INGIN
SEPERTI KAK AZLA
“Umi,
Azwa nggak mau masuk pesantren. Azwa nggak mau pisah dengan Umi, Abi, Kak
Azla, Bang Azam, dan si adik kembar Aina dan Aini. Azwa nggak mau Umi,” ucap ku sambil terisak.
Berkali-kali ku memohon pada Umi tapi tetap saja Umi bersikeras
agar aku masuk pesantren. Katanya agar aku bisa menjadi anak yang baik,
solehah, taat beragama, ini, itu dan bla bla bla. Aku sadar selama ini aku lah
yang paling bandel diantara keempat saudara ku. Akulah yang sering melanggar
perintah Umi. Aku sering sekali bolos mengaji. Setiap pagi aku yang selalu
kesiangan untuk solat subuh. Aku sering sekali membohongi Umi ketika disuruh
solat. “Wa, jangan lupa solat,” teriak Umi dari lantai bawah pada suatu hari. “Udah Mi,” jawab ku dengan berbohong.
Diantara keempat saudara ku, aku juga yang paling pemalas. Malas mandi, malas
bangun pagi, malas nyuci, apalagi nyuci sepatu dan kaus kaki, malas bikin PR
dan lain-lain.
Aku
di didik secara otoriter. Harus Bangun jam lima pagi, harus tidur siang, harus
sarapan tepat waktu, harus ini, harus itu, nggak
boleh ini, nggak boleh itu, dan masih
banyak lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, kami harus mematuhi perintah Abi
dan Umi. Tapi aku sama sekali tak pernah mematuhi segala perintah mereka. Jika disuruh tidur siang, aku malah main game
dikamar ku. Jika disuruh ngaji, aku pura-pura aja sakit perut. “Umi, dari kecil aku belajar ngaji. Aku udah
berkali-kali khattam Al-quran, aku tau surah Al-fatihah dan artinya, aku tau
baca surah yasin, aku tau baca ayat kursi, aku tau semua Umi, apalagi sih Umi. Aku bosan ngaji terus. Masa
udah kelas tiga SMP masih ngaji juga. Aku nggak
Umi, aku maunya ngaji dirumah aja, privat.
Kalo ditempat pengajian banyak anak kecil, aku nggak mau,” aku protes pada Umi
waktu itu. “Kamu hanya tau saja Nak, tapi belum bisa mengaplikasikannya dalam
hidup mu, makanya Umi menyuruh mu untuk selalu belajar Al-Quran,” ucap Umi. Itu
alasan yang selalu Umi katakan pada ku.
Aku
mempunyai karakter yang berbeda dengan ke empat saudara ku. Bang Azam adalah
anak sulung. Tahukah? Indeks Prestasi Komulatifnya 4,00 dan selalu menjadi
kebanggaan Abi dan Umi. Lain lagi dengan Kak Azla, selalu menjadi idola Abi dan
Umi, “Anak gadis itu harus seperti Kak Azla, pintar, rajin, pintar masak, patuh
dengan Abi dan Umi” Ah terlalu sering aku mendengar kalimat itu dirumah ini.
Adik kembar ku, Aina dan Aini juga
ikut-ikutan membuat Abi dan Umi terbang tinggi. Umurnya baru 7 tahun, tapi
prestasinya membuat ku sangat iri. Aina pernah menjadi juara pertama di
Olimpiade Matematika tingkat nasional, padahal Aina baru kelas tiga Sekolah
Dasar. Lain lagi dengan Aini, adik kembar ku yang satu ini memang pintar sekali
baca Al-Qur’an. Pernah menjadi juara pertama Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat
Nasional. Lalu bagaimana dengan ku? Tropi dan penghargaan menghiasi lemari
diruang tamu. Hanya aku yang tidak pernah mendapatkan tropi ataupun
penghargaan. Tidak ada tropi ataupun penghargaan yang berataskan nama ku
dilemari itu.
Aku
duduk diteras depan sambil menikmati senja yang indah. Burung-burung kembali ke
sarangnya. Langit nan biru telah berganti warna menjadi orange. Suara azan
berkumandang dipenjuru kota. Tiba-tiba suara Umi mengagetkan ku.
“Azwa, masuk. Solat
magrib dulu.”
“Iya Mi,” jawab ku.
Aku
hanya mengiyakan tapi tidak melakukannya. Angan-angan ku melayang tentang
pesantren, tentang kehidupan dipesantren, tentang berita-berita aneh di TV
mengenai pesantren. Akhir-akhir ini banyak sekali berita heboh yang mengatakan
bahwa kehidupan dipesantren itu seperti mendidik para teroris. Karena banyak anak
pesantren yang terlibat aksi terorisme. Apalagi tentang jadwal makan, katanya
hanya makan tempe dan tahu saja setiap hari. Apalagi tempat tidurnya, sekamar
bisa lima atau enam orang dan itu sungguh sumpek
sekali. Belum lagi tentang hiburan, tidak ada yang namanya Televisi, Handphone, Android, dan gadget-gadget yang lainnya. Oh bisa
dibayangkan betapa kuno dan katronya
sekolah ku nanti. Oh aku mulai pusing memikirkan hal itu. “Berarti harus pake
jilbab dong, kayak Ibu-ibu majelis taklim saja, ah nggak mau,” ucap ku sambil menggeleng-gelengkan kepaa.
“Hei
Peri Manja (Peri Manja adalah nama
kesayangan ku dari Bang Azam) kenapa
wajah mu kusut seribu seperti itu?” Bang Azam datang mengagetkan ku.
Aku
hanya diam seribu bahasa.
“Nggak mau cerita?” Bang Azam bertanya
lagi.
Aku
kembali terdiam.
“Tentang
pesantren?”
Aku
diam untuk kesekian kalinya.
“Peri Manja
ku, tahukah bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana terbaik dari setiap rencana_Nya.
Mungkin rencana Abi dan Umi tak sesuai dengan rencana mu, tapi ingatlah bahwa
rencana Allah adalah rencana terbaik dari setiap rencana.”
“Tapi,
aku nggak mau hidup dipesantren. Aku belum siap untuk berhijab. Aku ingin
melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas, bisa pakai rok pendek, gonta-ganti model
rambut, ngikut trendy masa kini. Aku nggak mau tampil seperti Ibu-ibu majelis taklim.
Aku nggak mau berhijab seperti Kak Azla. Jelek.”
“Bukankah
menutup aurat itu wajib dalam islam. Tahukah hukum wajib itu apa? Peri Manja ku, umur mu 15 tahun. Nilai
amal baik dan amal buruk mu selalu dicatat oleh dua malaikat yang selalu setia
disamping kanan dan samping kiri mu. Jika kau memakai rok pendek, malaikat yang
mana yang akan mencatat amal mu. Rakib atau Atid?”
Aku
terdiam.
***
Ternyata
Umi dan Abi benar-benar ingin menyekolahkan ku dipesantren. Abi telah mengurus
semuanya. Umi bilang, besok aku akan berangkat. Tiket kereta apinya telah dipesan.
Secepat itukah? Bukankah masa liburan masih dua minggu lagi. Aku belum bertemu
Yuna, Nayla, Anya, dan Putri. Setidaknya Umi kasih waktu sehari atau dua hari
untuk bertemu dengan teman-teman ku. Setidaknya Umi kasih waktu sehari untuk
mengelilingi kota ini dengan Vespa kesayanganku.
Malam
ini adalah makan malam terburuk yang pernah ada. Meskipun Abi dan Bang Azam ada
disini namun tetap saja terasa membosankan. Temanya itu-itu saja. Tentang
masakan Kak Azla yang enaknya luar biasa, tentang Kak Azla yang kelihatan
tambah cantik dan semakin mirip dengan Umi, tentang Kak Azla yang selalu dapat nilai
terbaik dalam setiap lembaran buku raportnya, tentang Kak Azla yang ini dan itu.
Sesekali menyinggung sedikit tentang Bang Azam. Tentang Bang Azam yang sebentar
lagi akan mendapat gelar sarjana S1 kedokteranya. Sesekali berubah topik ke
adik kembarku, Aina dan Aini. Hanya pujian.
“Kapan
kau berubah, rambut mu dipanjangkan dikit lah, udah 15 tahun begitu terus gaya rambut mu. Biar kelihatan ayunya.
Kata Umi, kau masih suka baca komik jepang ya?
Kapan sih waktu mu belajar? Belum lagi dengan Vespa buntut itu, berisik.
Mulai sekarang kau harus berubah. Besok kita akan ke pesantren, Abi yang akan
mengantarkan mu ke...”
Aku
membanting tangan ku dimeja makan. Yang spontan menghentikan pembicaraan Abi.
Semua mata tertuju pada ku. Suasana dimeja makan langsung berubah. Ku
tinggalkan sayur bening dan ikan asin kesukaan ku dimeja itu. Aku langsung tak
berselera menyantapnya. Aku meninggalkan meja makan dan langsung kekamar.
Menaiki anak tangga dengan rasa kesal yang sungguh luar biasa. Membuka pintu
kamar kemudian membantingnya agar tertutup kembali. Suara bantingan pintu itu terdengar sampai
lantai bawah. Yang lantas membuat Abi sempat berteriak. “Azwaaa...” aku tidak
peduli. Aku benci, aku kesal, aku.. ah terlalu sulit untuk ku katakan.
Aku
membaringkan tubuh ku diranjang sambil terisak. Ku pandangi foto keluarga ku
yang berada dimeja belajar. Saat ini aku ingin tersenyum manis seperti yang ada
difoto itu. Tapi berkali-kali ku coba tersenyum namun tetap saja ingin
menangis. Udah lama sekali aku tidak menangis. Tiba-tiba saja Umi datang, lalu
segera ku hapuskan air mata ku. Umi mendekat. Suara langkahnya membuat jantung
ku berdegup kencang. “Umi akan marah” pikir ku.
“Azwa
marah dengan Umi?”
Aku
menggeleng.
“Azwa
benci Umi?”
Aku
menggleng lagi.
“Lalu
kenapa akhir-akhir ini Azwa memasang wajah tidak suka pada Umi?”
“Nggak kok. Azwa nggak benci sama Umi.”
“Jangan
bohong sama Umi. Kamu itu anak Umi. Jadi Umi tau semuanya. Hentakan kaki mu
tadi sudah meyakinkan Umi bahwa Azwa marah sama Umi. Apalagi suara bantingan
pintu itu (Umi tersenyum) Iya kan?,” ucap Umi.
“Umi,
Azwa nggak mau masuk pesantren,” ucap ku singkat.
“Hanya
karena itu sehingga anak gadis Umi yang satu ini membenci Umi?”
“Kenapa
sih Azwa nggak boleh mendapatkan apa
yang Azwa inginkan? Dulu, Abi menyuruh Bang Azam untuk masuk disekolah militer,
tapi Bang Azam nggak mau karena Bang
Azam ingin sekali menjadi seorang dokter seperti Umi. Umi dan Abi setuju-setuju
saja dengan keputusan Bang Azam. Kak Azla ingin liburan akhir tahun bersama
teman-temannya, Umi setuju juga. Aina dan Aini ingin liburan ke rumah nenek di
Medan, Umi setuju juga. Terus ketika aku minta dibelikan sepatu roda, Umi dan
Abi nggak setuju. Aku nggak mau masuk pesantren, Umi dan Abi juga nggak setuju. Umi dan Abi nggak adil. Kak Azla selalu dipuji, meskipun masakannya nggak seenak masakan Umi tetapi Umi
selalu bilang bahwa masakan Kak Azla lebih enak dari masakan Umi. Tapi aku?
Ketika aku mencetak tiga gol saat bermain dengan Bang Azam dan teman-temannya,
aku tidak pernah mendapatkan pujian dari Abi dan Umi. Malahan Umi marah-marah
pada ku saat itu,” ucap ku sambil terisak.
“Maafkan
Umi jika Umi selalu membuat mu marah. Kamu belum mengerti Nak. Abi dan Umi
tidak ingin membuat anak-anaknya menjadi buruk. Ketika kamu minta dibelikan
sepatu roda, Abi dan Umi tidak membelikannya untuk mu karena Abi dan Umi takut
kamu terjatuh, Abi dan Umi takut kamu terluka, terpeleset, terkilir dan bisa
jadi patah tulang. Ketika kamu menceritakan pengalaman mu bahwa kamu telah
mencetak tiga gol saat bermain bola kaki bersama Bang Azam dan teman-temannya,
Umi dan Abi sangat khawatir, Nak. Apa kata orang ketika melihat anak gadis Umi
bermain dengan laki-laki. Kamu bukan anak kecil lagi Azwa. Umurmu bukan lima
tahun lagi, umurmu lima belas tahun, Nak. Jangan menganggap bahwa dirimu masih kecil.
Belajarlah untuk bersikap manis seperti Kak Azla,” ucap Umi.
“Umi
selalu membandingkan ku dengan Kak Azla.” Ucap ku kesal
***
Matahari
terlukis indah dilangit yang berwarna biru tua.
Tapi suasana hati ku sedang tak secerah matahari disana. Ini adalah hari
pertama ku dipesantren. Hari pertama yang membuat ku ingin pulang. Tiba-tiba
ada gadis sebaya dengan ku yang datang ke kamar ku. Ternyata dia juga anak
baru, sama halnya dengan ku. Namanya
Aisyah. Dia mengajak ku untuk ikut acara kerohanian di masjid yang ada
dipesantren ini. Sebenarnya aku enggan untuk datang kesana.
Terik
matahari membuat kaki ku semakin enggan untuk kesana. Teman baru ku ini sangat
bersemangat mengajak ku kesana. Sebenarnya aku malas bertemu dengan para wanita
berjilbab panjang dan para laki-laki yang tidak terlihat keren sama sekali. Oh
Tuhan, tempat apakah ini?
"Dan katakanlah kepada
perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada
memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka
memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan
hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan
janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami
mereka, atau bapa mereka atau bapak mertua mereka atau anak-anak mereka, atau
anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi
saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang
perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang
gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada
perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan;
dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang
tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,
wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya."
(Surah An-Nur, ayat 31)
Aku
tertegun ketika seseorang menjelaskan tentang ayat Al-Qur’an tersebut. Ternyata
disinilah Allah menjawab segala pertanyaan ku. Tempat apakah ini? Ya, disinilah
tempat orang-orang keren dan hebat. Ternyata selama ini aku salah, keren itu
bukan yang jago main basket, bukan yang punya motor gede, bukan yang gantengnya
seperti sinetron FTV. Tapi keren itu adalah keren dimata Allah. Mematuhi dan menjalankan
segala perintah_Nya. Termasuk menutup aurat. Akan ku cabut kembali semua
kata-kata ku yang mengatakan bahwa wanita berjilbab itu tidak keren, tidak
gaul, kuno dan sebagainya. Ternyata Bang Azam benar, Tuhan selalu mempunyai
rencana terbaik.
Sejak
saat itulah, aku mulai berubah. Menjadi pribadi yang lebih baik. Mulai saat
itulah aku mulai benar-benar ingin menutup aurat ku.
Kehidupan
dipesantren semakin membuat ku betah. Disini aku mendapatkan pelajaran yang
belum pernah ku dapatkan sebelumnya. Aku diajarkan banyak hal, tentang agama,
sosial, akademik, dan masih banyak lagi. Ternyata pesantren itu bukanlah dunia
para teroris. Bukan seperti yang ku bayangkan.
***
“Kenapa
harus besok, Umi?” ucap ku protes.
“Kak
Azla ingin bertemu dengan mu, udah setengah tahun Kak Azla tidak bertemu dengan
mu” jawab Umi.
“Tapi
kenapa harus besok. Disaat libur semester kan bisa, Umi. Seminggu lagi kan
libur semester,” ucap ku lagi.
“Tapi,
Kak Azla ingin bertemu dengan mu.”
“Umi,
besok ada ujian matematika.”
“Apa
artinya matematika, sayang. Satu ditambah satu samadengan dua. Dua dikurang dua
sama dengan nol. Apa artinya angka, sayang. Kakak mu ingin bertemu dengan mu.
Hanya itu yang dia inginkan.”
“Sejak
kapan Kak Azla rindu pada ku, bukankah dari dulu kami tidak pernah akur. Ah,
semakin membuat ku bingung saja.” ucap ku dalam hati.
***
Aku memilih untuk
mengikuti ujian matematika. Kenapa aku harus pulang. Seharusnya Kak Azla
mengerti dengan kondisi ku saat ini. Sejak kapan Kak Azla merindukan ku? Kan
Kak Azla bisa menunggu seminggu lagi untuk bertemu dengan ku. Yang terpenting
saat ini aku harus menyelesaikan ujian matematika ku dengan sempurna.
Telpon genggam ku
berdering setelah ujian matematika ku selesai. Ternyata dari Umi.
“Azwa,” suara Umi tidak
seperti biasanya.
“Iya Mi, ada apa?”
jawab ku dengan nada sedikit penasaran.
“Kak Azla...”
“Ada apa dengan Kak
Azla,” aku semakin penasaran.
“Tadi pagi, Kakak mu
tertidur untuk selamanya.”
Oh
Tuhan, apa artinya matematika jika kejadiannya seperti ini. Seharusnya aku
pulang untuk bertemu dengan Kak Azla untuk yang terakhir kalinya. Betapa
bodohnya aku.
***
Bunga-bunga
segar telah menghiasi tanah basah dipemakaman Kak Azla. Oh Tuhan, terasa ada
yang hilang. Terasa ada yang berbeda.
Setelah
acara pemakaman selesai, aku langsung ke kamar Kak Azla, untuk melepas rindu ku
padanya. Oh Tuhan semua kenangan bersama Kak Azla seolah-olah ada dihadapan ku.
“Azwa,
bukan begitu cara membacanya. Itu izhar bukan ikhfa,” ucap Kak Azla waktu itu.
“Dik,
rencana Tuhan itu seperti izhar, jelas. Dan rencana kita itu seperti ikhfa,
samar-samar. Jadi, Tuhan itu selalu mempunyai rencana terbaik,” ucap Kak Azla
ketika aku hijrah ke pesantren.
Dimeja
belajar Kak Azla, ku temukan kotak berwarna merah muda. Jilbab merah muda
menghiasi isi kotak tersebut. Ada kertas berwarna merah muda yang membuat ku
penasaran.
“Adik ku tercinta, saat ini kita
telah berada didunia yang berbeda. Tahukah Dik? Kakak rindu masa kecil kita.
Kamu bukan adiknya kakak yang seperti berumur lima tahun. Kakak ingin melihat
mu seperti dulu, pintar, rajin, patuh dengan Abi dan Umi. Kakak ingin melihat
mu kembali seperti dulu lagi. Buatlah Abi dan Umi bangga pada mu, Dik. Kakak
juga senang melihat mu menutup aurat. Adikku, kakak akan selalu merindukan mu.”
Sejak
saat itu aku ingin seperti Kak Azla. Agar Kak Azla terasa hadir kembali
diantara keluarga kecil ku ini.


