Haulia Dwi Putri

Goresan Pena Kehidupan

Untuk Ibu Ku Tercinta



MOTHER
        

        Entah kenapa pagi ini aku merindukan Ibu ku. Rindu, sangat rindu. “Oh Ibu, lagi apakah engkau disana? Aku disini baik-baik saja. Rasanya ingin aku pulang untuk melihat mu, sebentar saja. Tapi waktu yang membuat ku harus tetap bertahan disini. Ini demi cita-cita ku. Demi Ibu, demi Ayah, demi Kakak, dan demi keluarga kita. Ibu, sabar ya menunggu ku. Menunggu ku pulang, menunggu ku sukses, menunggu ku membawakan semua harapan Ibu dan Ayah. Ibu, yang sehat ya? Jangan sakit, jaga kesehatan mu. Aku ingin, jika suatu saat aku telah sukses, Ibu adalah orang pertama yang merasakan kebahagiaan itu.”

“Ibu, banyak sekali yang ingin ku ceritakan pada mu, banyak sekali. Tapi, aku tau, Ibu sedang bekerja keras untuk menghidupi ku disini, aku tidak mau mengganggu waktu Ibu. Ibu, aku juga tau, Ibu pasti ingin bercerita banyak hal pada ku, hanya saja Ibu tidak ingin mengganggu waktu belajar ku. Ibu ketahuilah, jika aku boleh memilih, aku memilih untuk tidak pernah berpisah jauh dari mu.”

        “Ibu, entah kenapa, disaat aku membahas tentang mu, aku selalu menitikkan air mata. Jika aku melihat orang tua yang berpakaian kotor (maaf), dekil (maaf), tak memakai sandalatau sepatu, seketika aku teringat dengan mu, Bu. Aku takut, suatu saat kau akan seperti itu juga diusia senja mu. Aku takut, aku tidak bisa memberi apa yang kau ingin kan. Aku takut, aku tak bisa mengabulkan semua harapan Ibu yang Ibu titipkan pada ku. Aku takut, Bu. Tapi ketahuilah Bu, selama aku masih bisa bernafas, akan ku perjuangkan semua harapan-harapan Ibu.”

        “Bu, aku sekarang sedang berjalan. Tempat tujuan ku masih jauh sekali. Bu, ketahuilah bahwa jalan yang ku tempuh tidak selalu mulus, terkadang banyak sekali kerikil-kerikil tajam yang ingin menghambat jalan ku ini. Tapi atas berkat doa mu, aku masih kuat untuk melalui perjalanan panjang ini. Bu, ketahuilah bahwa jalan ku tempuh tidak selalu lurus. Kadang ada tanjakan, kadang ada belokan, kadang berliku. Bu, aku yakin, aku bisa melewati ini semua. Percayalah”

        “Bu, tempat tujuan ku, masih jauh sekali. Ku harap, Ibu setia menunggu ku, menunggu ku pulang, menunggu ku membawa semua harapan-harapan Ibu.”

        “Bu, ada lagu yang ku persembahkan untuk Ibu.”

MOTHER BY SEAMO

"Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen
 
Boku wa nantoka yattemasu..."

“Hi mam, Ibuku sayang.., Apa yang sedang kamu lakukan?
Maaf, akhir-akhir  ini aku tidak menghubungimu..
Aku ingin beri tahu, kalau kini aku sudah sukses…”

Chiisana karada ni chiisana te
 Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa
 Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai
 Dakara kodomo ni mo tsutaetai

Tubuh mu kecil dan begitu juga tangan mu
rambut putih dicampur hitam yang sudah tumbuh lebih lama
Tapi bagiku kau masih lebih besar dari apa pun, lebih kuat dari siapa pun
Aku ingin bilang kepada  anak-anak ku tentang cinta ini “cinta yang mendukung  ku”

Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni
 Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai
 Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite
 Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru
 Jibun janaku boku no karada de

Meskipun aku tumbuh dengan tidak sabar  ketika aku dekat mu…
Ketika engkau jauh dari ku, aku merasa kesepian
Itu yang engkau lakukan untuk ku,
Engkau dapat menyelesaikan masalah  dengan menyelesaikannya
Dan engkau pemilik kesabaran yang luar biasa dan engkau adalah orang tertangguh yang aku kenal
Engkau akan selalu prihatin terhadap kesejahteraan ku sebelum dirimu sendiri
 
Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika
 Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta
 Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa
 Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa
Chiisana karada ni chiisana te
 Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa
 Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai
 Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Memasak, mencuci pakaian, membersihkan, membesarkan anak
Engkau bahkan bekerja selama waktu senggang
Engkau hanya akan membutuhkan hal-hal dari tempat terendah
Aku tidak mengerti meskipun saat itu begitu jelas
Barulah aku mulai hidup seorang diri dan kini aku mengerti
Setiap kali aku memikirkan berapa banyak yang telah engkau capai
Dan betapa sulitnya pasti, aku merasa seperti aku bisa mencoba melakukan sesuatu yg terbaik hari ini

"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi
 Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN
 Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata
 Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta
Aku akan mengatakan, "Bangunkan aku jam 07:00"
Dan engkau akan membangunkan aku tepat pada waktunya
Dan aku akan bersikap adil kepada mu…
Aku tidak akan berkata apa”, meskipun aku masih setengah tertidur  
Ini adalah rutin harian
Tapi, Engkau tidak pernah melihatkan wajah lelahmu di hadapanku
Dan itulah yang membuat ku terbangun setiap hari
Lebih hangat dan lebih akurat daripada jam alarm
Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
Futon kara ichido mo denu boku mae ni
 Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita
 Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa
 "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta

Tapi kemudian suatu hari aku bolos sekolah dan berkata, "Aku tidak mau pergi"
Aku tidak akan meninggalkan kasur ku dan engkau berdiri di depanku
Engkau pergi untuk Menyembunyikan wajahmu dan menutup wajahmu dengan kedua tanganmu dan engkau  menangis keras
Akupun merasa sangat sedih dan menangis
Pada waktu itu aku sangat menyesal dan aku bertanya-tanya , "Bagaimana mungkin aku bisa begitu bodoh?"

Chiisana karada ni chiisana te
 Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa
 Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai
 Kanshashitemasu 
My Mother...

Tubuh kecil dan begitu juga tangan mu
rambut putih dicampur hitam dan engkau sudah tumbuh lebih lama
Tapi bagiku kau masih lebih besar dari apa pun, lebih kuat dari siapa pun
Aku ucapkan terima kasih untuk cintamu selama ini “cinta yang mendukung ku,”
ibu ku….

Kodomo ni sakidattareru hodo
 Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo
 Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...
Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai
 Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...

Aku tau tidak ada lebih menyakitkan di dunia
Dari orang tua yang mengubur anak mereka
Jadi aku akan memastikan itu tidak pernah akan  terjadi
Bahkan jika aku hanya tinggal satu detik lebih lama dari mu
Aku akan memastikan itu ...
Aku senang  karena aku adalah  anak mu
Aku senang karena  kau adalah ibuku
yang tak akan pernah berubah
Dan Itu tidak akan pernah berubah untuk  selamanya
Karena aku adalah sesuatu yg sangat berharga bagi mu ...

Chiisana karada ni chiisana te
 Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa
 Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai
 Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Tubuh mu kecil dan begitu juga tangan mu
rambut putih dicampur hitam dan engkau sudah tumbuh lebih lama
Tapi bagiku kau masih lebih besar dari apa pun, lebih kuat dari siapa pun
Aku ingin bilang kpd  anak-anak ku tentang cinta ini “cinta yang mendukung  ku”

"Zutto boku no haha de ite
 Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara
 Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga..."

"Jadilah ibu ku untuk selamanya
Engkau masih memiliki satu pekerjaan yang tersisa untuk melakukannya
Dan itu adalah  untuk menerima cinta dan penghormatan dr anak mu..."

BERMETAMORFOSIS



BERMETAMORFOSIS
        “Mimpi apakah aku semalam?”
        Kalimat itu yang aku katakan pada sahabat ku dipagi itu. Hari itu, 10 Februari 2014, hari perdana kuliah di semester dua. Subhanallah, rasanya baru kemaren aku di ospek sama kakak tingkat, memakai atribut yang lucu, bertemu dengan teman-teman baru, suasana baru, dan hal-hal baru yang lainnya. Nggak terasa semester satu telah berlalu. Itulah waktu, terkadang terasa sangat singkat dan terkadang terasa lama sekali. Seperti lamanya waktu ku untuk bermetamorfosis.
        “Metamorfosis?”
        Kata-kata itu yang sering sekali ku katakan untuk menjawab semua pertanyaan dari mereka-mereka semua. “Dwi, kenapa kamu seperti itu? Nggak cantik, seperti Ibuk-ibuk. Kamu kelihatan lebih tua karena berpakaian seperti itu dan bla-bla-bla.” Apa jawabanku? “Alhamdulillah, aku telah bermetamorfosis,” sambil senyum pada mereka.
        Pagi itu, 10 Februari 2014, aku meminta sahabat ku (Namanya Susi) untuk mengajari ku, bagaimana caranya berhijab yang benar. Seorang sahabat yang telah membawa perubahan besar dalam hidup ku. Seorang sahabat yang terkadang seperti Ibu, terkadang seperti kakak, terkadang seperti Adik, dan terkadang seperti malaikat. Ya ALLAH, terimakasih Engkau telah kirimkan sahabat yang telah menuntun ku dijalan-Mu.
        Dan entah kenapa, pagi itu aku merasa cantik sekali. Kerudung merah terhias indah menutup aurat ku. “Bismillah” kalimat itu yang aku ucapkan.
“Subhanallah, Dwi, kamu cantik seperti ini. Aku serius. Tetap Istiqamah Dwi.” Ucap sahabat ku itu.
“Tapi, bagaimana komentar mereka nantinya. Aku takut,” ucap ku.
“Dwi, banyak sekali rintangan yang akan datang disaat kamu berjuang dijalan-Nya. Aku dulu juga seperti itu. Banyak yang bilang bagus dan banyak juga yang bilang jelek. Jangan hiraukan. Tulikan telinga mu untuk komentar-komentar negatif itu. Biarkan saja. Tetap istiqamah, aku mendukung mu,” sambil menepuk sedikit bahu ku.
Dan itu memang benar. Aku bertemu banyak sekali kerabat-kerabat ku di Universitas Bengkulu. Banyak sekali komentar-komentar negatif dan positif atas penampilan baru ku. Dan aku “Masa Bodoh Aja” yang terpenting aku “Cantik di Mata ALLAH.”
Aku ingat sekali, pesan dari Ukhti ku di UKM Kerohanian KBM Universitas Bengkulu, Mbak Iin namanya. “Adek, janji ya, akan tetap seperti ini, akan tetap setia dengan UKM Kerohanian ini. Janji sama Mbak, Adek akan tetap istiqamah dengan semua ini,” subhanallah ya ALLAH, hidayah apalagi yang Engkau berikan pada hambamu yang lemah ini. Aku semakin ingin dan semakin ingin memperbaiki diri, Insya ALLAH.
Dulu aku sering sekali mengatakan “Kapan ya, aku bisa seperti itu? Aku ingin seperti itu. Tapi, sikap ku belum pantas jika aku seperti itu. Terus, ibadah ku jelek sekali, solat saja masih bolong, jarang sekali baca Al-Qur’an, apalagi ibadah wajib dan sunnah lainnya.”  Dan Subhanallah, ALLAH telah menjawab semua pertanyaan ku. Menutup aurat itu wajib bagi seorang muslimah. Entah kita solatnya sering bolong, jarang sedekah, jarang baca Al-Qur’an, jarang jarang beribadah, dan bla-bla-bla. Tetap saja menutup aurat itu wajib. Dan ketahuilah, setelah aurat kita tertutup. Dengan sendirinya, kita akan berubah, kita akan menjaga sikap, menjaga tutur kata, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Percayalah wahai Ukhti.
Jadi ingat kata-kata Murabbi ku “Kita seperti kupu-kupu. Dibenci dan dicaci ketika menjadi seekor ‘ulat.’ Kita berdiam diri, merenungi diri ketika menjadi ‘kepompong.’ Setelah proses metamorfosis kita selesai, kita akan menjadi seekor ‘kupu-kupu’ yang cantik. Subhanallah. Dan ketahuilah, “Kupu-kupu tak akan pernah tau apa warna sayap mereka. Tapi orang-orang tau betapa indahnya mereka.”


BERMETAMORFOSIS

DONT MEAN I'M ALONE



DONT MEAN I’M ALONE
          Dingin mengusikku dibalik selimut lusuh dikamar biru ku. Subuh telah datang mengundangkan kedamaian dan ketentraman dibalik suara azan subuh yang sedang berkumandang dengan merdunya. Huh... ku hela nafasku, ku buka mata ku, ku tingalkan selimut lusuh ini. Ada yang berbeda dengan hari itu, ada yang hilang, ada yang pergi. “Ah, mungkin hanya perasaan ku saja,” ucap ku.
          Sendiri, ya hanya sendiri dikamar biru ku ini. Hanya bertemankan angin yang datang mengusik dibalik jendela kamar ku.
          Terdengar azan yang masih berkumandang didaun telinga ku. Dalam sujud ku, dalam do’a ku, ku titipkan sejuta harapan dan impian akan masa depan ku, untuk orang tua ku, untuk keluarga ku, dan untuk kerabat-kerabat ku.
          Hingga ujung waktu, aku tak akan jenuh dengan semua ini. Tak akan ku inginkan rasa jenuh singgah menyelinap dikehidupan ku yang baru ini. Tak akan dan tak akan pernah.
          Waktu itu aku benar-benar merasa sendiri, memang sendiri. Hidup sendiri dan jauh dari orang tua. Tapi entah kenapa, aku merasa bahagia sekali. Bahagia yang tak tertandingi, seperti seekor burung yang baru lepas dari sangkar emasnya. Ya Rabbi, terimakasih atas nikmat bahagia itu, terimakasih atas pagi yang indah itu, terimakasih Ya Rabb.
           “Seperti membuang seekor kucing yang dekil dan kotor.” Sedih, ya memang sedih. Hahaha, biarkan aku tertawa sebentar, biarkan aku melepaskan semua kegundahan ini. Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya “AKU INI BUKAN TEBU, HABIS MANIS SEPAH DIBUANG.”
          Aku berusaha melupakan apa yang telah terjadi disangkar emas itu. Yang lalu biarlah berlalu. Memaafkan itu indah. Seperti pesan Ibu ku “Nak, sebesar apapun kesalahan yang telah orang lain lakukan pada mu, maka maafkanlah. Sesungguhnya ALLAH itu tidak pernah tidur, Nak. ALLAH tau, siapa yang benar dan siapa yang salah. Bersabarlah.”
          “Sendiri? Kenapa aku harus takut dengan kesendirian? Buktinya, matahari saja sendiri.” Oh ternyata aku salah, salah besar. Sesungguhnya kita tak pernah sendiri, karena ALLAH selalu ada untuk kita. Buktinya, matahari tak pernah sendiri, karena ALLAH telah menciptakan bunga matahari yang selalu setia mengikuti cahayanya, karena ada bunga matahari yang selalu mengikuti arah matahari. Dan dunia tidak akan seindah ini jika tanpa matahari.
          Waktu itu, aku pernah berkata pada sahabat ku, namanya Susi.
“Si, aku benar-benar sendiri disini. Orang tua ku jauh disana, keluarga ku jauh disana, siapa lagi saudara ku disini?”
“Jangan sedih Wi, masih ada aku. Aku ini saudara mu, kamu itu saudara ku. Kita sama-sama merantau disini. Kita sama-sama mengejar cita-cita disini,” ucapnya sambil menggenggm erat tangan ku.
Terimakasih Ya Allah atas nikmat bahagia ini. Terimakasih untuk kedua orang tua ku dan keluarga ku, yang telah menyayangi ku sepenuh hati. Terimakasih sahabat ku tercinta, Uni, Ita, Susi, Nia, Aisyah, Julia, dan sahabat HIMAMIA yang lainnya. Makasih Ayuk tetangga dikosan ku, Ayuk Tin, Ayuk Desi, Ayuk Debol, dll. Makasi kawan sekosan ku, Nina, Dodo, Yupa, dan Enik.
Ya ALLAH, ternyata masih banyak orang yang mencintai dan menyayangi ku. Ya ALLAh, terimakasih. “AND I’M NOT ALONE IN THE HERE, THANKS GOD”
         
         

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Hallo... Perkenalkan, saya Haulia Dwi Putri, konsultan JAFRA Bengkulu. Aku akan membantu kamu menemukan solusi atas permasalahan kulitmu. Silahkan konsultasi dulu sebelum mebeli produk JAFRA yah? Konsultasinya GRATIS. More info : BBM : 7F7EA6CB WA : 087745074419

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates