Sabtu, 17 agustus 2013, Hari pertama PKK (Ospek)
Matahari masih tertidur nyenyak dikaki langit, masih bersembunyi, masih enggan untuk menampakkan diri. Tapi entah kenapa aku sangat bersemangat pagi ini. Bangun pagi-pagi sekali, dingin menusuk ke ari-ari. Loh kenapa? Biasanya jam segini masih tarik menarik dengan selimut, masih sayang meninggalkan bantal lusuh, masih sayang meninggalkan kapas kotak persegi panjang, masih sayang untuk membuka pintu, masih enggan untuk menuruni tangga. Lalu kenapa? Karena ada sesuatu yang telah lama sekali ku tunggu-tunggu. Lalu apa itu?
Mahasiswi, itulah yang selama ini ku tunggu-tunggu. Waktu masih sekolah, paling suka bercerita tentang perkuliahan, jadi Mahasiswi, nggak harus datang jam tujuh pulaang jam setengah dua, nggak harus les sampe sore, jadi anak kost, jauh dari orang tua, semuanya serba sendiri, dan sebagainya. Lantas setelah merasakannya, apa yang kurasakan? "O ternyata seperti ini rasanya" jawab ku.
Moment dihari pertama Ospek.

The Second Day, 18 agustus 2013, minggu, Hari kedua Ospek (Pkk)
Masih dengan rumus yang sama. Matahari masih enggan untuk menmpakkan diri, terlalu dingin untuk bangun dari tempat tidur, tapi ada sesuatu yang baru lagi yang membuat ku bersemangat. Yaitu bertemu dengan tean-teman baru ku. Haha aku ingin tertawa sebentar saja, rasanya kangen banget dengan teman-teman waktu SMA. Karena apa? Karena saya hanya sendiri disini karena teman-teman saya juga sama seperti saya, sedang berjuang mendaki tempat tertinggi. My friends, I miss u so much.
Lalu ada kejutan apa lagi dihari ini. Ini dia...
Saya cukup bangga dengan diri saya. Bukan bangga karena menjadi ilmuwan seperti Edison. Bukan bangga karena bisa sepintar Einstein. Lantas apa? Karena diantara tiga ribu lebih manusia yang ada disana, saya termasuk salah satunya. Satu plus untuk saya. Hahah Mak dan Abak saya pasti ikut bangga juga. "Harus membahagiakan orang tua," my aim.
Apa yang saya rasakan? Capek? Bersemangat?
"O seperti ini rasanya," jawabannya masih sama dengan hari pertama.
The third day, Senin, 19 agustus 2013, Hari ketiga Ospek (PKK)
Apakah rumusnya masih sama? Hari ini aku memulainya dengan rumus yang bebeda, lebih pagi, lebih bersemangat, lebih dan lebih lagi. Name tag sudah memajang dileher, perlengkapan ospek sudah siap. Gula, beras, susu, buku tulis, dan yang lainnya sudah berbaris indah dalam ransel ku. Sekali lagi, apakah dengan rumus yang sama? Tidak, persyaratannya adalah "TIDAK BOLEH MEMBAWA KENDARAAN." Hah??? Trus gimana caranya agar bisa tepat waktu kekampus tepat jam setengah enam? Jalan kaki? Ah, jauh. Trus, gimana cara pulangnya? Jaln kaki lagi?? Udah udah, tenang dulu. Hari ini kita berangkat pakek mobil dengan Om. Fighting :)
Apa yang aku rasakan hari ini?
"o seperti ini rasanya," jawabannya masih sama.
The Fourth Day, selasa 20 agustus 2013, Hari keempat Ospek (PKK)
Bumi raflesia ini masih hening, bahkan suara azan belum terdengar didaun telinga. Apa lgi matahari, sedang bersinar indah dipenjuru yang lain. Angin pagi menusuk ke ari-ari, tarik menarik dengan selimut lusuh, sesekali terdengar suara nyamuk yang seolah-olah ingin berkata "Bangun kawan, hari ini terakhir ospek, ayo semangat." Masih seperti kemaren, diantar lagi oleh Om. Makasih Om, Om turut bersemangat membantu. :)
Hari ini luar biasa rasanya. Bukan lagi "O, seperti ini rasanya" Tapi "Oh, luar biasa rasanya," Kenapa? Karena hari ini kita tampil jauh berbeda. Jas lab tertata rapi ditubuh, name tag telah menggantung dileher, masker, sarung tangan, dan kawan-kawan sudah menari-nari indah ditempatnya masing. Kita seperti ilmuwan besar, kawan. Seperti para peneliti, seperti profesor, seperti ini.
Haha, aku akan menceritakan pengalaman lucu ini pada siapa saja suatu hari. Bahwasanya, aku telah bertemu dengan kalian, teman baru ku, yang belum ku kenal sebelumnya. Seketika teringat lagi dengan teman SMA, "Sendiri dirantau orang dan dikota besar itu rasanya LUAR BIASA" Kerinci, i miss u.
Trus apa lagi yang membuat hari ini luar biasa? Kakak tingkat. Kakak tingkat yang telah setia menemani selama 2 hari. Yang telah memberi banyak ilmunya pada kami. Terimakasih Kakak.
Kak Novi yang sebelah kiri, Mbak Miyen yang ditengah, Kakak siapakah yang sebelah kanan? Wah saya lupa namanya. Maaf Kak.
Yang lagi duduk itu namnya Kak Ade. Bupati Himamia :)
Yang sebelah kanan itu namanya Kak Medhi, Kak Novi, Mbak dan Kakak itu saya nggak tau namnya.
Kakak-kakak yang bersemangat.
Mbak-mbak nya pun nggak kalah semangat.
Hari yang luar biasa. Para laskar-laskar Kimia pun juga ikut bersemangat.
Dipenghujung acara, kita poto-poto dulu. Sebagai satu dari beberapa l;embar halaman cerita kita.
Himamia, oke.
Kita stop dulu dengan cerita Himamianya. Bumi Raflesia, kau menjadi saksi bisu betapa takutnya aku waktu itu. Senja mulai menguning, burung-burung telah terbang kesarangnya. Semakin lama semakin sepi, malam ikut serta menyambutku, mulai sepi, mulai sepi, mulai sepi. Tak terasa air mata sudah membanjiri pipi, bebrapa puluh orang melihat kearah ku dengan nada yang aneh serta ikut penasaran. Loh kenapa? Seumur hidup belum pernah pulang jam segini, sudah malam, azan sudah berhenti berkumandang, jalanan udah mulai sepi. Bapak-bapak yang duduk diphoto copyan pun ikut bertanya. "Loh kok nangis dek?". Malu memang, mahasiswi, 18 tahun, sudah dewasa, tapi malah menangis dengan berlinangan air mata dipinggir jalan. Oh Bumi Raflesia, kau saksi bisunya betapa aku takut waktu itu. Handphone tiba-tiba ngedrop, nggak bsia menghubungi Om atau Tante untuk menyuruh menjemputku. Jalan kaki? Oh jauh, jauh sekali.
Beberapa kali aku membuka mata ku lebar-lebar. Udah gelap, nggak jelas lagi siapa yang lewat dan siapa yang berlalu dijalan itu. "Oh Om, cepatlah, takut, aku bukan orang sini, belum tau seluk beluk bumi raflesia."
Seketika ingat dengan keluarga kecil ku disana. Mereka pasti khawatir dengan keadaan ku saat ini. Seketika teringat dengan sahabat-sahabat ku, mereka juga tak kalah khawatir dengan keadaan ku. Seketika rindu rasanya, rindu itu tiba-tiba datang menghantui, menambah derai linangan butir bening dipipi. Berkali-kali kuhapus dengan lengan baju ku.
Air mata itu terhenti seketika, ketika Om dan Ponaan kesayangan ku datang menjemput bak Superman. Mereka memang pahlawan super ku. "Loh Kakak kenapa nangis?" Om penasaran dengan mata dan hidung ku yang tealh memerah. Aku hanya menggeleng. "Om jemput kok, lah nangis anak mama" Kemudian Om tertawa.
Akan ku ingat terus selamanya. Bumi Raflesia, kau saksi bisunya :)