Haulia Dwi Putri
Archive for 2013
Sedikit tentang Galau
Pernahkah kalian merasakan hal paling aneh? Amat aneh, aneh sekali. Bayangkan saja, rasanya seperti ini. "Kita lapar tapi nggak mau makan. Kita ngantuk tapi nggak mau tidur." Anehkan?
Lantas, "Itu namanya apa?". Hahaha mungkin itu yang dikatakan "GALAU." Ya Galau, galau stadium akhir (Hehehe). Loh kenapa galau sih Dwi? Itulah kenapa saya susah menebaknya. Galau soal pacar? loh bukannya saya telah menjomblo selama sekian tahun. Galau karna Gebetan? Haha apalagi yang ini, saya tidak pernah ingin membayangkannya. Lantas, Galau karna apa?
Saya ingin bercerita sedikit tentang Galau. Beberapa tahun yang lalu saya pernah galau, tepatnya 2 atau 3 tahun yang lalu. Hahaha rasanya lumayan (Lumayan merobek hati). Akan ku ingat terus bagaimana rasanya saat itu. Hahah "hidup itu ganti-gantian" kata-kata itu yang selalu ku ingat. Kau pasti akan merasakan hal yang sama dengan ku suatu saat nanti. Karna "Hidup itu ganti-gantian". Senang itu ganti-gantian, susah itu ganti-gantian, galau itu ganti-gantian. Jadi, jangan pernah merasa bahwa Anda akan selalu diatas. "Hei Tuan yang jauh disana, Hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang diatas, kadang dibawah."
Hahaha, waktu itu saya masih setia dengan seragam "Putih abu-abu", saya sangat mengharapkan seseorang itu akan menjadi "The something in my life" tapi (Hahahhaha) "It's impossible Dwi." Lalu apa yang saya rasakan setelah itu? Hahaha saya Galau, galau berkelanjutan. Tapi saya masih bersyukur kepada ALLAH subhanahu wata'ala karena telah menyelamatkan ku dari "Para laki-laki Pemberi Harapan Palsu." "Thanks to ALLAH."
Dua minggu yang lalu, "Galau" itu datang lagi. Yang ini saya rahasiakan, "kenapa saya bisa galau." yang pasti bukan galau karena pacar (Saya kan jomblo lovers) :D
Dan baru saja, saya "Galau" lagi. Hahahaha :D (Yang ini rahasia juga) (Ingat ya, bukan karena pacar, saya jomblo lovers)
* Tulisan yang aneh :/
Cerita Dibumi Raflesia
Sabtu, 17 agustus 2013, Hari pertama PKK (Ospek)
Matahari masih tertidur nyenyak dikaki langit, masih bersembunyi, masih enggan untuk menampakkan diri. Tapi entah kenapa aku sangat bersemangat pagi ini. Bangun pagi-pagi sekali, dingin menusuk ke ari-ari. Loh kenapa? Biasanya jam segini masih tarik menarik dengan selimut, masih sayang meninggalkan bantal lusuh, masih sayang meninggalkan kapas kotak persegi panjang, masih sayang untuk membuka pintu, masih enggan untuk menuruni tangga. Lalu kenapa? Karena ada sesuatu yang telah lama sekali ku tunggu-tunggu. Lalu apa itu?
Mahasiswi, itulah yang selama ini ku tunggu-tunggu. Waktu masih sekolah, paling suka bercerita tentang perkuliahan, jadi Mahasiswi, nggak harus datang jam tujuh pulaang jam setengah dua, nggak harus les sampe sore, jadi anak kost, jauh dari orang tua, semuanya serba sendiri, dan sebagainya. Lantas setelah merasakannya, apa yang kurasakan? "O ternyata seperti ini rasanya" jawab ku.
Moment dihari pertama Ospek.
The Second Day, 18 agustus 2013, minggu, Hari kedua Ospek (Pkk)
Masih dengan rumus yang sama. Matahari masih enggan untuk menmpakkan diri, terlalu dingin untuk bangun dari tempat tidur, tapi ada sesuatu yang baru lagi yang membuat ku bersemangat. Yaitu bertemu dengan tean-teman baru ku. Haha aku ingin tertawa sebentar saja, rasanya kangen banget dengan teman-teman waktu SMA. Karena apa? Karena saya hanya sendiri disini karena teman-teman saya juga sama seperti saya, sedang berjuang mendaki tempat tertinggi. My friends, I miss u so much.
Lalu ada kejutan apa lagi dihari ini. Ini dia...
Saya cukup bangga dengan diri saya. Bukan bangga karena menjadi ilmuwan seperti Edison. Bukan bangga karena bisa sepintar Einstein. Lantas apa? Karena diantara tiga ribu lebih manusia yang ada disana, saya termasuk salah satunya. Satu plus untuk saya. Hahah Mak dan Abak saya pasti ikut bangga juga. "Harus membahagiakan orang tua," my aim.
Apa yang saya rasakan? Capek? Bersemangat?
"O seperti ini rasanya," jawabannya masih sama dengan hari pertama.
The third day, Senin, 19 agustus 2013, Hari ketiga Ospek (PKK)
Apakah rumusnya masih sama? Hari ini aku memulainya dengan rumus yang bebeda, lebih pagi, lebih bersemangat, lebih dan lebih lagi. Name tag sudah memajang dileher, perlengkapan ospek sudah siap. Gula, beras, susu, buku tulis, dan yang lainnya sudah berbaris indah dalam ransel ku. Sekali lagi, apakah dengan rumus yang sama? Tidak, persyaratannya adalah "TIDAK BOLEH MEMBAWA KENDARAAN." Hah??? Trus gimana caranya agar bisa tepat waktu kekampus tepat jam setengah enam? Jalan kaki? Ah, jauh. Trus, gimana cara pulangnya? Jaln kaki lagi?? Udah udah, tenang dulu. Hari ini kita berangkat pakek mobil dengan Om. Fighting :)
Apa yang aku rasakan hari ini?
"o seperti ini rasanya," jawabannya masih sama.
The Fourth Day, selasa 20 agustus 2013, Hari keempat Ospek (PKK)
Bumi raflesia ini masih hening, bahkan suara azan belum terdengar didaun telinga. Apa lgi matahari, sedang bersinar indah dipenjuru yang lain. Angin pagi menusuk ke ari-ari, tarik menarik dengan selimut lusuh, sesekali terdengar suara nyamuk yang seolah-olah ingin berkata "Bangun kawan, hari ini terakhir ospek, ayo semangat." Masih seperti kemaren, diantar lagi oleh Om. Makasih Om, Om turut bersemangat membantu. :)
Hari ini luar biasa rasanya. Bukan lagi "O, seperti ini rasanya" Tapi "Oh, luar biasa rasanya," Kenapa? Karena hari ini kita tampil jauh berbeda. Jas lab tertata rapi ditubuh, name tag telah menggantung dileher, masker, sarung tangan, dan kawan-kawan sudah menari-nari indah ditempatnya masing. Kita seperti ilmuwan besar, kawan. Seperti para peneliti, seperti profesor, seperti ini.
Haha, aku akan menceritakan pengalaman lucu ini pada siapa saja suatu hari. Bahwasanya, aku telah bertemu dengan kalian, teman baru ku, yang belum ku kenal sebelumnya. Seketika teringat lagi dengan teman SMA, "Sendiri dirantau orang dan dikota besar itu rasanya LUAR BIASA" Kerinci, i miss u.
Trus apa lagi yang membuat hari ini luar biasa? Kakak tingkat. Kakak tingkat yang telah setia menemani selama 2 hari. Yang telah memberi banyak ilmunya pada kami. Terimakasih Kakak.
Kak Novi yang sebelah kiri, Mbak Miyen yang ditengah, Kakak siapakah yang sebelah kanan? Wah saya lupa namanya. Maaf Kak.
Yang lagi duduk itu namnya Kak Ade. Bupati Himamia :)
Yang sebelah kanan itu namanya Kak Medhi, Kak Novi, Mbak dan Kakak itu saya nggak tau namnya.
Kakak-kakak yang bersemangat.
Mbak-mbak nya pun nggak kalah semangat.
Hari yang luar biasa. Para laskar-laskar Kimia pun juga ikut bersemangat.
Dipenghujung acara, kita poto-poto dulu. Sebagai satu dari beberapa l;embar halaman cerita kita.
Himamia, oke.
Kita stop dulu dengan cerita Himamianya. Bumi Raflesia, kau menjadi saksi bisu betapa takutnya aku waktu itu. Senja mulai menguning, burung-burung telah terbang kesarangnya. Semakin lama semakin sepi, malam ikut serta menyambutku, mulai sepi, mulai sepi, mulai sepi. Tak terasa air mata sudah membanjiri pipi, bebrapa puluh orang melihat kearah ku dengan nada yang aneh serta ikut penasaran. Loh kenapa? Seumur hidup belum pernah pulang jam segini, sudah malam, azan sudah berhenti berkumandang, jalanan udah mulai sepi. Bapak-bapak yang duduk diphoto copyan pun ikut bertanya. "Loh kok nangis dek?". Malu memang, mahasiswi, 18 tahun, sudah dewasa, tapi malah menangis dengan berlinangan air mata dipinggir jalan. Oh Bumi Raflesia, kau saksi bisunya betapa aku takut waktu itu. Handphone tiba-tiba ngedrop, nggak bsia menghubungi Om atau Tante untuk menyuruh menjemputku. Jalan kaki? Oh jauh, jauh sekali.
Beberapa kali aku membuka mata ku lebar-lebar. Udah gelap, nggak jelas lagi siapa yang lewat dan siapa yang berlalu dijalan itu. "Oh Om, cepatlah, takut, aku bukan orang sini, belum tau seluk beluk bumi raflesia."
Seketika ingat dengan keluarga kecil ku disana. Mereka pasti khawatir dengan keadaan ku saat ini. Seketika teringat dengan sahabat-sahabat ku, mereka juga tak kalah khawatir dengan keadaan ku. Seketika rindu rasanya, rindu itu tiba-tiba datang menghantui, menambah derai linangan butir bening dipipi. Berkali-kali kuhapus dengan lengan baju ku.
Air mata itu terhenti seketika, ketika Om dan Ponaan kesayangan ku datang menjemput bak Superman. Mereka memang pahlawan super ku. "Loh Kakak kenapa nangis?" Om penasaran dengan mata dan hidung ku yang tealh memerah. Aku hanya menggeleng. "Om jemput kok, lah nangis anak mama" Kemudian Om tertawa.
Akan ku ingat terus selamanya. Bumi Raflesia, kau saksi bisunya :)
ASAL USUL NAMA SEMERAP
* di copas dari Mamak (Abak Abang Ilko) wakteu nak Tugas Bahasa Indonesia
** Selamat membaca, semoga bermanfaat
About Semerap
Jodoh Pasti Bertemu
Lagu yang sering saya putarkan dikamar, setiap hari, hehehe. Lagunya so sweet banget. Cocok untuk siapa saja yang percaya dengan kata-kata ini "Jodoh Pasti Bertemu." Meskipun tanpa pacaran, tanpa pedekate, tanpa apa lah namanya, yang namanya jodoh pasti bertemu (Saya percaya 100%). Tak perlu kisah cinta yang romantis seperti Romeo dan Juliet yang rela mati demi jodohnya. Juga nggak perlu repot-repot nyari pacar sana-sini, kan kalo jodoh pasti bertemu, hehehe. Loh kok aku malah ngomongin jodoh? Hum kek mau married aja, hahhaha.
Lirik Lagu Afgan – Jodoh Pasti Bertemu
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Jika aku (jika aku) bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
(jika aku bukan jalanmu)
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Pesan Terakhir
Malam semakin sunyi, jangkrik-jangkrik udah mulai berisik, tapi suara TV dilantai bawah masih terdengar, syukurlah karena nggak akan ada yang mendengar bahwa saat ini aku sedang menangis. Bukan lagi galau karena pacar (Toh saya nggak punya pacar), lalu karena apa?
Hum, karena seseorang. Seorang Ibu yang pernah mengajarkan ku tentang banyak hal. Apalagi tentang Matematika. Dulu, sekitar 10 tahun yang lalu, wanita yang terlihat ganas, pemarah, masuk ke kelas ku. Membawa beberapa buku yang bersampul "Matematika" lengkap dengan alat tulis dan tak lupa pula membawa rol panjang. Akupun mulai menerka-nerka tentang rol panjang itu? Kira-kira utk apa? Menggaris? Loh, bukannya papan tulis kita digaris permanen? Penggaris buku? Kok panjang sekali. Belajar mengenai bangun datar? Kan kita belum belajar itu. Eh ternyata rol panjang itu adalah hukuman untuk kami. "Jika dikasih latihan, kami salahnya satu, maka dapat pukulan satu kali dari rol panjang itu. Enaklah yang dapat 1, kalo dapat 10? Kita bisa bayangkan sendiri gimana rasanya." Kami didik dengan cara yang otoriter. Keras, tegas, cepat, ligat dan tidak ada kata terlambat.
Waktu itu, umurku masih 8 tahun. Rambutku masih dikepang dua, seragamnya masih putih merah. Roknya masih pendek selutut, sepatunya hitam, pake kaus kaki panjang, ranselnya lucu, lucu sekali. Buku-bukunya masih bersampul barbie, princess, doraemon, dan kawan kawan. Uang jajannya masih selembar si Pattimura (Seribu rupiah) cukuplah sampe jam 12 siang. Tau tidak, umur segitu aku dan yang lainnya telah diajar dengan satu prinsip "Cepat, ligat, tepat" tidak ada istilah "Biar lambat asal selamat, tidak lari gunung dikejar." Katanya, "Bukan gunung yang harus lari, tapi kita yang harus lari menuju gunung itu." Waktu itu, aku masih belum paham dengan pribahasa itu, tapi setelah aku remaja, aku baru menyadari apa maksud dari pribahasa tersebut.
Aku menyukai matematika karena Ibuk (Guru SD ku), suka sekali. Pelajaran yang paling aku sukai waktu SD adalah belajar pecahan, KPK, FPB, bangun ruang, pembagian cepat, perkalian cepat. Aku masih ingat sekali dengan rumus ini "Ka Ba Ta Ku", waktu aku kecil ada Film Robot Jepang, nama robotnya "Kabataku." Katanya "Kalo kita melakukan perhitungan (Apa saja, bisa penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian) yang didahului adalah "Ka(Kali) Ba(Bagi) Ta(Tambah) Ku(Kurang)." Aku selalu memakai rumus itu hingga sekarang.
Ibuk juga mengajarkan banyak hal. Misalnya, bagaimana cara bersopan santun, bagaimana cara berinteraksi dengan hal-hal yang baru, bagaiman berfikir kreatif, bagaimana untuk selalu menjadi lebih baik. Aku masih ingat sekali, waktu itu ada Olimpiade di SD percontohan. Aku lupa bahwa hari itu kami harus berangkat. Bahkan, aku terlambat datang kesekolah. Kancing baju ku hilang satu (Mungkin copot karena tergesa-gesa), Ibuk yang menjahit kembali kancing baju itu, menyisir rambut ku kemudian dikepang dua, mengoleskan sedikit bedak diwajah ku, menyemir sepatu ku, entah kenapa aku berantakan sekali hari itu, mungkin semalam aku keasyikan nonton sinetron "Bidadari", sinetron favorit ku waktu kecil, pemeran utamanya Marshanda dan akhirnya kesiangan.
Mungkin diantara murid yang lain, akulah yang sering datang kerumah Ibuk. "Buk, ini gimana? Dijumlahkan dulu kan? Kalo ini gimana Buk? Bisa nggak pake cara ini? atau pake cara yg itu aja?" hahaha aku sangat kepo sekali waktu kecil. Suka bertanya, sering penasaran. Ibuk hanya senyum-senyum aja sambil mengelus kepalaku. Trus duduk disamping ku, meminjam pensil yang sedang ku pegang dan mulai menjelaskan. Aku suka, karena cara penyelesaiannya cepat.
Anak-anak ibuk, semuanya merantau. Suami Ibuk udah lama meninggal. Dirumah, Ibuk hanya sendiri. Pas pulang sekolah, kami selalu diajak main kerumah. Memanjat pohon belimbing yang berada dibelakang rumah. Memanjat pohon jambu air yang berada digerbang depan. Trus disuruh makan, "Jangan lupa nyuci piring ya Nak" kami semua tertawa. Main kejar-kejaran, main petak umpet dirumah ibuk (Karena rumah ibuk luas, kamarnya banyak yang kosong, tempat untuk bersembunyi pun banyak sekali).Hahahha terlalu indah masa kecil itu.
Ketika aku SMA, pas pergi sekolah, selalu menyapa Ibuk dipintu pagar rumah Ibuk. Wajah ibuk udah semakin keriput, punggung Ibuk udah nggak seperti 10 tahun yang lalu lagi. Mungkin jika disuruh memukul pake rol panjang pun nggak kuat lagi. Tapi, senyum tulusnya, wajah tulusnya, masih sama seperti 10 tahun yang lalu. Ibuk yang paling sering bertanya "Semester ini dapat peringkat berapa? Kalo semester kemaren peringkat berapa? Berapa nilai Matematika mu? Masih suka kan dengan Matematika?" pertanyaan itu yang selalu membuat ku bersemangat. "Masih ingat kan cara berhitung cepat? Masih pake prinsip "Cepat, Ligat, Tepat" kan?" Aku hanya tersenyum kemudian tertawa karena Ibuk terlalu bersemangat.
Ketika aku kuliyah, pertanyaan yang bersemangat itu pun kembali muncul. "Berapa nilai NEM mu? Nilai matematikamu berapa? Kuliyahnya dimana? Jurusan apa?" Pas aku bilang, aku kuliyah dibengkulu jurusanku Pendidikan Kimia. "Loh kenapa nggak ambil Matematika? Bukannya waktu SD, anak Ibuk yang satu ini pecinta Matematika?" Iya Buk, kan Kimia itu ada matematikanya juga Buk, jadi matematikanya nggak hilang kok, "Cepat, Ligat, Tepat" masih ada disini (Sambil menunjuk kepala).
Terakhir ketemu pas aku mau berangkat, meninggalkan kampung halaman, Kerinci tercinta. Ibuk memelukku, erat sekali. Bukan seperti pelukan guru terhadap muridnya, tapi seperti pelukan Ibu dengan anaknya. Pesannya "Tetap
selalu seperti ini, tetap selalu jadi anak ibuk seperti 10 tahun yang
lalu, yang selalu rajin bikin PR, yg selalu senang ketika disuruh mengerjakan soal matematika yang rumit, yang cerdas, baik, patuh sama
orang tua. Jangan nakal, jangan mudah trpengaruh dg keadaan yg negatif
yg disana. Kuliyah yg bener, ingat sama
orang tua di Kerinci." Setelah itu, mencium kedua pipi ku, seperti cucu
sendiri. Kemudian suaranya sedikit serak (Mungkin pengen nangis).
Menepuk-nepuk bahu kanan ku. Trus mengusap kepala ku. Trus menggepalkan
kedua tangannya sambil berkata "Semangat Anak Ibuk." Trus mengeluarkan
dompetnya dan memberikan 20 ribu rupiah untukku. Katanya untuk jajan.
Ternyata itu pesan terakhir dari Ibuk. Buk, moga tenang disana. Nanti, anak ibuk yang pecinta matematika ini akan membuat ibuk bangga disurga. Kelak, anak Ibuk ini akan membuktikan bahwa apa yang Ibuk ajar selama ini, bisa bermanfaat untuk orang lain.
Dwi selalu mendoakan Ibuk.
Sepuluh tahun yang lalu. Ibuk pernah mengajarkan anak ini tentang banyak hal. Apalgi tentang matematika, banyak. Yang sering ibuk cubit hidungnya, yang sering Ibuk elus rambutnya, yang sering Ibuk betulin ikat rambutnya. Buk, anak Ibuk ini udah besar sekarang. Udah dewasa, nggak seperti dulu lagi. Yang selalu nangis karena dpat nilai 8, yang ngotot untuk selalu dapat 10 plus, yang akan ngambek karena cuma dapat 10. Tapi, sekarang masih seperti itu Buk. Akan sedih karena nilai ulangan jelek.
Makasih Buk atas jasa-jasanya. You are my best teacher. You like My Mom, You like My parent. See you good bye, may ALLAH bless you. I will pray for you.
Cerita masa SMA Ku
Tiga tahun yang lalu, aku dan kalian semua melangkahkan kaki digerbang yang terasa asing. Ya, itulah hari pertama kita menginjak kaki disana. Topi kerucut, tas plastik, dasi pete, ikat pinggang sampah, ikat rambut yang super banyak, sepatu warna-warni, kaus kaki warna-warni, hahaha kita lucu, lucu sekali. Mirip orang gila, mirip sekali. Tapi, anehnya, kita bahkan tidak tertawa dan tidak ingin menertawakan yang lainnya, kita tampil biasa-biasa saja.
Hum, kita tidak saling kenal. Aku bahkan lupa, bagaimana awalnya kita berkenalan. Semuanya mengalir.
Dua tahun yang lalu, kita bertemu dalam sebuah ruang yang sangat aku rindukan hingga detik ini. Pintunya berwarna hijau tua, dindingnya berwarna merah bata dan kuning, tiang-tiangnya seakan-akan memagar, tertulis sebuah tulisan diatas pintu berwarna hijau tua itu "Kelas XI IA 2". Ya, disinilah awal cerita kita.
Tas baru, buku baru, teman baru, kelas baru, suasana baru, semuanya baru. Hum bahkan baru saja terasa, bahwa kemaren kita ulangan Matematika. Rasanya baru kemaren kita jajan dikantin. Rasanya baru kemaren kita ngumpul-ngumpul didepan kelas. Rasanya baru kemaren kita melakukan hal yang gila dalam ruangan itu. Rasanya baru kemaren kita bertemu diruangan ini.
Masih ingat tidak, ada banyak hal yang selalu ku ingat. Pas ulangan, banyak sekali yang super sibuk. Membuat catatan kecil yang disimpan didalam dasi, laci meja, dan tempat-tempat yang tidak seorang pun tau. Hal yang paling kita sukai adalah ketika ulangan dibatalkan. Sekelas serentak berkata "Horeee." Apalagi jika ada pelajaran Matematika, Fisika, dan Biologi (Hari kamis kita belajar itu) pas jam 10, lonceng udah berbunyi (Ada acara, mungkin rapat guru dan lain sebagainya), kita senang sekali, bahkan sampai loncat-loncat karena kegirangan.
Trus, pelajaran yang palin kita benci adalah SBK. Kita belajar jadi arsitek. Bikin meja, bikin kursi, bikin sketsa ini-itu dan masih banyak lagi. Tau tidak, kita paling takut jika tidak mebawa "Rol siku-siku", karena bisa diskor beberapa minggu. Saat itu, rol siku-siku adalah harta yang paling berharga.
Hahaha apalagi waktu belajar sore. Udah pada laper, udah bau keringat, tapi kita tetap belajar padahal tidak belajar. Cuma duduk, diam, catat, dengar, itu lebih baik dari pada diusir dari kelas. Ada yang mulai ngantuk, ada yang nguap, ada yang chatting, ada yang main game, ada yang ngobrol, ada banyak hal lainhya yang tidak bisa ku sebutkan. Tapi, hebatnya, guru kita nggak tau kalo kita tidak memperhatikan "Si Papan Tulis."
Kalo guru kita permisi sebentar (Mungkin ke toilet, mengangakat telpon, makan, dan lain sebagainya). Kita malah memanfaatkan hal itu. Berpose dikelas dengan gaya-gaya alay. Main kejar-kejaran pake sapu. Hahha aku kangen masa-masa ini.
Habibi dan Ainun ala Anak Garuda (Gerakan anak ipa dua)
Saat belajar sore. Sebelum Pak Guru dan Buk Guru masuk ke kelas.
Soal cinta. Ada yang terjebak cinta lokasi. "Ciyeeee" kata-kata itu selalu ada. Hahaha jadi kangen sama dua orang paling menyebalkan dikelas. Dua laki-laki yang duduk dibelakang meja ku. Yang sering goyang-goyangin meja pas aku sedang serius belajar. Yang sering nsuk-nusuk punggung pake pena kalo mau nyontek. Yang sering minta lembar jawaban ku ketika ulangan. Yang sering mengeledekku, yang sering mengerjaiku, yang sering bertingkah gila. Hahaha aku kangen mereka.
Hahaha yang pake baju biru sering sekali mencomblangi ku sama yang pake batik hijau. Teramat sering, kalo aku dan yang pake batik hijau lagi marah, yang pake baju birulah yang jadi badutnya (penghibur). Hahaha aku kangen dua orang ini. Sahabat ku, dimanakah kalian sekarang? Bisakah kita bertemu? Aku ingin menjeweri telinga kalian berdua, soalnya kalian terus membuat ku kangen.
Moment saat bersama Ahmad Hafizd.
Aku telah bercerita panjang lebar hingga aku lupa dengan pepatah lama "Dimana ada pertemua, disitu ada perpisahan." Ah, pada dasarnya aku malas sekali menceritakan hal yang satu ini.
Hari itu kita nggak pake seragam. Seragam putih au-abunya tertata rapi dilemari. Kita pake seragam yang lain. Sesuai dengan tema perpisahan kita. Aku bahkan berulang-ulang kali menata make up ku, karena terlalu sering mengeluarkan air mata. Bahkan belum sampe puncak acara. Apalagi, pas lihat cewek-cewek cerewet, teman sekonco ku. Lily kartiana, Noza Yulintan, Mayzura, Firsty Amalina, Aggun Mustika, Ilvia Rahmanisa, Deni Fitriani, Winda Novalia, dan masih banyak lagi. Mereka terlihat cantik hari itu.
Kita berpelukan, erat, erat sekali. Lama, lama sekali. Sesekali kita menghapus air mata, sambil bercerita tentang hal-hal lucu selama ini. Kita bahkan tertawa dalam tangis. Kita menyanyika lagu "Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa......." Sambil berkata "Aku sayang kalian, aku cinta kalian, jangan lupakan aku."
Hum, kini abu-abu itu telah berlalu, kawan. Akupun sedang berusaha mencari teman baru yang lucu seperti kalian. Sukses selalu untuk kalian yang disana. Moga kita bisa ketemu dilain waktu.
Dimusholla.
Saat mencuri pisang dibelakang sekolah :D
Kita lagi praktek renang :D
Saat dikebun :D
Baju Club baru :D
Atlit Volly kelas IA 2.
Lagi galau mikirin Ujian Nasional
Belajar di musholla
Yang sering nongkrong dibawah pohoin beringin.
Aku kangen kalian, Kawan. :D
Popular Posts
-
Asal Usul Nama Semerap Nama Semerap bukanlah diambil dari nama gunung, kayu, batu, danau, dan lain sebagainya. Tapi na...
-
MAAF Bengkulu, 01 Oktober 2015 Semoga suatu saat, kau akan membaca tulisan usangku ini. Entah kapan. Detik ini, eso...
-
Putih abu-abu ku telah berlalu. Sedih, sedih memang. Banyak hal yang terlukis indah dikampas kenangan yang tak mungkin bisa terhapus...
-
JEMBATAN KELEDAI UNTUK SISTEM PERIODIK UNSUR GOLONGAN A Golongan I A = Halina (adalah) kerabat Caesar dan Fr...
-
Nah ngomongin tentang Kimia nih Sob. Sebelum sampe ke topiknya, saya ingin sekali bercerita sedikit tentang kimia. Saya itu suka sekali ...
-
Hari ini kesekian kalinya saya ke pantai. Rasanya nggak pernah bosan kalo main ke pantai. Entah pagi, siang (gosong pun nggak papa), sor...
-
Hujan membasahi kota Bengkulu, dingin. Rintiknya seakan bernyanyi. "Tik tik ti..k" membentuk sebuah nada, nada yang tak asing l...
-
BERMETAMORFOSIS “Mimpi apakah aku semalam?” Kalimat itu yang aku katakan pada sahabat ku dipagi itu. Hari itu, 10 F...
-
Mengapa Harus Penyiar Radio? Mengapa harus penyiar radio? Pertanyaan pertama yang langsung “ nongkrong ” dalam otak say...
Pengikut
Mengenai Saya
- haulia dwi putri
- Hallo... Perkenalkan, saya Haulia Dwi Putri, konsultan JAFRA Bengkulu. Aku akan membantu kamu menemukan solusi atas permasalahan kulitmu. Silahkan konsultasi dulu sebelum mebeli produk JAFRA yah? Konsultasinya GRATIS. More info : BBM : 7F7EA6CB WA : 087745074419






























