Haulia Dwi Putri

Goresan Pena Kehidupan

Cara Mudah Menghapal Tata Nama Alkana

    Nah ngomongin tentang Kimia nih Sob. Sebelum sampe ke topiknya, saya ingin sekali bercerita sedikit tentang kimia. Saya itu suka sekali dengan Kimia. Guru Kimia favorit saya adalah Mr. Sudirman S.Pd, saya ingin sekali bisa sehebat beliau. Hum gagah, wibawa, pinter, baik, asyik, menyenangkan, pokoknya guru saya yang satu ini ":Perfect" banget deh. Mungkin karna beliau lah saya akhirnya "Terjerumus" kedalam dunia 'Kimia' ini, hehhee.

    Yuk kita belajar...


Ingat ya Sob "Minum Es Pake Bubur, Pen Heks, Hep (Mana expressinya), Okelah Nona Deka :)

Semoga bermanfaat :)


Cerita Dua Anak Yang Lagi Bokek

    Hari ini kesekian kalinya saya ke pantai. Rasanya nggak pernah bosan kalo main ke pantai. Entah pagi, siang (gosong pun nggak papa), sore (Ini yang paling indah), malam (Mau lihat apa kalo malam-malam, lihat pocong? Lihat penunggu pantai?) hahaha.

    Sebelum menceritakan tentang pantai, ada baiknya saya menceritakan keadaan saya saat ini. Tepatnya jam 11.35 (Ngantuk berat Cuy). Hanya tidak ingin melewatkan moment ini makanya saya "Terpaksa" menulis.

     Saya menceritakan secara garis besar saja. Pertama saya dan Iit Pranata pergi ketempat Photo Studio. Bukan mau photo tapi mau men"scan" photo lama (Maklum, anak rantau, dompet lagi tipis). "Bayarnya sekian dek," ucap Mbak-mbak itu sambil menyerahkan notanya. "Biar aku saja yang membayar," si Iit menjawab. "Waaah ternyata Si Iit ini lagi banyak duit," ucap ku dalam hati. Kata mbak penjaga studio itu "Tunggu 1 jam lagi". Yah terpaksa lah kami keliling-keliling, kalo nunggu disitu selama satu jam (Wah gawat tuh, bosan kelas kakap). Setelah keliling-keliling akhirnya kami bertemu dengan gerobak (Eit bukan sembarangan gerobak loh), yang ini gerobak yang paling bisa membuat dompet saya menipis sedikit. Ya ini dia (Gerobak Si bakwan dan gorengan lainnya). Maklum, saya kan suka sekali dengan Gerobak (Eh salah) gorengan makasudnya.

   "Buk, tahu dua, molen dua, bakwan dua, dan ini (Nggak tau namanya, dibilang tahu bukan tahu, dibilang bakwan bukan bakwan) dua," ucap ku sambil memberikan uang sepuluh ribu rupiah. Ibuk itu hanya mengangguk saja.

   Setelah itu kami mebeli minuman, dua buah minuman gelas. Setelah itu keliling-keliling lagi.
Terus, si Iit Pranata bertanya lagi "Kita makan dimana?" sambil menunjuk ke kantong plastik besar (Kantongnya aja yg besar tapi isinya cuma 8 buah gorengan) yang telah dipenuhi dengan bakwan dan kawan-kawan.

"Gimana kalo kita makan dipantai aja," saya mengambil inisiatip (Eh salah, 'inisiatif'maksudnya).

"Mboh gua, berarti kito gea ka pante neh (Ini bahasa asing, yang nggak tau, yah silahkan belajar dengan saya).

   Kami menyebrangi jalan. "Kito nuhak kawan neh baia lah" si Iit menyarankan.

  "Oke,"

   "Kenapa tadi kita nggak lewat disini saja ya? Kan ada Zebra cors," sambil garuk-garuk kepala.

    Oiya saya lupa, sebelum membeli gorengan, kami mampir dulu ke toko buku (Membeli double tip). Hahaha saking bokeknya, kami patungan beli double tip. Hihihi :D

   Kenapa saya merasa bodoh ya? Ah entahlah, Yuk kita lanjutin ceritanya.

   Si Iit memutar sepeda motornya. Alaaaaaa Si Tukang parkir telah mengintai, "Si Pattimura" saya terpakasa terbang ke Bapak Parkir itu. "Duit Seribu ku."

   Akhirnya kami jalan menuju pantai. Belok kanan, belok kiri, kanan, kiri, lurus, kanan, kiri, lurus, dan sampailah di Pantai Panjang.

   "Kita makan disitu saja, kan tukang jualannya nggak ada juga. Jadi, kita nggak akan ditawarin makanan atau minuman lainya," Si Iit bilang begitu. Saya sih nurut aja. Katanya sih ngirit isi dompet.

   Eh, nggak berapa lama kemudian datanglah Om-Om yang menawarkan minuman. Secara terpaksa kami memesannya juga. (Udah saya duga dari tadi).

   Ini dia taraaaa....


     Delapan buah gorengan, dua pasang air mineral, dan dua pasang kelapa muda, siap disantap. Nyam nyam nyami.


    
    Seperti inilah bentuknya kalo lagi bokek. :D Makan pun sambil mejam (Nanti bayar pake apa ya? Pake daun aja It) :D











     Soal bokek-bokekan kita tinggalin dulu. Yuk kita sambung ceritanya.
Setelah beberapa saat, datanglah gadis kecil yang ingin mengamen.
"Kau gadis ku yang cantik, coba lihat aku disini, na na na na na..." gadis tersebut sambil senyam-senyum.

"Aku ada duit," si Iit bersemangat.
Aku mulai seneng karena nggak perlu buka dompet lagi.
"Nih," ucap si Iit sambil memberikan uang logam (Lima ratus rupiah). Alaaaah memang lagi sama-sama bokek nampaknya.
"Ya udah, pake duit aku aja," aku pun mengeluarkan "Dua Ribu Rupiah" dari dalam dompet.

       Kasian juga kalo cuma ngasih "Lima ratus rupiah" padahal sigadis kecil itu udah bersusah payah menyumbangkan lagu terbaiknya. Malah kami request dua kali. Tapi kalo cuma ngasih segitu bisa langsung tsunami nih si Pantai Panjang.

      Setelah beberapa saat, semua menu habis dilahap (Sepertinya sedang lapar berat ni anak).

sebelum
sesudah




   Seperti nggak makan tiga hari saja (Hehehhe lebbay deh).

  Perut udah kenyang, saatnya kita berpose

 .



 Lagi sakit kepala kayaknya. (Biasa mikirin dompet).










Yang ini malah lebih parah lagi. Udah pusing tujuh keliling.


   Saatnya kita pulang. Karna jam udah menunjuk pukul 17.08.
Meskipun lagi bokek tapi tetap bahagia karena melihat pantai sedang tersenyum.

Eit, ada yang ketinggalan. Pas bayar parkir kami patungan lagi ( Saya nyumbang lima ratus, Iit nyumbang lima ratus, pas) Yuk kita pulang.

Aku Bukan Tokoh Figuran


MENUNGGU
Mataku terpaku pada warna senja yang berwarna jingga. Burung-burung kembali ke tempat peristirahatannya. Burung-burung pun ikut menghiasi indahnya langit disore ini. Langit telah mengubah warnanya, lukisan alam terhias dikaki langit. Senja mulai menghiasi, sang surya pun telah siap untuk menyembunyikan diri sejenak dari hamparan langit. Sang surya telah beralih posisi dari ufuk yang jauh di timur menuju ufuk yang jauh di barat. Ufuk barat dan ufuk timur tak pernah lelah menunggu sang surya hadir kembali menghampirinya. Ufuk-ufuk itu selalu setia menunggu sampai pagi dan malam menjemputnya. Sama halnya dengan diriku, telah sejam ku duduk didepan teras rumah ku untuk menunggu orang yang sangat ku cintai yang mungkin sedang asyik dengan seribu tumpukan kertas di meja kerjanya. Mereka adalah Mama dan Papa ku. Orang tua yang super sibuk, yang kurasa tak pernah mau peduli dengan ku. Aku sengaja menunggu Mama dan Papa pulang dari kantor yang ditemani sama Pak Jon. Pak Jon adalah supir pribadi keluarga ku, beliau telah lama bekerja disini. Aku lebih sering ditemani sama Pak Jon daripada sama Papa dan Mama, saking seringnya ada yang bilang kalo aku adalah anak supir. Uhh menyebalkan.
                Azan magrib telah berkumandang diseluruh penjuru kota Jakarta, Mama dan Papa juga belum pulang. Udara dingin yang menusuk kulit ari ku seolah-olah ingin membawa ku pergi dari tempat itu. Akhirnya aku kalah dari angin dan suara azan yang terdengar seirama. Aku dan Pak Jon masuk kedalam kemudian langsung berwudu’ dan mengerjakan ibadah yang sangat wajib bagi agama ku. Aku banyak belajar dari Pak Jon dan aku sangat berterima kasih sama Pak Jon. Karena Pak Jon telah mengajarkan ku tentang banyak hal. Pak Jon juga yang mengajarkan ku berwudu’, solat, ngaji,  Pak Jon juga yang telah mengajarkan ku untuk bersabar dan menjadi anak yang kuat. Pak Jon juga yang setia menemani ku jika Mama dan Papa nggak ada dirumah.
                Setelah magrib usai aku berdiri diambang pintu sambil memegang buku yang sangat membuat ku bangga. Buku yang penuh dengan jerih payah ku. Ku buka lagi buku itu yang telah ku baca berkali-kali dari tadi. Jari telunjuk ku mulai mengikuti huruf demi huruf, angka demi angka, ku lihat angka-angka yang sedang tersenyum lebar pada ku, seolah-olah angka-angka tersebut menyatakan kebanggaannya pada ku. Inilah raport pertama ku. Ingin ku tunjukkan pada                 Mama dan Papa bahwa hari ini aku telah membawa nama mereka setinggi bintang diangkasa raya. Tapi , dihari yang bahagia ini aku hanya menikmati kebanggaan itu sendiri tanpa Mama dan Papa. Ada rasa sedikit sedih ketika melihat teman-teman ku bergandengan dengan kedua orang tua mereka disekolah. Aku iri pada mereka, kenapa Mama dan Papa nggak datang ke sekolah, padahal ini adalah raport pertama ku di Sekolah Dasar. Aku nggak berani protes dan juga nggak berani untuk membentak.
                   Pak Jon yang datang menghampiri ku secara tiba-tiba mengagetkan ku dari lamunan tentang kejadian disekolah tadi.
                   “Tuan.. kok tuan ada disini, diluar dingin tuan, nanti tuan sakit, masuk yuk.”
                   Pak Jon berusaha membujuk ku, ku perhatikan wajahnya yang mulai kelihatan keriput, rambut putih mulai menghiasi disetiap sisi kepalanya mengingatkan ku pada kakek ku di Padang, dia sungguh sosok yang sangat berhati mulia.
                    “Habib mau nungguin Mama dan Papa pulang dulu, Pak Jon,” Jawab ku polos.
                   “Kita tunggu didalam saja ya, sebentar lagi ibuk dan bapak akan pulang,” Pak Jon membujuk ku.
                   Aku menuruti perintah Pak Jon. Aku duduk diruang keluarga yang jarang sekali bisa ku nikmati bersama Mama dan Papa. Ku coba untuk menghibur diri, menonton tokoh kartun kesayangan ku dan memainkan robot super hero yang dibelikan Papa seminggu yang lalu. Namun tak ada yang bisa melukis senyum dihari ini. Ku lihat jam telah menunjuk pukul 21.00 wib, mata ku mulai terasa berat  tapi aku lawan semua rasa ngantuk itu. Karena aku nggak mau melewati momen bahagia ini sendirian tanpa Mama dan Papa.
                   Akhirnya aku kalah dalam peperangan melawan rasa ngantuk ini, aku tertidur disofa ruang keluarga. Aku mulai bermimpi, menghayal tentang Mama, tentang Papa, aku bermimpi bersama mereka. Tapi tiga puluh  menit setelah itu ku dengar suara klakson mobil dipintu gerbang, aku masih belum ingin beranjak dari sofa ini. Sangat sayang untuk ku lewati momen terindah bersama Mama dan Papa meskipun hanya dalam mimpi ku. Aku mendengar suara hentakan sepatu, aku mengenali suara itu, itu suara sepatu hak tinggi punya Mama. Perlahan aku terbangun dari mimpi indah ku, ku usapkan kedua tangan dikedua mata ku. Segera ku ambilkan raport ku, kemudiaan langsung berlari menuju Mama. Penantian yang telah ku lewati selama kurang lebih enam jam tiga puluh menit, akhirnya datang juga.
                   “Ma,” ucap ku dengan manja sambil memberikan buku raport ku pada Mama.
                   “Ini apa sayang,” Jawab Mama dengan nada yang benar-benar tidak tahu.
                   “Ini buku raport Habib, Mama lihat deh, nilainya bagus-bagus loh Ma, Habib dapat peringkat kelas, Mama senangkan.” Ucap ku dengan penuh harap bahwa Mama akan senang dengan nilai raport ku.
                   “Jagoan Mama pinter ya, ntar Mama kasih hadiah oke.”Sambil mencubit pipi ku.
                   “Oke Ma, hmm Papa mana Ma..?”
                    “Papa lagi kerja sayang.”
                   “Emangnya kerja itu nggak pake istirahat ya Ma,” tanya ku dengan nada polos.
                   “Bukan gitu sayang, cuman Papa lagi ada urusan yang nggak boleh ditinggalkan, Habib ngerti kan maksud Mama.”
                   “Hum oiya Ma temenin Habib makan malam yuk Ma, Mama pasti lapar, please Ma.” Sekarang nada ku sedikit memohon.
                   Mama hanya tersenyum kecil dan segera membawa ku ke dapur. Ku coba untuk menikmati setiap menu yang ada dimeja makan. Namun rasanya hambar, nggak enak karena nggak ada Papa. Ku hanya memainkan butiran-butiran nasi putih itu yang kini telah berubah warna menjadi merah kekuningan karena telah ku campurkan dengan menu makanan yang lain, ku coba untuk menyuapkan sedikit sesuatu yang ada dipiring kedalam mulut ku. Ku coba lagi untuk mengunyahnya, namun rasanya tetap hambar, nggak enak sama sekali. Aku lebih memilih bermain dengan sendok dan garpu yang ku mainkan bersama piring. Membosankan, sungguh membosankan. Ku pandangi wajah Mama yang terlihat sangat cantik malam ini, tubuhnya mulai sedikit terlihat kurus, matanya sayu tak bersinar. Mungkin Mama terlalu capek dengan pekerjaannya. Ku lihat Mama juga tidak menikmati makan malamnya bersama ku. Yang ada hanya suasana hening tanpa suara, sesekali Mama melemparkan senyumnya pada ku. Aku pun begitu, berusaha untuk membuat Mama tersenyum.
                Tak lama setelah makan malam dengan Mama usai, terdengar suara klakson mobil Papa di pintu gerbang. Segera ku berlari sambil membawa buku raport ku pada Papa. Mama hanya geleng-geleng kepala melihat ku. Dengan mata yang berbinar ku pandangi  sosok yang sangat ku rindukan kedatangannya, tubuh tinggi kekar yang tingginya sekitar 175 cm, dengan jas hitam dan kameja putih yang sedikit terlihat rapi dan dasi biru tua yang melekat di kerah bajunya serta sepatu kulit yang mengkilap dikedua kakinya. Senyum yang selalu ku rindukan dari bibirnya.
 “Pa.. ini buku raport Habib, Papa liat deh, Habib peringkat kelas loh,” ucap ku.
“Wah anak Papa hebat, Papa bangga sama Habib”. Ucapnya sambil mengelus-elus rambut ku.
 Papa menggendong ku sampai ke kamar, sungguh aku tidak ingin langsung ke kamar, sungguh aku masih ingin menikmati momen seperti ini bersama Mama dan Papa. Tapi, mata ku terlanjur membawa ku ke kamar. Sayup-sayup mata ku terlihat letih karena aku merasakan ngantuk yang sungguh luar biasa hebatnya. Mama dan Papa mengecup kening ku, sungguh itu adalah kecupan termanis dari Mama dan Papa.
“Selamat malam sayang, mimpi indah.” Suara Mama berlalu dalam ruang gelap dikamar ku.

***
                Pagi yang dingin membuat ku menarik kembali selimut ke sekujur tubuh ku. Sang surya belum hadir untuk apel pagi ini, suasana gelap masih belum berlalu. Suara azan subuh juga belum terdengar. Aku bangun lebih awal, ku lihat jam di meja belajar ku yang baru menunjukkan jam tepat pukul lima pagi. Segera ku ke kamar mandi mengusapkan air ke wajah ku. Ku bersihkan sekujur tubuh ku, setelah itu ku berwudu’. Ku ganti baju tidur ku dengan baju seragam sekolah, segera ku ambilkan kopiah dan sejadah dilemari. Ku tinggalkan kamar yang telah ku huni selama kurang lebih enam tahun ini. Ku beranjak dari kamar ku ke kamar Mama dan Papa yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kamar ku. Ku coba untuk mengetuk pintu kamarnya, berkali-kali ku ketuk dan ku ketuk, namun hanya kebisuan yang ada. Ku rasa Mama dan Papa masih ngantuk dikamar. Terus aku langsung ke belakang, berjalan  ke kamar Pak Jon dan Mbok Siti. Ku lihat mereka habis berwudu’. Azan subuh telah dikumandangkan, pagi ini aku solat sama Pak Jon dan Mbok Siti. Dalam sujud ku aku selalu berdoa pada sang pencipta.
“Ya ALLAH ya robbi, kembalikan Mama dan Papa pada ku. Jangan matikan rasa sayang dan cintanya pada ku, aku sayang Mama dan Papa. Berikan waktu mereka pada ku, meskipun hanya dalam beberapa menit saja. Ya ALLAH ya robbi, tolong jaga Mama dan Papa, berikan mereka kesehatan. RABBANA ATINA FIDDUNIYA HASANAH WAFIL AHIRATIHASANAH WAKINA ‘AZA BANNAR, AMIN”
                Ingin rasanya menangis, tapi aku terlalu gengsi untuk mengeluarkan air mata itu dari kelopak mata ku. Ku pandangi dua sosok yang begitu tulus, wajah mereka terlihat sedikit tua. Ku pandangi lagi doa-doa yang disanjungkannya pada Tuhan, ku lihat mereka begitu tulus. Setelah selesai berdoa segera ku salami tangan Pak Jon dan Mbok Siti.
“Pak Jon, Mama dan Papa mana pak.”
“Udah pergi tuan.”
Sungguh membuat ku kecewa, pengorbanan untuk bangun pagi-pagi hanya untuk melihat senyum Mama dan Papa di pagi ini terasa sirna.
 “ini kan masih terlalu pagi Pak. Masih jam enam kurang lima belas menit kok udah berangkat kerja,” Ucap ku sedikit protes.
”Jakarta kan macet, jadi untuk menghindari macet harus ke kantor pagi-pagi tuan”.
 “Kok Mama dan Papa gitu sih Pak Jon.”
“Ya nggak apa-apa lah tuan, itu kan demi kebaikan tuan juga, ibuk dan bapak bekerja kan demi tuan, agar tuan bisa sekolah, beli mainan, beli kue, dan yang lainnya.”
“Pak Jon, Habib merasa nggak seperti anaknya. Sangat jarang Habib mendapatkan perhatian yang khusus dari Mama dan Papa,” Ucap ku dengan nada yang polos.
Pak Jon hanya diam dan membisu seolah-olah ingin berkata tapi kosa katanya tak bisa terangkai dengan indah hingga membentuk suatu kalimat yang mungkin ingin disampaikannnya pada ku. Pak Jon hanya mengelus-elus rambut ku. Ku tatap wajahnya dengan penuh tanda tanya. Aku pun tidak tau apa yang ingin ia ungkapkan pada ku, ada sesuatu yang ingin Pak Jon ungkapkan tapi ada keraguan dimatanya yang membuat Pak Jon menutup rapat-rapat mulutnya.
Pak Jon pergi dari tempat, dia langsung ke gerbang untuk mencuci mobil. Aku pun beranjak dari tempat, ku langsung ke kamar, mengambil tas dan buku yang harus ku bawa ke sekolah. Kemudian aku langsung ke dapur, duduk termenung dimeja makan  membayangkan bahwa Mama dan Papa sedang berada didepan ku sambil tersenyum, menyuapkan beberapa menu makanan sambil sedikit bercerita tentang apa yang telah kita mimpikan semalam, tertawa dan sedikit bercanda ria. Aku merindukan sarapan bareng Mama dan Papa sebelum berangkat sekolah. Merindukan kecup manis ketika Mama dan Papa berangkat kerja. Kadang aku ingin marah, tapi marah pada siapa. Apakah aku harus marah pada waktu ? Pada Tuhan?  Pada Mama dan Papa? Aku terlalu kecil untuk memberontak, usia ku hanya seperempat dari usia Mama dan Papa. Aku hanya anak kecil yang berusia tujuh tahun, belum pantas untuk memeberontak. Aku tak bisa hidup dalam dunia kesibukan orang tua ku. Materi tak selamanya bisa membahagiakan ku. Aku butuh nonmateri, aku butuh waktu, aku butuh cinta, dan aku butuh Mama dan Papa.
Pagi ini wajah ku terlihat lebih kusut dari biasanya. Didalam mobil aku hanya termenung di balik kaca jendela mobil, ku coba untuk menghibur diri. Ku coba untuk menghitung mobil dan motor yang berderet sangat panjang yang sedang terjebak dalam kemacetan. Satu.. sepuluh.. seratus sebelas.. seratus tiga puluh enam.. ahh capek. Namun aku tak mampu menghitung berapa jumlahnya, sangat banyak. Macet , itu lah yang selalu ku rasakan di Jakarta, bukan Jakarta namanya jika tanpa macet. Tapi aku berusaha untuk tetap menikmati suasana itu setiap pagi ke sekolah. Pak Jon juga sama seperti ku, mencoba menikmati suasana macet dengan musik dangdutnya. Ku lihat Pak Jon sangat menyukai musiknya. Setelah melewati macet yang sangat panjang, akhirnya ku sampai di sekolah ku, gerbang yang dicat berwarna hijau itu menyambut ku dengan tersenyum. Tapi aku hanya tersenyum kecut dipagi ini. Ku coba untuk menghela nafas panjang, menghilangkan sedikit kemarahan yang berkobar dalam dada ku. Ingin rasanya ku sampaikan kekesalan ku pada tembok bisu itu, batu-batu kecil yang tersenyum pada ku, ku tendang begitu saja.
Ku lihat keceriaan pada teman-teman ku. Mereka terlihat sangat bahagia. Ku coba untuk tersenyum pada mereka. Ku memasuki ruang belajar dengan murid sekitar tiga puluh lima orang. Tubuh yang berukuran rata-rata sekitar 110 meter, lengkap dengan seragam merah putih dan sepatu hitam yang mengkilap, nampak menikmati suasana pagi ini. Ku coba untuk berkonsentrasi pada pelajaran ku, menghilangkan rasa marah di dada ku. Tapi, bayang-bayang Mama dan Papa selalu mengganggu ku. Konsentrasi ku pudar. Aku memilih untuk keluar kelas sejenak. Sungguh hari ini, aku tidak bersemangat. Jam pelajaran pun usai. Aku menunggu Pak Jon menjemput ku di gerbang sekolah. Ku lihat teman-teman ku juga melakukan hal yang sama dengan ku. Tapi mereka sedikit berbeda dengan ku. Kebanyakan dari teman-teman ku diantar jemput oleh mamanya, sedangkan aku setiap hari hanya ditemani sama supir pribadi ku. Ada rasa yang sedikit aneh yang sedang bergejolak dalam dada ku. Ingin rasanya ku berteriak pada mereka. “Aku iriiiiiii... aku iri, kenapa Tuhan menciptakan suasana yang seperti ini”. Aku tersentak dari lamunan ku karena suara klakson mobil Pak Jon telah mengagetkan ku. Suasana seperti itu terus berlanjut. Aku yang setiap hari sarapan sendiri, makan malam sendiri, mengerjakan tugas-tugas ku sendiri, bermain sendiri, hingga aku tumbuh menjadi anak yang mandiri.
Aku mengambil sisi positif dari kesibukan orang tua ku, ku coba untuk mengerti dari semua kesibukan mereka.

# Tunggu cerita selanjutnya :)

Hal-hal unik ditempat yang baru


         Nah kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya ditempat baru. Maklum, saya merantau dari kerinci (Jambi) ke Bengkulu. Mahasiswi baru di Universitas Bengkulu. Oh nggak terasa udah jadi mahasiswi, padahal rasanya baru kemaren rambut ku dikepang dua. Ya disini, di Bengkulu, dikota yang penuh dengan sejarah. Ngomongin tempat baru, ada hal-hal baru yang saya temukan disini. Misalnya, nggak boleh motong ikan dengan potongan yang lurus. Ketika saya tanya alasannya sama tante, eh tantenya malah bilang gini "Nggak tau Wik" aneh kan? Trus, kalo kita sedang masak nih ya, lalu kita mau ke kamar sebentar dan ninggalin masakan tersebut dan itu juga nggak boleh. Trus saya tanya lagi sama tante "Te, kenapa nggak boleh?" Kali ini Tante berkomentar "Nanti mete (Dalam bahasa Bengkulu, mete adalah pacar) diambil orang." Apa hubungannya coba?

        Selain itu ada hal unik lainnya yang saya temukan disini. Misalnya tentang masakan, nama masakannya itu lucu-lucu. Ada "Gerodot" (Terung yang dimasak seperti rendang). Terung direndang? Kalo orang minang sih, daging yang direndang. Tapi rasanya enak banget loh. Selain "Gerodot" ada lagi temannya yang lain. Namanya "Sambal Uap" padahal masaknya nggak diuap tapi direbus dan ditemani dengan tempe goreng. "Sambal Uap" ini menjadi favorit saya selama disini.


Dan inilah hasil masakan saya dan tante. Taraaa :)


Selain tentang masakan, saya juga menemukan hal unik lainnya disini. Misalnya anak-anak. Anak-anak disini itu unik-unik banget. Misalnya yang satu ini, ni.


Anak yang satu ini, namanya M. Daffa Adisya. Teman-temannya memanggilnya dengan sebutan "Daffa." Tapi dirumah kami memanggilnya "Abang" meskipun masih 9 tahun tapi udah jadi "Abang", hebat kan si Daffa? Anak yang satu ini adalah anak paling aneh diantara anak-anak yang lain. Hobby nya, nyari batu (Lebih tepatnya "batu cincin"). Tiap hari bersepeda, main basket, main bola kaki, main game OnLine, kadang-kadang main bekel juga (hehhehe),  tiap pagi nonton spongebob, lebih parah lagi Si Daffa ini suka ngompol dan yang tak pernah ketinggalan adalah "Mencari Batu Cincin." Cita-citanya tambah aneh lagi, katanya dia ingin menjadi "Dukun" lebih tepatnya (Pawang Hujan) mungkin karena virus batu cincin kali ya? sehingga Si Daffa ini ingin sekali menjadi dukun. Tapi sebagai Kakak, saya ikut bangga sama Abang (Daffa) karena selalu dapat peringkat dikelasnya. Good Child :)

       Sekarang kita lanjut ke anak Unik berikutnya. Ini Dia.
       Anak yang satu ini namanya Alvin. Yang ini lebih parah lagi dari anak yang pertama tadi (Daffa). Kalo tidur suka Ngigau, suka nendang-nendang, penakut kelas kakap, kalo makan nggak pernah cuci tangan (Hahaha becanda, dicuci sih tapi jika disuruh aja), lebih parah lagi nih pas ujian kenaikan kelas. Pertama nilainya membanggakan sekali dapat 80, hari berikutnya dapat 70, berikutnya 60, berikutnya 50, berikutnya 40, berikutnya 30, berikutnya 20, berikutnya 10, dan terakhir "Nol Besar". Saya juga nggak habis pikir kenapa hari pertama Si Alvin ini dapat nilai 80 mungkin saja dia nyontek sama yang dapat ranking 1, mungkin. Si Alvin ini makannya lahap banget, anehnya kok nggak gede-gede ya? Trus, Si Alvin ini anaknya nggak nyambung banget. Pas kami main "Pancasila" sama Daffa, Wa Iit, Alvin dan saya sendiri, dianya nggak nyambung banget. "Pancasila ada beraaaaaapa?" kami berempat serentak mengacungkan tangan. "A". "Ayam" si Daffa menjawab. "Anjing" Wa Iit menjawab. "Angsa" saya menjawab. "Bebek" si Alvin menjawab. "Vin, kita kan main 'A' bukan main 'B'". Anehkan anak yang satu ini. Kalo membahas anak yang satu ini nggak pernah selesai deh kayaknya. Yuk kita lanjut ke anak berikutnya.

       Ini Dia, anak Unik berikutnya. Taraaaa simanis Chacha.
      Hahaha anak yang satu ini nggak kalah unik dari anak yang tadi (Daffa dan Alvin). Kalian pasti kenal Ajiz Gagap kan? Tokoh wayang di OVJ itu loh. Nah si Chacha ini sama persisnya sama Om ajiz.

"Yu yu yuk (Ayuk makasudnya. Ayuk itu panggilan untuk kakak) itu apa ya yuk?" sambil liat akuarium. "Aduh Chacha, ya ikan lah. Emangnya kerbau bisa masuk dalam akuarium."
 "Yu yu yuk, diatas itu apa ya?".
 "Aduh Chacha, itu kan loteng sayang. Nggak mungkin kan tembok."

    Anak yang satu ini memang suka bertanya hal-hal yang nggak jelas. Tapi manis sih anaknya. Lucu, cantik, imut, menggemaskan.

"Cha, besok datang kerumah lagi ya?" hahhaha.



Bunda Dengarlah...



Bunda, Dengarlah...


            Aku enggan untuk berbicara, enggan untuk mengucapkan beberapa kata, enggan. Bahkan aku enggan hanya untuk bilang “Iya” atau pun “Tidak”. Bahkan untuk menggeleng atau mengangguk saja aku enggan. Bahkan bintang pun enggan untuk mencoret dinding langit yang hitam pekat diatas sana. Entah kenapa? Aku pun tak tau kenapa bintang bisa senada dengan ku pada malam ini. Entah lah, mungkin saja kode alam. Mungkin.

            Tapi, tak akan ku tunjukkan ke engganan ku itu pada si Dia, tak pernah dan tak akan pernah.  Sedikit pun tak akan pernah, tak akan pernah, Bunda. Aku hanya bisa merunduk  sambil melihat taplak meja yang disulam Bunda ketika umur ku lima tahun. Bunga yang merah menghias indah ditaplak meja berwarna kuning muda. Benang wol yang hijau juga ikut mewarnai indahnya dedaunan di taplak meja itu. Tapi, tak seindah sesuatu yang sedang menghias dilubuk hati ku yang paling dalam. Diujung yang sempit, dicelah yang paling dalam, disudut yang terasa ingin bergemuruh, entah bagaimana bentuknya didalam hati ku, hanya bisa ku rasakan bahwa disudut itu, diujung itu, dicelah itu, ada sesuatu yang terasa mengganjal. Sesak.

            Malam semakin larut (Bukan larut sih, hanya saja aku ingin segera tertidur), tapi suasananya masih terasa pagi untuk Bunda, Ayah dan si Dia. Oh Bunda sungguh aku tak ingin duduk mematung disini. Tersenyum manis ketika ditanya, mengangguk sedikit dan terlihat anggun ketika “mengiyakan,” , duduk manis bak Putri Cinderella yang sering ku tonton ketika masih SD. Oh Bunda, ingin sekali ku mengatakan seperti ini “Bunda, boleh kah anak mu pergi ke kamar? Istirahat sebentar saja. Ingin segera bermimpi bahwa malam ini, diruang tamu ini, tentang si Dia, dan semua ini hanya mimpi.”  Bunda, apakah kau mendengar ku atau bisakah kau melihat dari raut wajah ku bahwa aku tak ingin berada disini? Bunda.

            Aku ingin menguap, tapi ku tahan saja. Aku ingin menutup mata ku (Karena ngantuk) tapi ku tahan saja demi Bunda. Duhai taplak meja, aku ingin menjadi dirimu, berteman dengan meja, selalu. Tak pernah marah ataupun kesal jika meja lama diganti dengan meja baru. Kau akan beradaptasi dengan meja yang baru, kau akan terlihat cantik dengan bunga-bunga indah yang menghiasi mu. Kau juga tidak akan protes jika suatu hari nanti kau akan dipindahkan ke meja yang lain. Dan kau juga tak akan pernah protes jika kau disimpan digudang tua (Alias tidak dipakaikan lagi).

            Aku ingin menjadi mu, menjadi “Benda”, benda apa saja. Tapi bukan benda yang hidup. Aku ingin tuli, aku ingin bisu, aku ingin buta, hanya malam ini saja, hanya saat ini saja, hanya beberapa jam saja, hanya sampai si Dia pergi meninggalkan rumah ini. Agar aku tak mendengar kata-kata itu, agar aku tak bisa melihat wajah tulus itu, agar aku tak bisa berkata “Iya” atau pun “Tidak”. Tuhan, ku mohon.


            Ceritanya semakin seru (tapi tidak bagiku). Semakin hangat (sama sekali tidak). Aku hanya berusaha bersikap manis dan sopan. Mata ku terpaku pada bunga merah yang menghias ditaplak meja. Merah yang berbeda dengan bunga-bunga yang lain.Lucu sekali. Aku masih ingat, dulu aku bersikeras ingin menyulam bunga-bunga itu seperti yang Bunda lakukan. Tapi, Bunda malah lebih keras dari ku. Hanya saja caranya yang diperhalus. Bunda tak ingin menyuruh ku menyulam. “Jangan, tangan mu masih kecil sayang. Nanti, kalo tertusuk jarum, kan sakit.” Ketika Bunda pergi ke dapur sebentar, aku malah melanggar pesan Bunda. Aku mencoba menyulam seperti yang Bunda lakukan. Satu bunga merah yang cantik dan lucu telah menghiasi taplak meja. Dua, tiga, empat, lima, lama-lama semakin seru. Hingga aku lupa karena keasyikan. “Aduh,” bunga ke enam menjadi penutupannya. “Tu kan, Bunda bilang apa.” Karena itulah kenapa salah satu bunga ditaplak meja itu berwarna seperti darah.

            Kali ini aku juga tak ingin melakukan kesalahan yang sama. Aku juga tak ingin melanggar perintah Bunda. Aku takut, aku takut terluka lagi seperti tujuh belas tahun yang silam. Saat menyulam bunga. Aku tak ingin, Bunda. Tapi, Bunda... sulit untuk ku jelaskan. Sulit, Bunda.
***
            Pembicaraan malam itu berlanjut. Malam ini si Dia datang lagi. Malam ini terlihat berbeda sekali, lebih rapi, lebih ganteng, lebih wibawa dan lebih membuat ku merasa takut. Lebih lagi, kali ini si Dia tidak datang sendiri tapi dengan pasukan yang ditambah. Wanita yang sebaya dengan Bunda, dan laki-laki tua yang lebih tua dua-tiga tahun dari Ayah juga hadir dan itu membuat ku lebih merasa takut. “Bunda, aku semakin takut.” Mobil mengkilap keluaran terbaru memarkir digerbang depan yang sempit. “Bunda dengarlah, Aku langit dan Dia bumi,” Bunda lihat aku, tatap mata ku, aku tak ingin dengannya, tak ingin, Bunda.



            Bunda mengedip ku, seolah-olah berkata “Cepat ambikan minum.” Aku segera kedapur, membuatkan teh panas sebanyak enam gelas. Aku menguping sedikit saat memasuki ruang tamu. Topiknya masih sama, tentang “Pesta”, tentang kebahagiaan, tentang masa depan, tentang... Ah aku malas memikirkannya.



            “Braaaaak.” Hati ku bergemuruh seperti halilintar, pecah seperti gelas yang jatuh dari lantai gedung paling tinggi, hancur seperti kapal Titanic dibekuan lautan es yang dingin. “Bunda, tidakkah kau tanya dulu, apakah aku mau ataupun tidak?” Secepat itukah, Bunda. Umurku 21 tahun, aku masih ingin menonton kartun sebelum berangkat kuliah, membacakan komik jepang, merengek manja pada Bunda, menangis sambil mengadu pada Ayah jika Bunda memarahi ku. Bunda, kuliah ku 2 bulan lagi, 22 januari aku akan ulang tahun ke 22. Belum siap, Bunda. Belum. Telur dadar, nasi goreng, aku akan merindukan itu setiap hari, tanpa Bunda, tanpa Ayah. Apa Bunda tega? Dengarlah Bunda.


***


            Minggu, 20 januari. Status ku berubah. Menikah.
Aku menuruti segala permintaan Bunda. Karena aku anak semata wayang yang Bunda punya. Aku tak ingin mebuat Ayah dan Bunda kecewa. “Bunda, aku tau, ini yang terbaik.” Sebelum ijab kabul dimulai, hanya aku dan Bunda yang berada dikamar pengantin, indah sekali. Aku berbicara empat mata dengan Bunda. Menjelaskan segala isi hati ku.
“Bunda, dengarlah. Aku sayang Bunda dan Ayah. Sayang tak ada duanya. Bunda, mau kah Bunda mendengarku? Beberapa menit saja.”
“Tapi, acaranya udah mau dimulai sayang.”
“Hanya sebentar Bunda.”
“Bunda, Bunda tau tidak. Dulu ada laki-laki, dia teman SD ku. Enam tahun kami tidak bertemu. Tapi, Tuhan membuat segala menjadi indah. Ketika aku menjadi mahasiswi, ternyata dia kakak senior satu tahun diatas ku. Aku pun penasaran, kenapa dia bisa menjadi kakak senior ku, padahal kami sekelas waktu SD. Dan hal itu terbongkar hanya beberapa hari saja, dia anak yang pintar, waktu SMP dia loncat kelas satu tahun. Dia sangat tampan, sangat pintar, sangat baik. Dia menyukai ku, Bunda. Tapi, setelah lama kemudian dia menghilang lagi. Aku kehilangannya, Bunda. Sebelum dia menghilang dari hidupku, dia pernah berkata suatu hal “Dia akan datang lagi ketika umur ku 22 tahun. Tepat pada tanggal 22 januari. Aku rasa itu tak akan terjadi, Bunda. Karena hari ini aku akan menikah dengan laki-laki yang tak ku inginkan. Tapi demi Bunda, aku menurutinya. Aku akan berusaha mencintainya, meskipun wajahnya bagai monster.”

            Bunda memelukku sambil menangis. Air mata ku, ku tahan saja. Karena takut, bedakku akan berantakan di acara pernikahan ku.

            Ijab kabul dimulai.
Aku duduk disamping laki-laki yang wajahnya sangat menyeramkan. Bunda bilang, wajahnya hancur ketika kecelekaan. Untung saja, Tuhan masih menyayanginya hingga dia bisa hidup sampai saat ini.



***
Hari ini, 22 januari. Ulang tahun ke 22 ku.
Suamiku, membangunkan ku pada jam 00.00 WIB. Membawakan kue ulang tahun dan kartu ucapan. Ada sebuah kado ditangan kirinya yang disembunyikan dibelakang punggungnya.
“Selamat ulang tahun istriku,” ucapnya. Aku hanya tersenyum sedikit sambil mengusap kedua mataku karena masih ngantuk. Juga, aku tidak ingin menikmati ulang tahun bersamanya. Aku ingin menikmati umur 22 ku dengan teman SD ku, dulu. Huh, aku meniup lilinnya. Sebelum meniup lilin, aku harus mengucapkan do’a tapi harus dengan suara yang keras, itu permintaan suami ku. Berat memang, mengucapkan suatu permintaan didepan suami dan permintaan itu mungkin akan membuatnya merasa sakit. Dengan berat hati dan rasa takut, aku mengucapkan permintaan ku “Aku ingin bertemu teman SD ku, memeluknya, menciumnya, dan bercerita panjang dengannya.”  Suami ku hanya tersenyum kemudian memberikan kado ulang tahun pada ku.  Aku membukakan kadonya tanpa rasa penasaran atau bahagia sedikit pun. Oh Tuhan, betapa kagetnya aku. “Foto itu,” kenapa dia memberikan foto teman SD ku, kenapa foto saat masih SD pun dia tau?. Aku bingung sendiri sambil menggelengkan kepala.

            Akhirnya, dia menjelaskan semuanya.
Oh Tuhan, orang yang ku cari selama ini adalah suami ku sendiri. Kenapa Dia menghilang? Karena dia takut membuat ku sedih. Kenapa dia tak pernah memberikan kabar? Karena takut, aku akan bertemu dengannya dan melihat wajah monsternya. Kenapa dia hadir lagi? Karena dia ingin mengobati rindu ku.



“Bunda, dengarlah. Terimakasih telah memilih orang yang tepat untuk ku. Terimakasih telah mempertemukan aku dengan dia yang ku cari-cari selama ini. Bunda, dengarlah, aku akan mencintainya. Meskipun dia tak setampan dulu, tak segagah aktor yang ada dikomik jepang, tak sesempurna dulu tapi aku akan tetap mencintainya, meskipun wajahnya sekarang seperti monster. Bunda, dengarlah...”

Si "B" yang Kembali Bersemi

        Hihihi Blog yang usang, udah banyak debunya. Dua tahun yang lalu pernah dihuni dan dihuni lagi pada tahun 2013, tepatnya di Bengkulu, Kamis, 27 Juni, jam  16.33 WIB, diruang tamu bersama Iit Pranata dan Tante Desy (Hahaha terlalu mendetail).

        Hum, untuk Iit Pranata,  terimakasih telah membantu saya membersihkan debu-debu di blog ini, seperti rumah yang ditinggal oleh penghuninya saja. Ruang tamunya masih berantakan, kamar tidurnya udah banyak tikus dan kecoa apalagi halaman depan dan belakang udah seperti rimba belantara (Lebay deh) hihihi :D ,

        Blog pertama ku (Terserahlah mau bilang apa, mau kampungan, ndeso, de el el, saya tidak peduli. Yang penting saya sudah berkata jujur). Dan setidaknya para penguasa di Negeri ini bisa mencontoh apa yang saya lakukan barusan (Hahaha becanda kok). Kalo dipikir-pikir sih, untuk apa juga para penguasa mencontoh saya, kurang kerjaan saja. Loh loh kok malah ngomongin penguasa-penguasa segala. Yuk lanjutin ke topik sebelumnya.

        Mengenai Blog, saya akan bercerita sedikit tentang Si "B" ini. Hum Si "B" ini sih kalo saya perhatikan huruf "B" nya sama seperti saya baru bisa menulis alphabet sekitar 14 tahun yang lalu, persis sama. Ibunda tercinta yang pertama kali mengajarkannya dan pada waktu itu entah kenapa saya suka sekali menulis Si "B" ini. Mungkin saja karena terlalu gampang untuk menulisnya diatas kertas. "Lurus, kemudian ujung pensilnya diputar180 derajat, berhenti. Kemudian putar lagi 180 derajat, berhenti. Dan jadilah Si 'B' ini." Gampang kan?

        Ada hal unik yang ada pada Si "B" ini, selain Gendut dia juga mempunyai banyak kelebihan. Saya lebih suka memanggil Si "B" ini dengan "Buku Raksasa". Dimana semua orang akan tau semua yang kita tulis, entah rahasia dan apa saja (Ah kok rahasia malah diekpose sih?). Terus, Si "B" ini juga hebat (Saya acungkan dua jempol untuknya) bayangkan saja, kita bisa membaca Diary seseorang dengan santai tanpa harus takut seseorang itu akan marah jika kita membacanya (Loh itu kan hak gue, Alay lagi deh). Terus Si "B" ini juga banyak kelebihannya, misalnya orang bisa terkenal gara-gara Si "B" ini. (Hebat kan?).

       Si "B" ku. :D


Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Hallo... Perkenalkan, saya Haulia Dwi Putri, konsultan JAFRA Bengkulu. Aku akan membantu kamu menemukan solusi atas permasalahan kulitmu. Silahkan konsultasi dulu sebelum mebeli produk JAFRA yah? Konsultasinya GRATIS. More info : BBM : 7F7EA6CB WA : 087745074419

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates