ciyeeee" kata-kata itu selalu ada. Hahaha jadi kangen sama dua orang paling menyebalkan dikelas. Dua laki-laki yang duduk dibelakang meja ku. Yang sering goyang-goyangin meja pas aku sedang serius belajar. Yang sering nsuk-nusuk punggung pake pena kalo mau nyontek. Yang sering minta lembar jawaban ku ketika ulangan. Yang sering mengeledekku, yang sering mengerjaiku, yang sering bertingkah gila. Hahaha aku kangen mereka.





  Hahaha yang pake baju biru sering sekali mencomblangi ku sama yang pake batik hijau. Teramat sering, kalo aku dan yang pake batik hijau lagi marah, yang pake baju birulah yang jadi badutnya (penghibur). Hahaha aku kangen dua orang ini. Sahabat ku, dimanakah kalian sekarang? Bisakah kita bertemu? Aku ingin menjeweri telinga kalian berdua, soalnya kalian terus membuat ku kangen.


Moment saat bersama Ahmad Hafizd.











   Aku telah bercerita panjang lebar hingga aku lupa dengan pepatah lama "Dimana ada pertemua, disitu ada perpisahan." Ah, pada dasarnya aku malas sekali menceritakan hal yang satu ini.

  Hari itu kita nggak pake seragam. Seragam putih au-abunya tertata rapi dilemari. Kita pake seragam yang lain. Sesuai dengan tema perpisahan kita. Aku bahkan berulang-ulang kali menata make up ku, karena terlalu sering mengeluarkan air mata. Bahkan belum sampe puncak acara. Apalagi, pas lihat cewek-cewek cerewet, teman sekonco ku. Lily kartiana, Noza Yulintan, Mayzura, Firsty Amalina, Aggun Mustika, Ilvia Rahmanisa, Deni Fitriani, Winda Novalia, dan masih banyak lagi. Mereka terlihat cantik hari itu.

  Kita berpelukan, erat, erat sekali. Lama, lama sekali. Sesekali kita menghapus air mata, sambil bercerita tentang hal-hal lucu selama ini. Kita bahkan tertawa dalam tangis. Kita menyanyika lagu "Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa......." Sambil berkata "Aku sayang kalian, aku cinta kalian, jangan lupakan aku."

  Hum, kini abu-abu itu telah berlalu, kawan. Akupun sedang berusaha mencari teman baru yang lucu seperti kalian. Sukses selalu untuk kalian yang disana. Moga kita bisa ketemu dilain waktu.








  Dimusholla.












Saat mencuri pisang dibelakang sekolah :D














Kita lagi praktek renang :D














Saat dikebun :D










 


Baju Club baru :D











Atlit Volly kelas IA 2.














Lagi galau mikirin Ujian Nasional












Belajar di musholla













Yang sering nongkrong dibawah pohoin beringin.










Aku kangen kalian, Kawan. :D

Mengagumi Seseorang

   Hujan membasahi kota Bengkulu, dingin. Rintiknya seakan bernyanyi. "Tik tik ti..k" membentuk sebuah nada, nada yang tak asing lagi. Semakin jelas terdengar, suara riaknya, suara rintiknya, suara gemerciknya, mengusik telinga. Lalu beberapa saat, berhenti. Lama, lama sekali.

   Aku pun seakan dibuat penasaran olehnya. "Dimanakah rintik itu? Apa cuma mampir sebentar?" Hum beberapa menit kemudian, tak sengaja kupandangi kaca jendela yang belum ku tutup. Jadi ingat beberapa tahun yang lalu. Tepatnya tiga tahun yang lalu. Ketika umur ku 15 tahun, ketika rambutku sering dikepang dua, ketika masih lugu, polos, polos sekali.

   Waktu itu, aku sangat suka sekali dengan yang namanya "Hujan." Duduk dikaca jendela sambil memandangi rintik-rintiknya yang jatuh. Akupun sering bermain dengannya, menagkapnya (Meskipun aku tak pernah bisa), menggenggamnya (Meskipun tak bisa ku genggam). Bahkan aku sempat menangis, entah apa yang ku tangisi (Aku orang yang mudah terharu, jadi gampang sekali untuk menangis). Lalu segera menghapusnya agar tidak ada yang tau.

  " Pernahkah kalian merasakan masa-masa tersulit dalam hidup?"
Mungkin banyak yang akan menjawab "Pernah." Gadis belia, masih remaja, merasakan hal tersulit dalam hidupnya. "Mengagumi seseorang dan Jatuh Cinta." Mungkin karena "Dia" juga, aku bahkan "Enggan" untuk jatuh cinta pada siapa saja, bahkan takkan pernah lagi aku merasakan hal itu, takkan pernah. Sampai akan ada seseorang yang bersedia menjadi "Imam" Ku (Janji ku).

   "Pernahkah kalian berharap?"
Tentu saja pernah. "Tapi berharap yang tidak mungkin, tidak akan mungkin dan takkan mungkin terjadi."
Hahaha mungkin waktu itu aku terlalu muda, umurku baru 15 tahun, rambut ku masih dikepang dua, masih terlalu kecil baginya.

   "Pernahkah kalian melakukan hal bodoh?"
Hahha mungkin banyak yang menjawab "Tidak." Tapi aku "Selalu."

Berjalan sambil membawa payung, hujan-hujanan, hanya demi ingin melihat seseorang yang barangkali akan lewat dijalan itu, berharap "Dia" melihat ku lalu tersenyum. Setidaknya bisa menyapa "Hai." Bodoh kan?

Berjam-jam dikomputer, berjam-jam didepan Hp, bahkan seharian. Hanya ingin melihat status "Dia" di salah satu jejaring sosial, menyukai statusnya, hanya itu. Nggak berani memberi komentar (Penakut). Trus, update status tentangnya, entah dia baca ataupun tidak, yang penting Update, berkali-kali dalam sehari, nggak jelas.

Mengirimkan pesan singkat sebelum tidur "Good Night, n have a nice dream", "Selamat tidur ya? Moga mimpi indah," "Indahkan mimpi mu," dan bla-bla-bla. Berharap "Dia" akan membalasnya, menunggu balasannya, meskipun lamaaaa sekali. Tidak akan tidur sebelum Hp berdering.

Berharap bertemu dengannya. Melihat senyumnya, matanya, wajahnya, meskipun harus menunggu sekian lamanya dan meskipun "Dia" nggak akan datang. "Bodoh, bodohnya aku."

    Tiga tahun lamanya aku seperti itu. Tak pernah berubah, tak pernah berhenti berharap. Sampai suatu saat "Hujan" itu turun lagi. Deras, sangat deras. Membasahi sekujur tubuhku, beku, membekukan segenap rasa. Hampa, aku hampa.

    Aku berharap "Semuanya akan baik-baik saja" sama seperti yang dikatakannya. Ku berharap tidak akan ada lagi "Hujan", meskipun ada, ku harap akan tumbuh pelangi yang indah setelah itu. Tapi apa? Yang ada hanya badai, badai. Badai itu menghancurkan semuanya, hancur, berantakan, musnah.

    Ah, aku malas sekali bercerita panjang tentang itu, terlalu menyakitkan. Aku memang tidak secantik itu, bahkan takkan pernah dan takkan pernah. Tapi, apakah selama ini aku kurang baik? Apkah aku pernah jahat? Menyakitimu? Membuat mu terluka? dan lain sebagainya? Tak pernah, kurasa tak pernah.

   Tapi, aku sangat berterimakasih karena telah hadir dalam cerita ku. Sehingga kau membuat ku Fhobia dengan kata "Love", fhobia, sangat. Aku benci dengan kata-kata itu, benci sekali. Bahkan aku juga ingin berterimakasih, kau telah membuat ku "Berubah." Berubah untuk tidak mengingat mu lagi (Aku mencobanya selama 1 tahun, serius. Bahkan aku menghapus semua tentang mu, semuanya). Berubah untuk menjadi pribadi yang kuat, sabar, dan bertahan. Berubah untuk selalu memperbaiki diri. Berubah untuk selalu menjadi lebih baik.

   Untuk mu yang pernah ku kagumi. "Berbahagialah dimanapun engkau berada. Entah dengan siapa dan dimana. Yakinlah, aku selalu berdoa untuk mu."

  "Kau telah ku hapus, telah ku buang jauh, jauuuh sekali."
Selamat tinggal segenap rasa.




Daftar Buku Om Tere Yang Ingin Dikoleksi

Inilah daftar buku yang ingin dikoleksi :

1. Rembulan Tenggelam Diwajahmu

















2. Aku, Kau dan Sepucuk Angpau Merah

















3.  Moga Bunda Disayang Allah
















4. Bidadari-Bidadari Surga


















5. Sunset Bersama Rossie

















6. Negeri Para Bedebah


















7. Negeri Diujung Tanduk

















8. Berjuta Rasanya

















Buku yang udah dibaca

1. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin













2. Ayahku (Bukan) Pembohong


















3. Hafalan Salat Delisa


















Kalo semua buku yang ada didaftar aku koleksi sekaligus (Waaaah gawat banget Sob. Bisa-bisa saja saya nggak dapet kiriman dari Kampung Halaman selama 2 bulan berturut-turut). "Ah tidak-tidak." Bertahap, sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit. 

Mari menabung demi Bukunya Om Tere :)

Ingin Seperti Om Tere


   Mungkin diantara kita, udah pada banyak yang tau siapa "Tere Liye" itu. "Penulis novel, pemberi inspiratif dan motivasi." Bagus, jawabannya tepat sekali. Hum, saya sukaaaaaaaa sekali dengan novel-novelnya. Suka dengan kata-katanya yang disusun bak permadani yang indah, romantis, so sweet, pokoknya Novel Tere Liye adalah novel favorit saya. Bahkan saya rela nggak jajan dalam beberapa minggu hanya untuk membeli novel-novelnya.

   Kemaren, saya ke Gramedia. Trus, deretan yang pertama saya kunjungi adalah deretan novelnya Om Tere. Saya bingung mau beli yang mana?





   Saya pun bingung. "Moga Bunda disayang ALLAH atau Sepotong hati yang baru?" saya pun bertanya dalam hati. Setelah lama memilih, pegang ini-pegang itu. Liat ini-liat itu. Akhirnya bertemulah saya dengan seorang wanita berjilbab, namanya Mbak Yuni, dia anak MIPA Kimia di UNIB. "Eh kebetulan Mbak, saya juga Kuliah di UNIB, salam kenal mbak," ucap ku. Akhirnya kami pun berkenalan, setelah itu saya minta pendapat sama Mbak Yuni ini, yg kebetulan juga penggemar Darwis Tere Liye. "Yang ini aja Dek" ucap Mbak Yuni.

Akhirnya saya memilih buku ini. Taraaa....

  Saya suka sekali dengan covernya "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin", kata-kata itu dalam banget bagi saya. Setelah membacanya, saya sempat nangis beberapa kali. Buang ingus beberapa kali. Hahaha saya kalo baca novel emang begitu, terlalu menghayati. Kata-kata yang paling saya sukai dalam novel ini adalah "Ketika kau kehilangan semangat, ingatlah kata-kata ku dulu. Kehidupan ini seperti daun yang jatuh... Biarkan angin yang menerbangkannya..."

  Hum, saya ingin seperti Om Tere, menulis dan menjadi penulis terkenal. Aku sih suka banget dengan yang namanya "Menulis". Aku punya beberapa tulisan, pengennya diantara "Beberapa tulisan yang kusam" itu ada penerbit yang menyukainya. Dan akhirnya, saya bisa cari duit sendiri (Ya jadi penulis). Hahha rasanya terlalu tinggi khayala ku. Toh bukannya "Impian itu berawal dari mimpi?". Apa salahnya jika aku menghayal sekian tingginya, berharap jadi penulis dan bisa menghajikan Mak dan Abak. "Came one Dwi, You can do it. Bravo... Bravo Dwi."

   Sekarang saya sedang senang-senangnya menggeluguti hobby yang satu ini (Menulis). Kadang tulisannya nggak jelas, kadang nggak berbobot, kadang nggak tau banget alurnya gimana (Yang bacakan cuma saya saja, jadi yang memberi komentar pun saya juga, hehehe).

  Yang penting harus optimis, bahwa suatu saat nanti "Saya akan menjadi penulis, meskipun nggak bisa terkenal, setidaknya saya bisa menulis untuk diri saya sendiri dan setidaknya juga saya bisa membuat cerita Fable ataupun Farrytale untuk anak saya suatu saat nanti."

  Ingat pepatah lama "Where there's a will, ther's a way." Optimis :)

Kangen

   Nah kali ini saya akan menceritakan masa kecil saya yang "Cetar Membahana Badai Menggelegar Halilintar Pohon Tumbang" (Kepanjangan yah heheh). Ngomongin masa kecil nih, saya punya cerita tentang masa kecil saya. Dulu waktu saya kecil, saya itu cantik banget loh (Kata Mak saya, kata orang sih "Jelek, Item, de el el). Tapi, waktu kecil itu saya orangnya "Imut Imut" banget (Lebbay deh) itupun kata Mak saya. Kata orang sih "Amit Amit" banget.

Ini Dia, Taraaaa....



 Cantikkan??? (Ayo ngaku). "Cantik darimana coba?"

       Yuk kita lanjutin lagi. Dulu, waktu saya masih kecil "Uwa" (Nama kesayangan untuk kakak laki-laki dalam Bahasa Kerinci) sangat dekat dengan saya. Dekaaaaaaaat banget, seperti lem tikus (Aduh lebbay lagi deh). Uwa saya itu berbanding sepuluh ribu dengan saya. Saya mancung (Eh salah). Saya pesek sedangkan Uwa saya Mancung. Saya pendek sedangkan Uwa saya tinggi. Saya Item sedangkan Uwa saya putih. Saya jelek sedangkan Uwa saya ganteng. "Oh Mak, kenapa saya seperti ini?" (Aduh lebbay lagi). Tapi, saya cukup bangga dengan yang saya punya. Saya baik (Ceh ilaaah) sedangkan Uwa saya tidak terlalu baik. Saya ramah (Ceh ilaaah, tambah parah) sedangkan Uwa saya Cuwek. Saya pinter (Ceh ilah, tambah parah lagi deh) sedangkan Uwa saya tidak terlalu pinter, pinter masak maksudnya (Wkwkwkkw). Saya rajin (Udah Dwi, berhenti memuji diri sendiri) sedangkan Uwa saya pemalas. Saya nggak pernah marah (Stop Dwi) sedangkan Uwa saya marah terus. Saya suka nyanyi-nyanyi dikamar sedangkan Uwa saya suka nyanyi dalam hati (Siapa yg mendengarnya?). Pokoknya, saya dan Uwa berbeda sekali.

Kangen digendong oleh Uwa :'( .

Kangen 18 tahun yang lalu. Rumah kita masih jelek waktu itu :'( .


So sweet kan. Lagi pegangan tangan (Tapi kenapa saya item banget ya?)

     Huhuhu jadi pengen nangis deh. "Aduik (Nama kesayangan untuk Adik dalam Bahasa Kerinci) Kangen Uwa." Kangen saat disuruh nyuci bajunya yang kotor dan menumpuk sebataliyon dikamarnya. Kangen dimarahi karena sering tidur sampe larut malam. Kangen saat disuruh ini-itu. Kangen saat nyetrika baju kantornya kalo pagi snen. Kangen saat disuruh masangin dasi dikerah bajunya(Ini paling romantis loh, kayak di Film-film gitu) padahal kan bisa sendiri. Kangen saat rebutan makanan. Kangen saat rebutan acara TV. Kangen saat berantem dan nggak saling tanya dalam beberapa hari. Kangen matanya yang tajam saat marah. Kangen senyumnya yang manis saat bahagia. Pokoknya "You Are My Best Brother."



    Terus, aku kangen dengan seorang wanita yang berhati mulia. Yang sering ku kencingi setiap malam ketika aku masih bayi, bertahun-tahun aku kencingi tapi Beliau tetap tersenyum juga. Yang sering ku ganggu tidurnya setiap malam, bertahun-tahun. Aku nakal, aku bandel, aku rewel waktu itu. Aku sering nangis nggak jelas. MInta dibeliin Ice Cream ketika tukang es lewat. Minta dibeliin Roti ketika tukang roti lewat. Aku pun tak peduli, entah Beliau punya duit ataupun tidak. Aku nggak mau makan kalo nggak disuapi, aku nggak mau mandi kalo nggak dimandiin, aku nggak mau ke sekolah kalo nggak diantar, aku nggak mau nyisir rambut jika nggak disisir. "Oh Mak, Maaf, betapa durhakanya aku waktu itu." Mak, anakmu yang rewel itu sudah besar sekarang. Umurnya 18 tahun, rambutnya udah nggak kusut lagi, makannya udah bisa sendiri (Masak udah pinter banget, ciyeee), nggak pernah nangis lagi, nggak bandel lagi, nggak pernah jajan sembarangan lagi. Pokoknya, Mak tenang saja ya dikampung. Dwi disini bisa kok jaga diri baik-baik. Pokoknya nggak bakalan membuat Mak dan Abak kecewa. Mak dan Abak yang sehat ya? Tunggu anak mu sukses, tunggu anak mu menepati janjinya "Akan membawa Mak dan Abak ke kota Mekkah, bareng. Kalo anak mu sukses dan punya banyak duit."


     "Aduik kangen."


    Terus, aku juga merindukan sosok laki-laki yang penuh kasih, penuh sayang, penuh dengan ketulusan. Sosok laki-laki yang sabar, kalem, sopan, tidak banyak bicara, penuh nasehat, penuh cerita, hangat dan lucu. Yang sering marah ketika aku lupa makan karena harus menyelesaikan semua Pe Er Pe Er ku. Yang selalu marah ketika aku semalaman depan komputer karena harus menyelesaikan tugas akhir semester. Yang sering marah ketika aku lupa solat. Yang sering marah ketika aku bangun kesiangan pada hari minggu. Dan aku tau, semua itu karena Abak sayang aku.

   Kangen Abak.
   Hum, kangen nenek. Waktu aku kecil selalu dikasih duit (Hehehe), selalu mencubit pipi ku, mencium kening ku, menggendong ku, membuatku tertawa, dan membuat ku berhenti menangis. Tapi, ketika aku udah besar, aku malah jarang datang ke rumah. Pas ditanya, alasan ku itu-itu aja. "Nggak sempat Nek, sekolah pulangnya sore, nggak sempat kemana-mana." "Trus, hari minggu ngapain aja dirumah, Cu?". Aku hanya menggeleng, nggak bisa menjawab apa-apa. Dulu, Nenek nggak pernah bilang nggak sempat ketika aku ingin digendong olehnya, entah hari senin, selasa, .... minggu... kapan aku datang, Nenek siap. Nah sekarang, aku datang kerumah paling-paling sebulan sekali, kadang nggak pernah sama sekali. Ketika aku bilang "Mau Berangkat", Nenek sedih banget. Katanya, kalo sampe dirantau orang, jangan nakal, tetap jadi anak yang baik. Love You (Grand Mom).







  Hum, ada lagi yang paling aku kangenin. Dua orang sahabat ku, yang lucu, asyik, seru, apa adanya, menyenangkan, baik, ramah, dan masih banyak lagi.




Kita bersahabat dari SMP (Liat tuh potonya, rambutnya masih dikepang dua, dasinya masih biru, masih ABG, masih PD kalo nggak pake jilbab) Tapi kebanyakan orang berkata bahwa kita bersahabat dari kecil. Dan bahkan banyak yang bilang kalo kita itu bersaudara (Saking akrabnya). Mama mu, mama ku juga. Mak ku, mak mu juga. Papa mu, Papa ku juga. Abak ku, Abak mu juga. Cuy, aku kangen. Kangen saat gila-gilaan dikamar mu. Kangen saat baca novel seharian, kangen saat main volly didesa seberang (Kita perginya nggak bilang-bilang, takut ada yang marah) hehehhe, kangen curhat-curhatan dengan mu diruang tamu, kangen saat makan bareng, dan pokoknya aku kangen sama Uni.



Aku kangen Ita Maria. Sahabat sekonco ku. Sahabat seperjuangan. Teman curhat ku. Kangen saat SMA, biasanya selalu kesekolah bareng, dingin. Pulangpun bareng. Kita pernah telat karena motor kita mogok. Kita pernah dorong motor sekian jauhnya karena kehabisan bensin. Pas ramadhan kita telat terus karena bangun kesiangan. Kangen saat nyanyi-nyanyi diatas motor dipagi hari menuju sekolah. Kangen saat pintu gerbang tertutup karena telat. Kangen saat bersama mu.









Kangen :(

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Hallo... Perkenalkan, saya Haulia Dwi Putri, konsultan JAFRA Bengkulu. Aku akan membantu kamu menemukan solusi atas permasalahan kulitmu. Silahkan konsultasi dulu sebelum mebeli produk JAFRA yah? Konsultasinya GRATIS. More info : BBM : 7F7EA6CB WA : 087745074419

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates