Haulia Dwi Putri

Goresan Pena Kehidupan

Sedikit tentang Galau

  


  Pernahkah kalian merasakan hal paling aneh? Amat aneh, aneh sekali. Bayangkan saja, rasanya seperti ini. "Kita lapar tapi nggak mau makan. Kita ngantuk tapi nggak mau tidur." Anehkan?

     Lantas, "Itu namanya apa?". Hahaha mungkin itu yang dikatakan "GALAU." Ya Galau, galau stadium akhir (Hehehe). Loh kenapa galau sih Dwi? Itulah kenapa saya susah menebaknya. Galau soal pacar? loh bukannya saya telah menjomblo selama sekian tahun. Galau karna Gebetan? Haha apalagi yang ini, saya tidak pernah ingin membayangkannya. Lantas, Galau karna apa?

     Saya ingin bercerita sedikit tentang Galau. Beberapa tahun yang lalu saya pernah galau, tepatnya 2 atau 3 tahun yang lalu. Hahaha rasanya lumayan (Lumayan merobek hati). Akan ku ingat terus bagaimana rasanya saat itu. Hahah "hidup itu ganti-gantian" kata-kata itu yang selalu ku ingat. Kau pasti akan merasakan hal yang sama dengan ku suatu saat nanti. Karna "Hidup itu ganti-gantian". Senang itu ganti-gantian, susah itu ganti-gantian, galau itu ganti-gantian. Jadi, jangan pernah merasa bahwa Anda akan selalu diatas. "Hei Tuan yang jauh disana, Hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang diatas, kadang dibawah."

    Hahaha, waktu itu saya masih setia dengan seragam "Putih abu-abu", saya sangat mengharapkan seseorang itu akan menjadi "The something in my life" tapi (Hahahhaha)  "It's impossible Dwi." Lalu apa yang saya rasakan setelah itu? Hahaha saya Galau, galau berkelanjutan. Tapi saya masih bersyukur kepada ALLAH subhanahu wata'ala karena telah menyelamatkan ku dari "Para laki-laki Pemberi Harapan Palsu." "Thanks to ALLAH."

    Dua minggu yang lalu, "Galau" itu datang lagi. Yang ini saya rahasiakan, "kenapa saya bisa galau." yang pasti bukan galau karena pacar (Saya kan jomblo lovers) :D


   Dan baru saja, saya "Galau" lagi. Hahahaha :D (Yang ini rahasia juga) (Ingat ya, bukan karena pacar, saya jomblo lovers)

* Tulisan yang aneh :/

Cerita Dibumi Raflesia

Sabtu, 17 agustus 2013, Hari pertama PKK (Ospek)

    Matahari masih tertidur nyenyak dikaki langit, masih bersembunyi, masih enggan untuk menampakkan diri. Tapi entah kenapa aku sangat bersemangat pagi ini. Bangun pagi-pagi sekali, dingin menusuk ke ari-ari. Loh kenapa? Biasanya jam segini masih tarik menarik dengan selimut, masih sayang meninggalkan bantal lusuh, masih sayang meninggalkan kapas kotak persegi panjang, masih sayang untuk membuka pintu, masih enggan untuk menuruni tangga. Lalu kenapa? Karena ada sesuatu yang telah lama sekali ku tunggu-tunggu. Lalu apa itu?

    Mahasiswi, itulah yang selama ini ku tunggu-tunggu. Waktu masih sekolah, paling suka bercerita tentang perkuliahan, jadi Mahasiswi, nggak harus datang jam tujuh pulaang jam setengah dua, nggak harus les sampe sore, jadi anak kost, jauh dari orang tua, semuanya serba sendiri, dan sebagainya. Lantas setelah merasakannya, apa yang kurasakan? "O ternyata seperti ini rasanya" jawab ku.

   Moment dihari pertama Ospek.



    











The Second Day, 18 agustus 2013, minggu, Hari kedua Ospek (Pkk)

    Masih dengan rumus yang sama. Matahari masih enggan untuk menmpakkan diri, terlalu dingin untuk bangun dari tempat tidur, tapi ada sesuatu yang baru lagi yang membuat ku bersemangat. Yaitu bertemu dengan tean-teman baru ku. Haha aku ingin tertawa sebentar saja, rasanya kangen banget dengan teman-teman waktu SMA. Karena apa? Karena saya hanya sendiri disini karena teman-teman saya juga sama seperti saya, sedang berjuang mendaki tempat tertinggi. My friends, I miss u so much.


    Lalu ada kejutan apa lagi dihari ini. Ini dia...
   Saya cukup bangga dengan diri saya. Bukan bangga karena menjadi ilmuwan seperti Edison. Bukan bangga karena bisa sepintar Einstein. Lantas apa? Karena diantara tiga ribu lebih manusia yang ada disana, saya termasuk salah satunya. Satu plus untuk saya.  Hahah Mak dan Abak saya pasti ikut bangga juga.  "Harus membahagiakan orang tua," my aim.

   Apa yang saya rasakan? Capek? Bersemangat?
"O seperti ini rasanya," jawabannya masih sama dengan hari pertama.

The third day, Senin, 19 agustus 2013, Hari ketiga Ospek (PKK)

   Apakah rumusnya masih sama? Hari ini aku memulainya dengan rumus yang bebeda, lebih pagi, lebih bersemangat, lebih dan lebih lagi. Name tag sudah memajang dileher, perlengkapan ospek sudah siap. Gula, beras, susu, buku tulis, dan yang lainnya sudah berbaris indah dalam ransel ku. Sekali lagi, apakah dengan rumus yang sama? Tidak, persyaratannya adalah "TIDAK BOLEH MEMBAWA KENDARAAN." Hah??? Trus gimana caranya agar  bisa tepat waktu kekampus tepat jam setengah enam? Jalan kaki? Ah, jauh. Trus, gimana cara pulangnya? Jaln kaki lagi?? Udah udah, tenang dulu. Hari ini kita berangkat pakek mobil dengan Om. Fighting :)



    Apa yang aku rasakan hari ini?
"o seperti ini rasanya," jawabannya masih sama.


The Fourth Day, selasa 20 agustus 2013, Hari keempat Ospek (PKK)

   Bumi raflesia ini masih hening, bahkan suara azan belum terdengar didaun telinga. Apa lgi matahari, sedang bersinar indah dipenjuru yang lain. Angin pagi menusuk ke ari-ari, tarik menarik dengan selimut lusuh, sesekali terdengar suara nyamuk yang seolah-olah ingin berkata "Bangun kawan, hari ini terakhir ospek, ayo semangat." Masih seperti kemaren, diantar lagi oleh Om. Makasih Om, Om turut bersemangat membantu. :)

   Hari ini luar biasa rasanya. Bukan lagi "O, seperti ini rasanya" Tapi "Oh, luar biasa rasanya," Kenapa? Karena hari ini kita tampil jauh berbeda. Jas lab tertata rapi ditubuh, name tag telah menggantung dileher, masker, sarung tangan, dan kawan-kawan sudah menari-nari indah ditempatnya masing. Kita seperti ilmuwan besar, kawan. Seperti para peneliti, seperti profesor, seperti ini.

   Haha, aku akan menceritakan pengalaman lucu ini pada siapa saja suatu hari. Bahwasanya, aku telah bertemu dengan kalian, teman baru ku, yang belum ku kenal sebelumnya. Seketika teringat lagi dengan teman SMA, "Sendiri dirantau orang dan dikota besar itu rasanya LUAR BIASA" Kerinci, i miss u.

   Trus apa lagi yang membuat hari ini luar biasa? Kakak tingkat. Kakak tingkat yang telah setia menemani selama 2 hari. Yang telah memberi banyak ilmunya  pada kami. Terimakasih Kakak.


Kak Novi yang sebelah kiri, Mbak Miyen yang ditengah, Kakak siapakah yang sebelah kanan? Wah saya lupa namanya. Maaf Kak.









Yang lagi duduk itu namnya Kak Ade. Bupati Himamia :)
Yang sebelah kanan itu namanya Kak Medhi, Kak Novi, Mbak dan Kakak itu saya nggak tau namnya.












Kakak-kakak yang bersemangat.









Mbak-mbak nya pun nggak kalah semangat.

















  Hari yang luar biasa. Para laskar-laskar Kimia pun juga ikut bersemangat.

  Dipenghujung acara, kita poto-poto dulu. Sebagai satu dari beberapa l;embar halaman cerita kita.





Himamia, oke.

Kita stop dulu dengan cerita Himamianya. Bumi Raflesia, kau menjadi saksi bisu betapa takutnya aku waktu itu. Senja mulai menguning, burung-burung telah terbang kesarangnya. Semakin lama semakin sepi, malam ikut serta menyambutku, mulai sepi, mulai sepi, mulai sepi. Tak terasa air mata sudah membanjiri pipi, bebrapa puluh orang melihat kearah ku dengan nada yang aneh serta ikut penasaran. Loh kenapa? Seumur hidup belum pernah pulang jam segini, sudah malam, azan sudah berhenti berkumandang, jalanan udah mulai sepi. Bapak-bapak yang duduk diphoto copyan pun ikut bertanya. "Loh kok nangis dek?". Malu memang, mahasiswi, 18 tahun, sudah dewasa, tapi malah menangis dengan berlinangan air mata dipinggir jalan. Oh Bumi Raflesia, kau saksi bisunya betapa aku takut waktu itu. Handphone tiba-tiba ngedrop, nggak bsia menghubungi Om atau Tante untuk menyuruh menjemputku. Jalan kaki? Oh jauh, jauh sekali.

Beberapa kali aku membuka mata ku lebar-lebar. Udah gelap, nggak jelas lagi siapa yang lewat dan siapa yang berlalu dijalan itu. "Oh Om, cepatlah, takut, aku bukan orang sini, belum tau seluk beluk bumi raflesia."
Seketika ingat dengan keluarga kecil ku disana. Mereka pasti khawatir dengan keadaan ku saat ini. Seketika teringat dengan sahabat-sahabat ku, mereka juga tak kalah khawatir dengan keadaan ku. Seketika rindu rasanya, rindu itu tiba-tiba datang menghantui, menambah derai linangan butir bening dipipi. Berkali-kali kuhapus dengan lengan baju ku.

  Air mata itu terhenti seketika, ketika Om dan Ponaan kesayangan ku datang menjemput bak Superman. Mereka memang pahlawan super ku. "Loh Kakak kenapa nangis?" Om penasaran dengan mata dan hidung ku yang tealh memerah. Aku hanya menggeleng. "Om jemput kok, lah nangis anak mama" Kemudian Om tertawa.

 Akan ku ingat terus selamanya. Bumi Raflesia, kau saksi bisunya :)

ASAL USUL NAMA SEMERAP


Asal Usul Nama Semerap
                Nama Semerap bukanlah diambil dari nama gunung, kayu, batu, danau, dan lain sebagainya. Tapi nama Semerap diambil dari bahasa jawa kuno yaitu SMREP yang berarti nampak dari jauh (Pandangan dari jauh).
                Semerap sekarang ini sudah banyak perubahan. Pembangunan yang sudah mengikut arus zaman, masyarakat yang mempunyai solidaritas yang tinggi, simpati dan empati yang tinggi, bermasyarakat, ramah, agamis tapi tetap menjaga kelestarian adat dan patuh pada adat istiadat. Masyarakat Semerap sudah bertebaran kepenjuru Nusantara, mulai dari ujung timur (Irian Jaya) sampai ke ujung barat (Aceh), bahkan sudah sampai ke Negeri Jiran, Malaysia dan sudah membuat perkampungan disana yaitu Perkampungan Semerap Malaysia.
                Semerap dahulunya diperintah oleh Empat Rio yaitu Rio Dapsah, Rio Temenggung, Rio Jayo dan Rio Sangajo yang mempunyai wilayah-wilayah tertentu.  Keempat Rio tersebut adalah anak dari orang yang pertama mengajun mengarah Desa Semerap yaitu Nenek Sanggodirajo.
                Nenek Sanggodirajo adalah Nenek moyangnya orang Semerap. Beliau berasal dari Jawa-Mataram, kemudian pindah ke Sumatera Barat (Pagaruyung). Setelah sekian lama, beliau ingin mencari sanak saudara perempuannya yang telah lama meninggalkan tanah Pagaruyung. Lalu beliau mencari sanak saudara perempuannya itu dengan mendaki puncak hingga sampailah beliau di Kerinci.
                Setelah sampai di Kerinci, beliau menetap di Pulau Sangkar kemudian barulah beliau pindah ke Semerap dan menetap di Semerap sampai melahirkan empat orang Rio (Anak).  Keturunan 4 orang Rio inilah orang asli rakyat Semerap yang berhak mewariskan Pusako Rio yang Empat.
                Jadi hubungan Semerap dengan Pulau Sangkarialah satu keturunan yaitu keturunan Sanggodirajo. Pada masa dulu, bila terjadi Sengketa di Semerap (Sengketa Adat) maka untuk mendapatkan undang-undang harus ke Pulau Sangkar. Tetapi sekarang hak untuk menghukum, mengajun, mengarah adalah Hak Depati Ninik Mamak orang Semerap sendiri karena orang Semerap sudah mendapatkan gelar Pusako Depati Mudo yang asalnya dari pulau sangkar.
                Adapun adat istiadat Desa Semerap  adalah setiap satu tahun sekali Rakyat Semerap mengadakan Kenduri Sko yang tujuannya adalah pertama meneliti kembali kalau ada adat yang lapuk dihujan dan lekang dipanas. Kedua, mensyukuri  nikmat yang telah ALLAH berikan. Ketiga, untuk memperingati hari jadinya Depati Mudo di Semerap.
                Adat Desa Semerap ialah keatas sepucuk, kebawah seurat, yang sumbernya ialah :
a.       Adat yang sebenar adat (Diasak layu, dicabut mati) Bersandi sarak, bersandi kitabullah.
b.      Adat  yang diadatkan (Dasar Musyawarah).
c.       Adat nan teradat (Lain lubuk, lain ikan. Lain padang, lian belalang).
d.      Adat istiadat (Turun Temurun).

Adapun tingkat kaum adat ialah :
1.       Depati
2.       Pemangku Adat
3.       Ninik Mamak
Yang cara pengangkatannya ialah :
1.       Depati naik dengan Pusako menghangus beras 100 kerbau seekor.
2.       Ninik mamak dengan menghangus beras 20 kambing seekor.

Dengan adanya ajaran-ajaran adat, khusus generasi penerus bangsa, setidaknya kita bisa membedakan mana yang alur dan mana yang dipatut. Pada hakikatnya bisa menempatkan rakyat Semerap  pada martabat yang tinggi hingga memiliki akhlakul qarimah dan akhlakul mahmudah sehingga kelak dapat menegakkan keadilan yang seimbang dengan arti kata Desa yang aman dan makmur serta bisa menjadi panutan bagi banyak orang.
Janganlah para kaum muda menjadi pembangkang dan pemberontak adat. Pesan terakhir dari tokoh-tokoh adat pada kaum muda (Pemuda), jagalah keadilan didalam Desa.
Raja adil Raja disembah, Raja zalim Raja disanggah, Negeri aman padi menjadi, ternak gemuk rumputnya muda, air jernih ikannya jinak, rantau senang teluk tak susah, raja sekata malin sekitab, dengan arti kata harus ada prinsip sandar menyandar ibarat aur dengan tebing.

* di copas dari Mamak (Abak Abang Ilko) wakteu nak Tugas Bahasa Indonesia
** Selamat membaca, semoga bermanfaat

About Semerap
Desa Ku











Jalen Incong

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Hallo... Perkenalkan, saya Haulia Dwi Putri, konsultan JAFRA Bengkulu. Aku akan membantu kamu menemukan solusi atas permasalahan kulitmu. Silahkan konsultasi dulu sebelum mebeli produk JAFRA yah? Konsultasinya GRATIS. More info : BBM : 7F7EA6CB WA : 087745074419

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates