MENUNGGU
Mataku terpaku
pada warna senja yang berwarna jingga. Burung-burung kembali ke tempat
peristirahatannya. Burung-burung pun ikut menghiasi indahnya langit disore ini.
Langit telah mengubah warnanya, lukisan alam terhias dikaki langit. Senja mulai
menghiasi, sang surya pun telah siap untuk menyembunyikan diri sejenak dari
hamparan langit. Sang surya telah beralih posisi dari ufuk yang jauh di timur
menuju ufuk yang jauh di barat. Ufuk barat dan ufuk timur tak pernah lelah
menunggu sang surya hadir kembali menghampirinya. Ufuk-ufuk itu selalu setia
menunggu sampai pagi dan malam menjemputnya. Sama halnya dengan diriku, telah
sejam ku duduk didepan teras rumah ku untuk menunggu orang yang sangat ku
cintai yang mungkin sedang asyik dengan seribu tumpukan kertas di meja kerjanya.
Mereka adalah Mama dan Papa ku. Orang tua yang super sibuk, yang kurasa tak
pernah mau peduli dengan ku. Aku sengaja menunggu Mama dan Papa pulang dari
kantor yang ditemani sama Pak Jon. Pak Jon adalah supir pribadi keluarga ku, beliau
telah lama bekerja disini. Aku lebih sering ditemani sama Pak Jon daripada sama
Papa dan Mama, saking seringnya ada yang bilang kalo aku adalah anak supir. Uhh
menyebalkan.
Azan
magrib telah berkumandang diseluruh penjuru kota Jakarta, Mama dan Papa juga
belum pulang. Udara dingin yang menusuk kulit ari ku seolah-olah ingin membawa
ku pergi dari tempat itu. Akhirnya aku kalah dari angin dan suara azan yang terdengar
seirama. Aku dan Pak Jon masuk kedalam kemudian langsung berwudu’ dan mengerjakan
ibadah yang sangat wajib bagi agama ku. Aku banyak belajar dari Pak Jon dan aku
sangat berterima kasih sama Pak Jon. Karena Pak Jon telah mengajarkan ku
tentang banyak hal. Pak Jon juga yang mengajarkan ku berwudu’, solat, ngaji, Pak Jon juga yang telah mengajarkan ku untuk
bersabar dan menjadi anak yang kuat. Pak Jon juga yang setia menemani ku jika
Mama dan Papa nggak ada dirumah.
Setelah
magrib usai aku berdiri diambang pintu sambil memegang buku yang sangat membuat
ku bangga. Buku yang penuh dengan jerih payah ku. Ku buka lagi buku itu yang
telah ku baca berkali-kali dari tadi. Jari telunjuk ku mulai mengikuti huruf
demi huruf, angka demi angka, ku lihat angka-angka yang sedang tersenyum lebar
pada ku, seolah-olah angka-angka tersebut menyatakan kebanggaannya pada ku.
Inilah raport pertama ku. Ingin ku tunjukkan pada Mama dan Papa bahwa hari ini aku telah membawa nama
mereka setinggi bintang diangkasa raya. Tapi , dihari yang bahagia ini aku
hanya menikmati kebanggaan itu sendiri tanpa Mama dan Papa. Ada rasa sedikit
sedih ketika melihat teman-teman ku bergandengan dengan kedua orang tua mereka
disekolah. Aku iri pada mereka, kenapa Mama dan Papa nggak datang ke sekolah,
padahal ini adalah raport pertama ku di Sekolah Dasar. Aku nggak berani protes
dan juga nggak berani untuk membentak.
Pak Jon yang datang
menghampiri ku secara tiba-tiba mengagetkan ku dari lamunan tentang kejadian
disekolah tadi.
“Tuan.. kok tuan ada disini,
diluar dingin tuan, nanti tuan sakit, masuk yuk.”
Pak Jon berusaha membujuk ku,
ku perhatikan wajahnya yang mulai kelihatan keriput, rambut putih mulai
menghiasi disetiap sisi kepalanya mengingatkan ku pada kakek ku di Padang, dia
sungguh sosok yang sangat berhati mulia.
“Habib mau nungguin Mama dan Papa pulang dulu,
Pak Jon,” Jawab ku polos.
“Kita
tunggu didalam saja ya, sebentar lagi ibuk dan bapak akan pulang,” Pak Jon
membujuk ku.
Aku menuruti perintah Pak
Jon. Aku duduk diruang keluarga yang jarang sekali bisa ku nikmati bersama Mama
dan Papa. Ku coba untuk menghibur diri, menonton tokoh kartun kesayangan ku dan
memainkan robot super hero yang dibelikan Papa seminggu yang lalu. Namun tak
ada yang bisa melukis senyum dihari ini. Ku lihat jam telah menunjuk pukul
21.00 wib, mata ku mulai terasa berat tapi aku lawan semua rasa ngantuk itu. Karena
aku nggak mau melewati momen bahagia ini sendirian tanpa Mama dan Papa.
Akhirnya aku kalah dalam
peperangan melawan rasa ngantuk ini, aku tertidur disofa ruang keluarga. Aku
mulai bermimpi, menghayal tentang Mama, tentang Papa, aku bermimpi bersama
mereka. Tapi tiga puluh menit setelah
itu ku dengar suara klakson mobil dipintu gerbang, aku masih belum ingin
beranjak dari sofa ini. Sangat sayang untuk ku lewati momen terindah bersama
Mama dan Papa meskipun hanya dalam mimpi ku. Aku mendengar suara hentakan
sepatu, aku mengenali suara itu, itu suara sepatu hak tinggi punya Mama.
Perlahan aku terbangun dari mimpi indah ku, ku usapkan kedua tangan dikedua
mata ku. Segera ku ambilkan raport ku, kemudiaan langsung berlari menuju Mama.
Penantian yang telah ku lewati selama kurang lebih enam jam tiga puluh menit,
akhirnya datang juga.
“Ma,”
ucap ku dengan manja sambil memberikan buku raport ku pada Mama.
“Ini
apa sayang,” Jawab Mama dengan nada yang benar-benar tidak tahu.
“Ini buku raport Habib, Mama
lihat deh, nilainya bagus-bagus loh Ma, Habib dapat peringkat kelas, Mama
senangkan.” Ucap ku dengan penuh harap bahwa Mama akan senang dengan nilai
raport ku.
“Jagoan
Mama pinter ya, ntar Mama kasih hadiah oke.”Sambil mencubit pipi ku.
“Oke
Ma, hmm Papa mana Ma..?”
“Papa lagi kerja sayang.”
“Emangnya
kerja itu nggak pake istirahat ya Ma,” tanya ku dengan nada polos.
“Bukan
gitu sayang, cuman Papa lagi ada urusan yang nggak boleh ditinggalkan, Habib
ngerti kan maksud Mama.”
“Hum
oiya Ma temenin Habib makan malam yuk Ma, Mama pasti lapar, please Ma.” Sekarang
nada ku sedikit memohon.
Mama hanya tersenyum kecil
dan segera membawa ku ke dapur. Ku coba untuk menikmati setiap menu yang ada dimeja
makan. Namun rasanya hambar, nggak enak karena nggak ada Papa. Ku hanya
memainkan butiran-butiran nasi putih itu yang kini telah berubah warna menjadi
merah kekuningan karena telah ku campurkan dengan menu makanan yang lain, ku
coba untuk menyuapkan sedikit sesuatu yang ada dipiring kedalam mulut ku. Ku
coba lagi untuk mengunyahnya, namun rasanya tetap hambar, nggak enak sama
sekali. Aku lebih memilih bermain dengan sendok dan garpu yang ku mainkan
bersama piring. Membosankan, sungguh membosankan. Ku pandangi wajah Mama yang
terlihat sangat cantik malam ini, tubuhnya mulai sedikit terlihat kurus, matanya
sayu tak bersinar. Mungkin Mama terlalu capek dengan pekerjaannya. Ku lihat Mama
juga tidak menikmati makan malamnya bersama ku. Yang ada hanya suasana hening
tanpa suara, sesekali Mama melemparkan senyumnya pada ku. Aku pun begitu,
berusaha untuk membuat Mama tersenyum.
Tak
lama setelah makan malam dengan Mama usai, terdengar suara klakson mobil Papa
di pintu gerbang. Segera ku berlari sambil membawa buku raport ku pada Papa.
Mama hanya geleng-geleng kepala melihat ku. Dengan mata yang berbinar ku
pandangi sosok yang sangat ku rindukan
kedatangannya, tubuh tinggi kekar yang tingginya sekitar 175 cm, dengan jas
hitam dan kameja putih yang sedikit terlihat rapi dan dasi biru tua yang melekat
di kerah bajunya serta sepatu kulit yang mengkilap dikedua kakinya. Senyum yang
selalu ku rindukan dari bibirnya.
“Pa.. ini buku raport Habib, Papa liat deh, Habib
peringkat kelas loh,” ucap ku.
“Wah anak Papa
hebat, Papa bangga sama Habib”. Ucapnya sambil mengelus-elus rambut ku.
Papa menggendong ku sampai ke kamar, sungguh
aku tidak ingin langsung ke kamar, sungguh aku masih ingin menikmati momen
seperti ini bersama Mama dan Papa. Tapi, mata ku terlanjur membawa ku ke kamar.
Sayup-sayup mata ku terlihat letih karena aku merasakan ngantuk yang sungguh
luar biasa hebatnya. Mama dan Papa mengecup kening ku, sungguh itu adalah
kecupan termanis dari Mama dan Papa.
“Selamat malam sayang, mimpi
indah.” Suara Mama berlalu dalam ruang gelap dikamar ku.
***
Pagi
yang dingin membuat ku menarik kembali selimut ke sekujur tubuh ku. Sang surya
belum hadir untuk apel pagi ini, suasana gelap masih belum berlalu. Suara azan
subuh juga belum terdengar. Aku bangun lebih awal, ku lihat jam di meja belajar
ku yang baru menunjukkan jam tepat pukul lima pagi. Segera ku ke kamar mandi
mengusapkan air ke wajah ku. Ku bersihkan sekujur tubuh ku, setelah itu ku
berwudu’. Ku ganti baju tidur ku dengan baju seragam sekolah, segera ku
ambilkan kopiah dan sejadah dilemari. Ku tinggalkan kamar yang telah ku huni
selama kurang lebih enam tahun ini. Ku beranjak dari kamar ku ke kamar Mama dan
Papa yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kamar ku. Ku coba untuk mengetuk
pintu kamarnya, berkali-kali ku ketuk dan ku ketuk, namun hanya kebisuan yang
ada. Ku rasa Mama dan Papa masih ngantuk dikamar. Terus aku langsung ke
belakang, berjalan ke kamar Pak Jon dan
Mbok Siti. Ku lihat mereka habis berwudu’. Azan subuh telah dikumandangkan,
pagi ini aku solat sama Pak Jon dan Mbok Siti. Dalam sujud ku aku selalu berdoa
pada sang pencipta.
“Ya ALLAH ya robbi, kembalikan Mama dan Papa pada ku. Jangan matikan
rasa sayang dan cintanya pada ku, aku sayang Mama dan Papa. Berikan waktu
mereka pada ku, meskipun hanya dalam beberapa menit saja. Ya ALLAH ya robbi,
tolong jaga Mama dan Papa, berikan mereka kesehatan. RABBANA ATINA FIDDUNIYA
HASANAH WAFIL AHIRATIHASANAH WAKINA ‘AZA BANNAR, AMIN”
Ingin
rasanya menangis, tapi aku terlalu gengsi untuk mengeluarkan air mata itu dari
kelopak mata ku. Ku pandangi dua sosok yang begitu tulus, wajah mereka terlihat
sedikit tua. Ku pandangi lagi doa-doa yang disanjungkannya pada Tuhan, ku lihat
mereka begitu tulus. Setelah selesai berdoa segera ku salami tangan Pak Jon dan
Mbok Siti.
“Pak Jon, Mama dan Papa mana
pak.”
“Udah pergi tuan.”
Sungguh
membuat ku kecewa, pengorbanan untuk bangun pagi-pagi hanya untuk melihat
senyum Mama dan Papa di pagi ini terasa sirna.
“ini kan masih terlalu pagi Pak. Masih jam
enam kurang lima belas menit kok udah berangkat kerja,” Ucap ku sedikit protes.
”Jakarta kan macet, jadi untuk
menghindari macet harus ke kantor pagi-pagi tuan”.
“Kok Mama dan Papa gitu sih Pak Jon.”
“Ya nggak
apa-apa lah tuan, itu kan demi kebaikan tuan juga, ibuk dan bapak bekerja kan
demi tuan, agar tuan bisa sekolah, beli mainan, beli kue, dan yang lainnya.”
“Pak Jon,
Habib merasa nggak seperti anaknya. Sangat jarang Habib mendapatkan perhatian yang
khusus dari Mama dan Papa,” Ucap ku dengan nada yang polos.
Pak Jon hanya
diam dan membisu seolah-olah ingin berkata tapi kosa katanya tak bisa terangkai
dengan indah hingga membentuk suatu kalimat yang mungkin ingin disampaikannnya
pada ku. Pak Jon hanya mengelus-elus rambut ku. Ku tatap wajahnya dengan penuh
tanda tanya. Aku pun tidak tau apa yang ingin ia ungkapkan pada ku, ada sesuatu
yang ingin Pak Jon ungkapkan tapi ada keraguan dimatanya yang membuat Pak Jon
menutup rapat-rapat mulutnya.
Pak Jon pergi
dari tempat, dia langsung ke gerbang untuk mencuci mobil. Aku pun beranjak dari
tempat, ku langsung ke kamar, mengambil tas dan buku yang harus ku bawa ke
sekolah. Kemudian aku langsung ke dapur, duduk termenung dimeja makan membayangkan bahwa Mama dan Papa sedang berada
didepan ku sambil tersenyum, menyuapkan beberapa menu makanan sambil sedikit
bercerita tentang apa yang telah kita mimpikan semalam, tertawa dan sedikit
bercanda ria. Aku merindukan sarapan bareng Mama dan Papa sebelum berangkat
sekolah. Merindukan kecup manis ketika Mama dan Papa berangkat kerja. Kadang
aku ingin marah, tapi marah pada siapa. Apakah aku harus marah pada waktu ?
Pada Tuhan? Pada Mama dan Papa? Aku
terlalu kecil untuk memberontak, usia ku hanya seperempat dari usia Mama dan Papa.
Aku hanya anak kecil yang berusia tujuh tahun, belum pantas untuk memeberontak.
Aku tak bisa hidup dalam dunia kesibukan orang tua ku. Materi tak selamanya
bisa membahagiakan ku. Aku butuh nonmateri, aku butuh waktu, aku butuh cinta, dan
aku butuh Mama dan Papa.
Pagi ini wajah
ku terlihat lebih kusut dari biasanya. Didalam mobil aku hanya termenung di
balik kaca jendela mobil, ku coba untuk menghibur diri. Ku coba untuk
menghitung mobil dan motor yang berderet sangat panjang yang sedang terjebak
dalam kemacetan. Satu.. sepuluh.. seratus sebelas.. seratus tiga puluh enam..
ahh capek. Namun aku tak mampu menghitung berapa jumlahnya, sangat banyak.
Macet , itu lah yang selalu ku rasakan di Jakarta, bukan Jakarta namanya jika
tanpa macet. Tapi aku berusaha untuk tetap menikmati suasana itu setiap pagi ke
sekolah. Pak Jon juga sama seperti ku, mencoba menikmati suasana macet dengan
musik dangdutnya. Ku lihat Pak Jon sangat menyukai musiknya. Setelah melewati
macet yang sangat panjang, akhirnya ku sampai di sekolah ku, gerbang yang dicat
berwarna hijau itu menyambut ku dengan tersenyum. Tapi aku hanya tersenyum
kecut dipagi ini. Ku coba untuk menghela nafas panjang, menghilangkan sedikit
kemarahan yang berkobar dalam dada ku. Ingin rasanya ku sampaikan kekesalan ku
pada tembok bisu itu, batu-batu kecil yang tersenyum pada ku, ku tendang begitu
saja.
Ku lihat
keceriaan pada teman-teman ku. Mereka terlihat sangat bahagia. Ku coba untuk
tersenyum pada mereka. Ku memasuki ruang belajar dengan murid sekitar tiga
puluh lima orang. Tubuh yang berukuran rata-rata sekitar 110 meter, lengkap
dengan seragam merah putih dan sepatu hitam yang mengkilap, nampak menikmati
suasana pagi ini. Ku coba untuk berkonsentrasi pada pelajaran ku, menghilangkan
rasa marah di dada ku. Tapi, bayang-bayang Mama dan Papa selalu mengganggu ku.
Konsentrasi ku pudar. Aku memilih untuk keluar kelas sejenak. Sungguh hari ini,
aku tidak bersemangat. Jam pelajaran pun usai. Aku menunggu Pak Jon menjemput
ku di gerbang sekolah. Ku lihat teman-teman ku juga melakukan hal yang sama
dengan ku. Tapi mereka sedikit berbeda dengan ku. Kebanyakan dari teman-teman
ku diantar jemput oleh mamanya, sedangkan aku setiap hari hanya ditemani sama
supir pribadi ku. Ada rasa yang sedikit aneh yang sedang bergejolak dalam dada
ku. Ingin rasanya ku berteriak pada mereka. “Aku iriiiiiii... aku iri, kenapa
Tuhan menciptakan suasana yang seperti ini”. Aku tersentak dari lamunan ku
karena suara klakson mobil Pak Jon telah mengagetkan ku. Suasana seperti itu
terus berlanjut. Aku yang setiap hari sarapan sendiri, makan malam sendiri,
mengerjakan tugas-tugas ku sendiri, bermain sendiri, hingga aku tumbuh menjadi
anak yang mandiri.
Aku mengambil
sisi positif dari kesibukan orang tua ku, ku coba untuk mengerti dari semua
kesibukan mereka.
# Tunggu cerita selanjutnya :)